Penderita HIV/AIDS Dibantu Rp 1 Juta untuk Berobat
Tanggal: Wednesday, 29 May 2013
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 28 Mei 2013

PROBOLINGGO
- Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sekarang tidak bisa beralasan tidak punya uang untuk berobat ke klinik VCT. Pasalnya, mereka kini mendapat bantuan Rp 1 juta per orang untuk berobat.

Penderita HIV/AIDS di RSUD Waluyo Jati Kraksaan yang mendapatkan bantuan mencapai 40 orang. Mereka memperoleh bantuan uang Rp 1 juta sebagai biaya transportasi dan berobat. Bantuan tersebut diberikan karena kebanyakan penderita HIV/AIDS yang belum pernah berobat dengan alasan tidak memiliki baiaya.

Wakil Ketua K3S Kabupaten Probolinggo Yuni Nawi mengatakan, bantuan itu ditujukan untuk meningkatkan motivasi bagi ODHA agar berikhtiar dalam berobat. Menurutnya, perlakuan diskriminatif yang mereka alami membuat ODHA sempat kendur semangatnya untuk melanjutkan hidup, ditambah tidak memiliki biaya berobat. Karenanya, Yuni berharap agar masyarakat memperlakukan ODHA dengan baik.

"Dukungan ini erat kaitannya dengan hakikat sebagai masyarakat sosial. Dukungan ini mengarah pada pemberian dukungan berupa penerimaan dalam sebuah kelompok atau lingkungan sehingga merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat," katanya, Selasa (28/5/2013).

Diketahui, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menyatakan, kasus HIV/AIDS termasuk kejadian luar biasa (KLB) karena selama Januari saja terdapat 25 warga yang terinfeksi HIV/AIDS.

"Melihat jumlah 25 penderita HIV/AIDS selama Januari saja ini termasuk KLB. Lha, kalau sebulan saja sebanyak itu, setahun jadi berapa?" ujar dr. Dyah Kuncarawati, kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinkes Kabupaten Probolinggo, belum lama ini.

Jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun di Kabupaten Probolinggo terus meningkat. Sebagai perbandingan, pada 2009 lalu terdapat 39 kasus HIV/AIDS. Pada 2010 menjadi 41 kasus HIV/AIDS. Mulai 2011 kasus HIV/AIDS naik dua kali lipat dibandikan tahun sebelumnya yang mencapai 103 kasus.

Pada 2012, jumlah kasus HIV/AIDS kembali naik menjadi 161 kasus. Dinkes mencatat, sejak kasus HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Probolinggo pada 2000 silam, jumlah pengidapnya sudah mencapai 433 orang. Jumlah penderita paling banyak didominasi Kecamatan Kraksaan sebanyak 57 kasus. Disusul Kecamatan Paiton 50 kasus, Dringu 39 kasus, Besuk 36 kasus, dan Kecamatan Leces 20 kasus. Kalau dilihat dari jenis kelamin, terbanyak diderita pria yakni, 243 orang. Sementara perempuan 190 orang. Dilihat dari status pekerjaan, penderita HIV/AIDS justru didominasi ibu rumah tangga, yakni 93 kasus.

"Sementara penjaja seks komersial sebanyak 42 kasus," ujarnya.

Menurutnya, ibu rumah tangga yang mengidap penyakit HIV/ADIS karena tertular dari suaminya. "Diduga suaminya jajan di luar kemudian menulari istrinya di rumah," ujarnya.

Banyaknya ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS, kata Dyah, berpotensi menulari bayinya baik melalui tali plasenta (pada janin) maupun via air susu ibu (ASI).

"Karena itu ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS disarankan sebaiknya tidak memiliki anak," ujarnya.

Memang ada solusi bagi ibu rumah tangga agar anaknya tidak terkena HIV/AIDS, yakni dengan melahirkan secara caesar. "Selain itu bayi yang dilahirkan, disusui orang lain atau diberi susu formula," ujar Dyah.

Guna menekan pertumbuhan kasus HIV/AIDS, Dyah menyarankan agar warga berhubungan badan hanya dengan pasangannya (suami-istri). Nilai-nilai agama dan moralitas bakal membentengi warga dari perbuatan yang berpotensi meningkatkan kasus HIV/AIDS.

Dinkes juga gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS ke berbagai kalangan. Termasuk kepada anak-anak pelajar agar mereka sedari dini terhindar dari penularan penyakit yang menggerogoti kekebalan tubuh ini.

"Selain sosialisasi, kami juga melalukan pemeriksaan rutin di simpul-simpul yang rentan terjadinya penularan HIV/AIDS," ujar Dyah.

Di antara simpul-simpul itu adalah komunitas gay, lokalisasi (ilegal) PSK, hingga lembaga pemasyarakatan (lapas). Guna melakukan pendampingan terhadap pengidap HIV/AIDS, Dinkes membuka layanan Voluntary Conseling and Testing (VCT).

"VCT kami buka di Puskesmas Maron dan Puskesmas Paiton," ujarnya.

Sementara itu, di RSUD Waluyo Jati milik Pemkab Probolinggo juga dilengkapi Care Support Treatment (CST). CST itu dilengkapi fasilitas untuk perawatan dan pengobatan bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) -sebutan lain bagi pengidap HIV/AIDS. Hal itu dilakukan agar pengidap HIV/AIDS tidak perlu jauh-jauh berobat ke rumah sakit di Malang atau Surabaya.

Bahkan, dalam peresmian VCT di RSUD beberapa waktu lalu, disebutkan satu-satunya RSUD yang memiliki VCT se-Tapal Kuda hanya di RSUD Waluyo Jati Kraksaan.

Sumber: http://regional.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7647