Bahaya AIDS Terus Disosialisasikan
Tanggal: Sunday, 30 June 2013
Topik: Narkoba


Kaltim Post, 30 Juni 2013

SANGATTA - Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Abdulah Fauzi mengatakan sosialisasi tentang pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS patut terus mendapatkan dukungan dari semua pihak. Apalagi target sosialisasi mencakup semua segmentasi, termasuk juga para tenaga kerja sektor pertambangan.

Karena di sektor pertambangan, menurut Fauzi potensi penyebarluasan HIV-AIDS sangat mungkin terjadi. “Karena semua (transaksi seksual) bisa terjadi karena punya uang,” kata Fauzi mewakili Bupati Kutim pada acara malam ramah tamah Pemkab Kutim dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutim dan manajemen PT KPC di Tanjung Bara Club, Sangatta Utara.

Kegiatan yang digelar Rabu (26/6) lalu itu, Fauzi menganggap momen-momen sosialisasi seperti ini harus lebih ditingkatkan. Agar masyarakat lebih memahami. Juga dibutuhkan program untuk mengingatkan warga termasuk para tenaga kerja tentang pencegahannya. “Agar semua pihak paham bahwa AIDS merupakan penyakit berbahaya yang belum ditemukan obatnya,” sebutnya.

Dia menginginkan kerja sama semua pihak mulai Pemkab Kutim, KPAN, KPAD Kutim serta seluruh perusahaan dan masyarakat. Pada akhir sambutannya, Fauzi tak lupa menyampaikan saran kepada KPAN dan KPAD untuk menambah program serupa di sektor lainnya seperti perkebunan sawit.

Kemudian dia berharap pihak swasta seperti PT KPC bisa menjadi pelopor program pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS Selain jajaran pejabat lingkup Pemkab Kutim, manajemen PT KPC, kegiatan ramah tamah juga dihadiri Sekretaris KPAN Dr Kemal N Siregar MPH MA PhD, pengurus KPAD Kutim, pimpinan perusahaan kontraktor pertambangan serta organisasi bidang kesehatan, OASE.

Sebelum sesi dialog, Kemal N Siregar mengatakan kepeloporan perusahaan terkait upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS patut dicontoh. Kemudian akan lebih baik lagi jika terealisasi hingga wilayah Kaltim secara menyeluruh. Intensitas upaya tersebut, katanya, perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu. “Karena setiap di wilayah transit pasti ada spot (lokalisasi).

Salah satu penyebabnya adalah mobile man with money. Sehingga para lelaki yang jauh dari rumah dan memiliki uang, rawan dengan transaksi seksual, ibaratnya ada gula ada semut. Tetapi kita jangan lari dari masalah, tetapi (masalah ini) harus ditanggulangi,” jelasnya. Untuk itu diperlukan pemetaan masalah. Kemudian melalui program kemitraan semua pihak, baik itu pemerintah, swasta dan masyarakat, masalah penyakit moral bisa ditanggulangi.

Sementara itu Utoro, mewakili manjemen PT KPC menyatakan akan terus mendukung program KPAN dan KPAD bersama Pemkab Kutim. Dukungan sudah dilakukan oleh pihaknya sejak 8 tahun lalu. Sebab PT KPC yang membawahi 160 perusahaan kontraktor sangat peduli pada kesehatan lingkungan kerja.

“Menurut kami penyakit moral mencakup AIDS, narkoba dan selingkuh. Sehubungan hal itu KPC turut berperan aktif memerangi AIDS. Salah satu contohnya adalah manajemen KPC bersedia dites HIV AIDS sebagai bentuk mendukung gerakan pemberantasan dan penanggulangan. Kemudian dijadikan kebijakan perusahaan, karena 80 persen karyawan mendukung dan ikut dites,” jelasnya.(kmf4/che)

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7717