Siapkan Perwali untuk Tekan Penderita AIDS
Tanggal: Monday, 15 April 2013
Topik: Narkoba


Kaltim Post, 15 April 2013

SAMARINDA - Berbagai terobosan dilakukan Pemkot Samarinda untuk terus menekan angka penyebaran penderita HIV/ AIDS di Kota Tepian, salahsatunya melalui Peraturan Walikota (Perwali) yang segera diterbitkan. Ketika memberikan pembekalan kepada 50 flontir sebaya kerjasama JCI Kaltim dan Yayasan LARAS di Rumah Dinas Wawali, kemarin (14/04), Wakil Walikota Samarinda Nusyirwan Ismail mengatakan adapun isi dari Perwali dimaksud nanti tidak lain lebih menekankan kepada penggunaan kondom yang wajib bagi setiap pengunjung lokalisasi, selain juga mengatur pemeriksaan rutin kesehatan bagi Pekerja Seks Komersial (PSK) setiap 10 hari sekali oleh petugas kesehatan. Menurut Wawali penerbitan Perwali tersebut sebagai penguatan dari Peraturan Daerah (Perda) yang sudah terbit lebih dulu.

“Pengaturan penggunaan kondom memang sudah diatur dalam perda. Tetapi pada kenyataannya ada saja pelanggan yang berani bayar dua kali lipat kepada PSK apabila saat berhubungan tidak mengunakan kondom. Di sini akan kita atur lewat Perwali tadi,” kata Nusyirwan yang juga Ketua Harian Komite Penaggulangan AIDS (KPA) Kota Samarinda.

Pengaturan ini sangat beralasan, karena kata dia dari data yang diterima KPA Samarinda dari 1993 hingga 2013 Februari, sebanyak 2.820 warga Samarinda positif terkena virus HIV, di mana 882 orang terkena penyakit AIDS dan 216 orang meninggal karena penyakit tersebut.

Tentunya belajar dari kasus tadi, Perwali nanti tidak hanya tertuju pada tempat lokalisasi saja, melainkan tempat hiburan malam juga menjadi sasaran sebagai wadah yang rentan terhadap penularan virus HIV.

”Kemungkinan jam buka tutup THM akan lebih kuat diatur lagi dalam Perwali nanti,” urainya didampingi Wakil Ketua TP PKK Samarinda Sri Lestari. Karena untuk menekan angka penyebaran HIV tadi tidak bisa juga serta merta langsung menutup lokalisasi, melainkan harus direncanakan secara matang dengan memikirkan dampak ke depan dari penutupan tersebut. ”Artinya jangan sampai imbas dari penutupan para pekerjanya malah berkeliaran di jalan. Tentu akan menimbulkan risiko yang lebih tinggi lagi dan sulit terkontrol oleh pemerintah,” tegasnya.

Melihat resiko itu, ia berharap bagi PSK yang positif terserang HIV agar segera pensiun lebih dini dari pekerjaannya. Pemerintah sendiri jelasnya bersama organisasi dan yayasan yang peduli terhadap penderita, tentunya siap menampung dalam mencarikan pekerjaan yang layak melalui pemberian modal awal sebagai sumber dana untuk membuka usaha melalui interkoneksi bersama Badan Amil Zakat. ”Karena tujuan kita untuk mengimbangi kota Samarinda agar kedepannya bisa lepas dari penyakit AIDS,” imbuhnya.

Selain itu, Ia juga memberikan apresiasi kepada JCI Kaltim bersama Yayasan LARAS yang telah melakukan kegiatan sosial dalam langkah menyiapkan kader flontir sebaya peduli dan siap turun ke lapangan dalam memberikan pemahaman mengenai bahaya AIDS dan pembelajaran tentang seks edukasi maupun kesehatan reproduksi di kalangan pelajar.

Mengingat 95 persen remaja sudah semestinya mengerti dan mendapat pembelajaran mengenai hal tersebut. Sementara , Farah Flamboyant selaku local presiden JCI Kaltim menambahkan, maksud diadakannya pembekalan kepada 50 flontir yang terdiri dari mahasiswa berbagai universitas ini adalah untuk menciptakan SDM muda yang andal dan mempunyai kelebihan dalam memberikan pemahaman mengenai seks edukasi. ”Jadi kalau pihak sekolah memang mempunyai kurikulumnya, kami siap memberikan SDM-nya, karena memang sasaran mereka para pelajar di sekolah,”pungkasnya. (hms5/ms)

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7531