Ketika Kondom dan Dangdut Semarakkan Terminal Bus
Tanggal: Wednesday, 05 June 2013
Topik: Narkoba


TEMPO.CO, 04 Juni 2013

Jakarta - Bagaimana upaya Komisi Penanggulangan Aids Grobogan, Jawa Tengah, mencegah penularan HIV/Aids di kalangan pekerja luar kota? Mereka menggelar pentas musik dangdut di terminal bus Purwodadi. Acara berlangsung di tengah deru suara bis dan asap knalpot, Selasa, 4 Juni 2013. Penumpang bus pun merapat ke panggung, kemudian anggota Komisi memperagakan penggunaan kondom. “Caranya begini, untuk memakainya,” kata Rina Nur Afni, dari Komisi Penanggulangan AIDS Grobogan, sembari memasukkan kondom ke jari telunjuknya. Suara cekikikan penumpang perempuan pun terdengar.

Menurut Rina, terminal bus untuk sosialisasi pencegahan penularan HIV/ Aids sangat tepat karena beragam alasan. “Lebih dari 60 persen penyakit HIV/AIDS ditularkan oleh pekerja dan tenaga buruh luar kota yang jauh dari keluarga,” katanya. Selain itu, mereka juga bisa meraih sasaran supir bis dan awaknya. “Penggunaan kondom dapat memutus penularan AIDS/HIV dan perilaku hidup sehat.”

Tiap hari jumlah penumpang yang masuk ke terminal bus Purwodadi mencapai sekitar 500 orang. Sekitar 60 persennya berprofesi sebagai tukang dan buruh bangunan yang merupakan pekerja boro (pekerja luar kota). “Pada hari Sabtu, terjadi peningkatan penumpang sampai dua kali lipat,” ujar Suparno, Kepala Terminal Purwodadi.

Komisi membagikan 2.000 kondom di dalam bus kepada pekerja boro dan awak bus. “Saya dapat lima kondom,” kata Rukan, sopir bus jurusan Kudus-Purwodadi. Rukan mengaku sudah lama mendengar penyakit Aids, tapi dia sama sekali tak tahu cara penularannya. “Ceritanya penyakit itu mematikan dan belum ada obatnya,” kata Rukan. Namun, proses penularannya tidak banyak yang tahu.

Petugas Komisi juga membagikan kondom di loket penjualan tiket untuk penumpang. Endang, warga Blora, sangat mendukung sosialisasi penanggulangan HIV/Aids digelar di terminal bus. “Jika perlu petugas menjelaskan bagaimana seseorang bisa mendeteksi diri kalau dia terkena AIDS,” ujar Endang.

Dari data KPA Grobogan mulai 2002 hingga 2012, penderita HIV/Aids di Grobogan meningkat. Bahkan, Grobogan merupakan urutan kelima tertinggi memiliki penderita HIV/Aids di Jawa Tengah. Sepanjang 10 tahun terakhir ada 304 penderita dengan 66 kasus meninggal dunia. Pada tahun 2012 saja, terdapat 87 kasus dan 13 orang meninggal dunia. “Pada Januari hingga Maret 2013, sudah terdapat 14 kasus baru. Penyebab penularannya 81,9 persen karena hubungan seks bebas dengan berganta-ganti pasangan,” kata Rina.

Sumber: http://www.tempo.co




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7664