Miliki Berbagai Penyakit Infeksi, Indonesia Seharusnya Unggul di Riset
Tanggal: Friday, 17 May 2013
Topik: Narkoba


Berita Satu, 16 Mei 2013

Surabaya - Indonesia seharusnya bisa unggul di bidang riset karena didukung sejumlah potensi keuntungan seperti memiliki berbagai tanaman obat dan berbagai penyakit infeksi.

Ketua Lembaga Penyakit Tropis atau Tropical Disease Universitas Airlangga, Prof Nasronuddin mengatakan, dengan adanya beragam penyakit infeksi, Indonesia memiliki banyak mikroba, yang apabila dikendalikan membawa manfaat meningkatkan harkat, mensejahterakan masyarakat melalui produk-produk yang diolah dalam penelitian.

"Indonesia memiliki keuntungan memiliki berbagai penyakit. Negara-negara maju tidak memiliki berbagai penyakit infeksi," katanya saat menerima kunjungan wartawan ke Lembaga Penyakit Tropis di Surabaya, Kamis (16/5).

Lembaga Penyakit Tropis yang menjadi satu dari tiga pusat unggulan iptek di Indonesia ini ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi pada 2012, sebagai pusat unggulan iptek nasional di bidang kesehatan dan obat dengan tema riset biologi molekuler.

Nasronuddin menambahkan, lembaga riset medis Lembaga Penyakit Tropis memiliki 15 studi spesialis antara lain influenza, dengue, HIV/AIDS, hepatitis, malaria, stem cell, human genetics, naturak products, molecular oncology, bee health product development, proteomic, tuberculosis, leprosy, entomology dan intestinal infection.

Ia menjelaskan dalam penelitian lembaganya, sudah dihasilkan enzim untuk menggemukan sapi. Hal ini untuk menjawab tantangan Indonesia teerkait ketersediaan daging sapi, yang faktanya masih mengalami kekurangan daging.

Selain itu, lembaga penyakit sedang mengembangkan terapi stem cell untuk penderita ginjal sehingga tidak lagi memerlukan cuci darah seumur hidup seperti saat ini. Penderita nantinya hanya perlu disuntik peremajaan dengan terapi stem cell.

Di samping itu ada pula pengembangan obat anti virus hepatitis c, terapi sengat lebah dan penularan amoeba lewat air.

Sejak awal berdiri hingga saat ini Lembaga Penyakit Tropis memang bekerjasama dengan konsorsium nasional dan internasional seperti Jepang, Australia, Thailand dan Belanda.

"Meskipun bekerja sama dengan pihak luar, hak paten 100 persennya milik Indonesia dan hanya mentransfer teknologi dari luar," ucapnya.

Salah satu poyek terapi inovatif melalui produk herbal yang juga sedang dikembangkan adalah obat anti demam berdarah. Proyek ini dipercaya berdampak nasional akan menyerap tenaga kerja. Ini dikarenakan bahan utama obat ini bisa ditanam di Indonesia.





[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7611