Obat ini kurangi risiko HIV/AIDS hingga 50 persen
Tanggal: Tuesday, 18 June 2013
Topik: HIV/AIDS


Merdeka.com, 14 Juni 2013

Ahli kesehatan Amerika menyarankan penggunaan obat AIDS baru untuk orang-orang yang sering menyuntikkan narkoba seperti heroin dan methamphetamine.

Setelah meninjau hasil studi yang dilakukan oleh PCentres for Disease Control and Prevention (CDC) dan pemerintah Thailand, pejabat kesehatan Amerika menyarankan bahwa tenofovir - obat pencegahan HIV/AIDS - harus dikonsumsi setiap hari oleh pengguna narkoba.

Sebagaimana dilansir CBS News, obat tersebut juga telah disetujui penggunaannya untuk para pria gay yang berisiko tinggi terkena AIDS dan pasangan heteroseksual. Untuk melakukan studi ini, para ilmuwan melibatkan lebih dari 2.400 pengguna narkoba di sebuah klinik di Bangkok, Thailand.

Setengah dari kelompok studi diberi dosis harian tenofovir, yang dijual sebagai Viread, sementara separuh lainnya diberi plasebo. Setelah mengikuti pasien selama empat tahun, para peneliti menemukan bahwa 17 orang yang mengonsumsi obat pencegahan tetap tertular HIV, sementara 33 orang yang memakai plasebo juga terinfeksi. Kesimpulannya, obat ini mengurangi risiko HIV/AIDS hingga 50 persen.

Dr Jonathan Mermin, direktur pencegahan AIDS untuk CDC, mengatakan kepada CBS News bahwa studi ini melengkapi hasil penelitian mereka tentang bagaimana obat HIV dapat melindungi orang yang berisiko tinggi terinfeksi. Tenofovir, obat yang digunakan dalam penelitian ini, harganya hanya USD 360 (Rp 3,4 juta) per tahun per pasien.

Para ilmuwan juga bekerja pada vaksin HIV, tetapi pemerintah Amerika baru-baru ini menghentikan uji coba vaksin eksperimental setelah kajian independen menemukan itu tidak mencegah infeksi HIV atau mengurangi jumlah HIV dalam darah.

Sumber: http://www.merdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7675