Layanan Buruk, Pasien HIV Bingung Berobat
Tanggal: Thursday, 11 July 2013
Topik: HIV/AIDS


Suaramerdeka.com, 10 Juli 2013

KLATEN
- Ratusan pengidap HIV/ AIDs atau orang dengan HIV/ AIDs (ODA) di Kabupaten Klaten bingung berobat. Penyebabnya, layanan kesehatan tidak baik karena masih banyak data penderita yang bocor.

Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/ AIDs (KPA) Kabupaten Klaten, dokter Kuswandjana M Kes mengatakan di Klaten ada 200 pengidap HIV/ AIDs. ''Jumlah bisa terus membengkak jika tidak ada perhatian serius,'' katanya, Selasa (9/7) saat audiensi dengan Dinas Kesehatan dan DPRD Klaten.

Rombongan diterima Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, dokter Cahyono Widodo dan Ketua DPRD, Agus Riyanto SH. Menurut Kuswandjana, dari pengidap sebanyak itu hanya ada 30 orang yang memilih penanganan di rumah sakit wilayah Klaten.

Sisanya memilih berobat ke Solo atau Yogyakarta sebab merasa lebih nyaman. Kondisi itu dipicu belum adanya payung hukum yang mengatur hak ODA dalam bidang pelayanan kesehatan. Padahal di banyak kabupaten dan kota, saat ini sudah ada aturan hukum yang menjamin hak ODA. Baik berupa Perda atau payung hukum lain.

Dia mencontohkan di Semarang dan Yogyakarta, aturan hukum sudah dibuat dan dijalankan sehingga ODA mendapatkan hak sebagaimana mestinya. Selain itu, jumlah bantuan anggaran tahun 2015 terancam habis. Padahal selama ini jumlah risiko terus meningkat di Klaten. Pendamping ODA dari Yogyakarta, Kunti menjelaskan banyak orang yang dalam dampinganya takut dengan pelayanan di Klaten. ''Sebab banyak rahasianya bocor,'' jelasnya.

Padahal semestinya, ODA dilindungi rahasianya. Dengan perlakuan itu membuat ODA tidak nyaman dan percaya diri. Meskipun di Klaten harga obat hanya Rp 19.000 dan di Yogyakarta Rp 77.000 tetapi di Klaten layanan dianggap tidak nyaman. Salah seorang anggota komunitas ODA yang enggan disebutkan namanya mengaku selama ini kebocoran rahasia itu membuat rekan-rekannya tidak nyaman. ''Kami sangat berharap, ODA tidak dikucilkan sebab tidak berbahaya,'' ungkapnya.

Selain itu, mestinya ODA mendapatkan support dari orang terdekat agar bisa bertahan dan mendapatkan haknya. Sementara aktivis SPEK-HAM, Irfan menjelaskan di Klaten risiko penyebaran HIV/ AIDs sangat besar. Sebab dari semua penderita mayoritas pada usia produktif. Hal itu harus menjadi perhatian semua pihak untuk mencegah sejak dini.

Menurut Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, dokter Cahyono Widodo, untuk masalah anggaran bantuan dan payung hukum akan mendapat perhatian dan diupayakan ada tambahan. Sementara berkaitan dengan buruknya pelayanan akan segera ditindaklanjuti oleh Dinas dan dikoordinasikan dengan rumah sakit.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7736