abtu (15/6).

''Lima tahun ke depan kasus HIV/AIDS di Bali diprediksi pecah kemudian stabil dan menurun,'' ujarnya.

Menurutnya, ada program baru yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan baru serta mengorek akar dari kasus gunung es HIV/AIDS. Program baru tersebut adalah survei perilaku cepat di mana dari 400 responden yang menjadi sampel tahun 2012 dan 2013 menunjukkan pembelian kondom bagi para gay, waria dan LSL (lelaki suka lelaki/homo) meningkat. Di sisi lain, mereka yang melakukan tes HIV juga meningkat tajam, yaitu dari gay 85%, LSL lainnya 80% dan kalangan waria 85%.

Christian menyebutkan, makin sadarnya gay, waria dan kaum homoseksual melakukan tes HIV serta makin banyaknya layanan untuk HIV tersebar di seluruh pelosok, menyebabkan terjadinya peningkatan kasus HIV/AIDS yang ditemukan. Ia mengatakan, orang dengan faktor risiko menjadi lebih nyaman untuk memeriksakan diri karena petugas layanan saat ini lebih ramah dibandingkan waktu dulu. ''Kalau dulu, petugas di layanan malahan menanyakan hal yang kurang perlu ditanyakan kepada mereka yang mau memeriksakan diri. Tetapi sekarang jauh berbeda. Mereka sebagian besar lebih banyak memberikan konseling sesuai dengan konsep layanan prima dan tidak menanyakan sesuatu di luar layanan,'' ujarnya terkait pemakaian kondom di kalangan gay, waria dan LSL yang saat ini meningkat sangat menggembirakan.

Menurut Christian, kalau dulu penggunaan kondom hanya sebatas 20%, saat ini meningkat sampai 68 persen.

Hanya, menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali drh. Made Suprapta, angka 68 persen kesadaran memakai kondom di kalangan pelaku seks berisiko dalam hal ini PSK dan pelanggannya, masih belum stabil. Dari hasil survei, pemakaian kondom saat transaksi seks PSK terjadi pada transaksi terakhir. ''Jadi, dari tiga transaksi, pemakaian kondom terjadi di transaksi terakhir. Diharapkan, setiap transaksi bisa terus memakai kondom sehingga angka 68 persen ini stabil dan meningkat,'' ujarnya.

Ketidakstabilan pemakaian kondom ini, menurutnya, diakibatkan masih enggannya pelanggan PSK memakai kondom dengan berbagai alasan seperti tidak nyaman atau tidak enak.

Sementara itu, Dewa Suyetna dari Yayasan Kerti Praja mengungkapkan, saat ini semua program berjalan sesuai dengan harapan. Ia menyebutkan, dahulu untuk melaksanakan program memerlukan biaya sangat banyak per satu pekerja seks. ''Dulu kesadarannya sangat rendah untuk memeriksakan diri ke layanan. Akan tetapi sekarang, hal itu sangat mudah dilaksanakan. Apalagi dengan adanya peran KPA untuk memfasilitasi dan memediasi dengan membentuk pokja-pokja di Denpasar,'' ujarnya.

Suyetna menegaskan, saat ini banyak klien dari pekerja seks yang menyadari betapa pentingnya kesehatan diri mereka. ''Kalau dulu, kita melakukan sosialisasi di pekerja seks sulitnya minta ampun. Jangankan membagikan kondom, memberikan sosialisasi tentang HIV/AIDS saja sulit sekali. Sedangkan sekarang, itu sangat mudah dilakukan,'' ujarnya. Bahkan, imbuhnya, para bos mucikari yang dulu kurang kooperatif, saat ini pun sangat membantu program penanggulangan HIV/AIDS di Bali. ">


Lima Tahun ke Depan Bali Diprediksi Alami Ledakan Kasus HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 18 June 2013
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 17 Juni 2013

Bali - Makin gencarnya program-program dalam menangani kasus HIV/AIDS di Bali serta meningkatnya kesadaran masyarakat dengan faktor risiko menjalani tes pemeriksaan HIV, membuat kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Bali terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kondisi ini menyebabkan kasus HIV/AIDS di Bali diprediksi mengalami ledakan kasus selama lima tahun ke depan. Hal ini dipaparkan Direktur Yayasan Gaya Dewata Christian Supriyadinata dalam acara media gathering di Bali Coffee 63 Jalan Veteran Denpasar, Sabtu (15/6).

''Lima tahun ke depan kasus HIV/AIDS di Bali diprediksi pecah kemudian stabil dan menurun,'' ujarnya.

Menurutnya, ada program baru yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan baru serta mengorek akar dari kasus gunung es HIV/AIDS. Program baru tersebut adalah survei perilaku cepat di mana dari 400 responden yang menjadi sampel tahun 2012 dan 2013 menunjukkan pembelian kondom bagi para gay, waria dan LSL (lelaki suka lelaki/homo) meningkat. Di sisi lain, mereka yang melakukan tes HIV juga meningkat tajam, yaitu dari gay 85%, LSL lainnya 80% dan kalangan waria 85%.

Christian menyebutkan, makin sadarnya gay, waria dan kaum homoseksual melakukan tes HIV serta makin banyaknya layanan untuk HIV tersebar di seluruh pelosok, menyebabkan terjadinya peningkatan kasus HIV/AIDS yang ditemukan. Ia mengatakan, orang dengan faktor risiko menjadi lebih nyaman untuk memeriksakan diri karena petugas layanan saat ini lebih ramah dibandingkan waktu dulu. ''Kalau dulu, petugas di layanan malahan menanyakan hal yang kurang perlu ditanyakan kepada mereka yang mau memeriksakan diri. Tetapi sekarang jauh berbeda. Mereka sebagian besar lebih banyak memberikan konseling sesuai dengan konsep layanan prima dan tidak menanyakan sesuatu di luar layanan,'' ujarnya terkait pemakaian kondom di kalangan gay, waria dan LSL yang saat ini meningkat sangat menggembirakan.

Menurut Christian, kalau dulu penggunaan kondom hanya sebatas 20%, saat ini meningkat sampai 68 persen.

Hanya, menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali drh. Made Suprapta, angka 68 persen kesadaran memakai kondom di kalangan pelaku seks berisiko dalam hal ini PSK dan pelanggannya, masih belum stabil. Dari hasil survei, pemakaian kondom saat transaksi seks PSK terjadi pada transaksi terakhir. ''Jadi, dari tiga transaksi, pemakaian kondom terjadi di transaksi terakhir. Diharapkan, setiap transaksi bisa terus memakai kondom sehingga angka 68 persen ini stabil dan meningkat,'' ujarnya.

Ketidakstabilan pemakaian kondom ini, menurutnya, diakibatkan masih enggannya pelanggan PSK memakai kondom dengan berbagai alasan seperti tidak nyaman atau tidak enak.

Sementara itu, Dewa Suyetna dari Yayasan Kerti Praja mengungkapkan, saat ini semua program berjalan sesuai dengan harapan. Ia menyebutkan, dahulu untuk melaksanakan program memerlukan biaya sangat banyak per satu pekerja seks. ''Dulu kesadarannya sangat rendah untuk memeriksakan diri ke layanan. Akan tetapi sekarang, hal itu sangat mudah dilaksanakan. Apalagi dengan adanya peran KPA untuk memfasilitasi dan memediasi dengan membentuk pokja-pokja di Denpasar,'' ujarnya.

Suyetna menegaskan, saat ini banyak klien dari pekerja seks yang menyadari betapa pentingnya kesehatan diri mereka. ''Kalau dulu, kita melakukan sosialisasi di pekerja seks sulitnya minta ampun. Jangankan membagikan kondom, memberikan sosialisasi tentang HIV/AIDS saja sulit sekali. Sedangkan sekarang, itu sangat mudah dilakukan,'' ujarnya. Bahkan, imbuhnya, para bos mucikari yang dulu kurang kooperatif, saat ini pun sangat membantu program penanggulangan HIV/AIDS di Bali.

Berdasarkan data, hingga bulan Maret tahun 2013 ditemukan 369 kasus HIV/AIDS dengan 12 kasus kematian. Total kasus dari tahun 1987 adalah 7.551 kasus dengan total 514 orang meninggal akibat HIV/AIDS. (kmb24)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7683