Gay Muda Bermunculan di Kota Cirebon
Tanggal: Sunday, 30 June 2013
Topik: Narkoba


TEMPO.CO, 27 Juni 2013

Cirebon - Semakin banyak anak muda yang melakukan penyimpangan seksual. Pergaulan menjadi penyebab utamanya. Temuan itu diungkapkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Sri Maryati Dahrin, Rabu 26 Juni 2013. "Sekarang ini cukup banyak terdata gay gay muda yang beraktivitas di Kota Cirebon," katanya. Usia termuda gay tersebut bahkan mencapai 13 tahun.

Jumlah tersebut, lanjut Sri, diketahui berdasarkan data yang ada di klinik Intan, salah satu klinik rujukan penderita IMS dan HIV di Kota Cirebon. "Berdasarkan data jumlah penderita penyakit infeksi menular seks (IMS) sejak 2006 hingga 2012 di klinik tersebut sebanyak 2.464 kasus," katanya. Adapun usia penderitanya berkisar antara 13 hingga 54 tahun.

Tragisnya penderita IMS ini sebanyak 70 persennya berusia muda yaitu berkisar antara 13 hingga 30 tahun. Sementara anak-anak muda yang berperilaku seks menyimpang atau menjadi gay-gay muda jumlahnya ada sekitar 30 persen dari penderita IMS yang terdata di klinik Intan.

Sedangkan jumlah gay yang beraktivitas di Kota Cirebon, menurut Sri, jumlahnya bisa mencapai 900 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 70 persennya merupakan gay-gay muda. Seorang gay muda bahkan ada yang masih duduk di bangku SMP.

Dijelaskan Sri, banyak faktor yang akhirnya menyebabkan anak-anak muda ini terjerumus dalam perilaku seks menyimpang. Diantaranya karena pergaulan dan faktor lingkungan, ada yang pernah menjadi korban pelecehan seksual serta factor genetic. "Namun yang terbesar saat ini disebabkan karena factor pergaulan dan lingkungan," katanya.

Sri mengungkapkan ada kecenderungan jika saat ini pergaulan diantara sesama jenis merupakan gaya hidup. Karenanya, lanjut Sri, pihaknya sudah mengusulkan kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon untuk mengalokasikan anggaran untuk pendidikan kesehatan reproduksi.

Dengan pendidikan seks sejak dini diharapkan bisa menghindarkan anak-anak untuk terjerumus ke dalam pergaulan yang menyimpang. "Orangtua pun harus membentengi anak-anaknya dengan pendidikan seks sejak usia dini, yaitu saat anak berusia sekitar 3 tahun," katanya.

Minimal anak diberitahu daerah mana saja termasuk daerah privacy yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Selanjutnya Sri pun mengungkapkan dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pemeriksaan HIV/AIDS ke sekolah-sekolah. "Namun bagi yang tidak ingin diperiksa, ya kami tidak memaksakan," katanya.

Sedangkan untuk ibu hamil pun sudah diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan HIV/AIDS sejak dini. Tujuannya menurut Sri tidak lain merupakan upaya preventif untuk membongkar fenomena gunung es yang mengungkapkan jika data penderita HIV/AIDS sebenarnya lebih banyak daripada data yang ada.

Sumber: http://www.tempo.co




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7705