Ibu-ibu dengan HIV di Indramayu Merasa Diperlakukan Diskriminatif
Tanggal: Wednesday, 22 May 2013
Topik: HIV/AIDS


Detik, 21 Mei 2013

Indramayu, Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ibu-ibu yang terinfeksi HIV (Human Imunnodeficiency Virus) di Indramayu, Jawa Barat harus menanggung beban ganda. Selain harus menjalani pengobatan seumur hidup, juga masih harus menghadapi stigma negatif.

"Kami merasa masih mendapat diskriminasi, masih mendapatkan stigma. Salah satunya susah dapat pekerjaan," kata Wd (25 tahun), ibu rumah tangga asli Indramayu yang mengidap HIV dalam temu media dalam rangka Press Tour Kementerian Kesehatan di Kantor Bupati Indramayu, dan ditulis pada Selasa (21/5/2013).

Wd yang tengah hamil ini merasa orang-orang di lingkungannya menganggap perempuan yang bisa mengidap HIV hanya pekerja seks. Dengan stigma seperti ini, urusan mencari kerja menjadi lebih sulit. Belum lagi untuk menjalani pengobatan secara teratur, ia jadi harus sering bolos kerja.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Nv (33 tahun), ibu rumah tangga yang didiagnosis HIV positif sejak 2010. Ibu dari 2 anak kembar ini mengaku bukan pekerja seks, hanya ibu rumah tangga yang merantau sebagai tenaga kerja Indonesia demi menghidupi suami dan keluarganya.

Ia mengetahui dirinya terinfeksi HIV setelah pulang ke Tanah Air pada 2009, lalu suaminya sakit pada tahun berikutnya. Sang suami didagnosis TB (Tuberculosis), tetapi tidak sembuh dengan pengobatan biasa. Akhirnya ketahuan, suaminya positif HIV dan Nv sendiri telah tertular.

Sama seperti Wd, status sebagai ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) menyulitkannya untuk mencari kerja. Saat ini ia cuma bisa bekerja sebagai tukang setrika dengan upah Rp 20 ribu/hari yang tentunya sangat tidak mencukupi untuk menghidupi keluarga mengingat suaminya sudah tidak produktif karena sakit.

"Sekarang saya susah cari kerja, cuma bisa bantu-bantu setrika. Sehari cuma dapat Rp 20 ribu sementara saya harus jadi tulang punggung keluarga karena suami sudah tidak sempurna," kata Nv.

Adanya perlakuan diskriminatif terhadap ODHA diakui juga oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dr Dedi Rohendi, MARS. Menurutnya, terbatasnya pengetahuan masyarakat sering memunculkan stigma negatif dan perlakuan diskriminatif yang merugikan ODHA.

"Pernah di suatu sekolah, ada seorang guru perempuan mengalami masalah serupa. Suaminya HIV positif, dia (si guru perempuan) sampai disuruh keluar dari tempat kerjanya. Tapi yang ini sudah diselesaikan," kata Dr Dedi.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu memang menunjukkan, kasus HIV-AIDS paling banyak diderita kalangan pekerja seks yakni 460 kasus. Meski demikian, kasus pada ibu rumah tangga tidak kalah banyak yakni 120 kasus atau menempati peringkat ketiga setelah wiraswasta yakni 141 kasus.

Bagaimanapun, ODHA berhak menjalani hidupnya dengan layak. Dengan pengobatan teratur, pengidap HIV juga bisa produktif seperti manusia lainnya. Pandangan bahwa HIV cuma ditularkan melalui perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba juga perlu dikikis, sebab kenyataannya banyak ibu rumah tangga yang jadi korban.

"Saya minta dukungan pemerintah Indramayu untuk meningkatkan kualitas hidup kami. Kebutuhan hidup kami sangat tinggi, untuk menjaga kesehatan itu sangat tinggi (biayanya)," keluh Wd.

Sumber: http://health.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7621