18 Bayi Terpapar AIDS
Tanggal: Monday, 03 June 2013
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 02 Juni 2013

PROBOLINGGO - Perkembangan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Probolinggo semakin mengkhawatirkan.

Dari 493 kasus HIV/AIDS, 18 kasus di antaranya dialami bayi dan anak-anak di bawah lima tahun/balita (usia 0-5 tahun).

“Kami prihatin karena dari 493 pengidap HIV/AIDS sebanyak 18 di antaranya dialami bayi (3,7%),” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, dr Endang Astuti didampingi Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), dr Dyah Kuncorowati, Minggu (2/6) pagi tadi. Bahkan anak-anak balita pengidap HIV/AIDS digerogoti virus yang menyerang kekebalan tubuh itu sejak mereka bayi.

Dyah mengatakan, kasus 18 bayi yang terpapar HIV/AIDS menjadi perhatian serius Dinkes. “Mereka tertulari HIV/AIDS dari ibu kandungnya sendiri. Itu terjadi karena bayi-bayi itu disusui ibunya sehingga tertular HIV/AIDS,” ujarnya.

Seharusnya ibu yang terkena HIV/AIDS tidak menyusui bayinya sejak awal. “Selain itu ibu hamil yang terserang HIV/AIDS harus diberi Anti Retroviral Therapy. Tujuannya untuk menghindari penularan ke bayinya,” ujar dr Dyah.

Sementara itu Kabid Kesehatan Keluarga dan Gizi di Dinkes, Ari Suciati mengatakan, kasus bayi yang meninggal akibat HIV/AIDS memang kecil. “Sejak beberapa tahun terakhir ini dilaporkan hanya satu bayi meninggal akibat HIV/AIDS,” ujarnya.

Ari menambahkan, bayi berusia 12 bulan yang mengidap HIV/AIDS itu meninggal pada 2012 lalu. Sebelumnya pada kurun 2010-2011, tidak dilaporkan adanya bayi meninggal karena HIV/AIDS.

“Untuk menekan angka HIV/AIDS terutama pada bayi, kami melakukan aksi preventif dan sosialisasi,” ujar Ari. Jalur penularan HIV/AIDS pada bayi biasanya ditulari ibunya. Sisi lain, ibu rumah tangga itu ditulari suaminya yang njajan (berhubungan seks) secara bebas di luar rumah.

212 Ibu RT

Dinkes Kabupaten Probolinggo juga prihatin dengan banyaknya ibu rumah tangga (RT) yang terpapar HIV/AIDS. Dari 493 kasus HIV/AIDS, sebanyak 212 di antaranya dialami ibu RT.

Senada dengan Ari Suciati, dr Dyah Kuncorowati mengatakan, ibu RT tertulari suaminya yang berhubungan seks di luar rumah. ”Diduga banyak suami yang njajan di luar kemudian menulari istrinya,” ujarnya.

Analisa dr Dyah itu didasari jumlah pemakai PSK (laki-laki) diyakni lebih banyak dibandingkan jumlah PSK. Dari para PSK itu para laki-laki kemudian menulari istri-istrinya di rumah. ”Akibatnya, ibu rumah tangga yang tidak tahu-menahu bisa tertular HIV/AIDS,” ujarnya.

Analisa ini dibenarkan Badrut Tamam dari Bedug Institute, lembaga pendampingan HIV/AIDS di Probolinggo. ”Taruhlah seorang PSK di Emi (lokalisasi PSK ’Embong Miring/Emi, Red.) dalam sehari bisa melayani 3-5 laki-laki dalam sehari. Kalau PSK itu terkena HIV/AIDS, ia bakal menulari 3-5 ibu rumah tangga,” ujarnya.

Disinggung upaya untuk menekan angka kasus HIV/AIDS, dr Dyah mengatakan, di antaranya dengan kondomisasi. ”Kami membagikan kondom di tempat-tempat PSK mangkal. Harapannya para pria yang menjadi pelanggan PSK mau pakai kondom guna menekan penyebaran HIV/AIDS,” ujarnya.

Dokter Dyah mengakui, program kondomisasi itu awalnya ditentang sebagian kalangan. Dianggap Dinkes justru semakin memfasilitasi para ”hidung belang” agar semakin leluasa ”bermain” dengan PSK.

Dinkes mencatat, sejak kasus HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Probolinggo pada 2000 silam, jumlah pengidap HIV/AIDS terus bertambah setiap tahun. Sebagai perbandingan pada 2009 lalu terdapat 39 kasus HIV/AIDS. Pada 2010 menjadi 41 kasus HIV/AIDS.

“Mulai 2011 kasus HIV/AIDS naik signifikan, naik dua kali lipat dibandikan tahun sebelumnya yakni, 103 kasus,” ujar dr Dyah. Pada 2012 jumlah kasus HIV/AIDS kembali naik menjadi 161 kasus. isa

Sumber
: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7656