Dilema Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) Ikut Puasa Terikat Ketentuan Minum Obat 12 J
Tanggal: Thursday, 11 July 2013
Topik: HIV/AIDS


Sumut Pos, 11 Juli 2013

Ramadan telah datang, seluruh umat Islam diwajibkan untuk menjalankan puasa, baik dari anak-anak sampai orangtua. Bahkan bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan disarankan untuk mencoba menjalankan puasa. Namun bagaimana bila niat berpuasa harus terhalang dengan ketentuan minum obat setiap 12 jam sekali.

Menjalankan puasa mulai dari sebelum fajar sampai matahari terbenam memakan waktu sekitar 13 sampai 14 jam. Namun, ketentuan meminum obat antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dijadwalkan setiap 12 jam, membuat tidak sedikitnya ODHA yang khawatir untuk mengikuti puasa. Hal ini juga yang dialami oleh aktivis wanita untuk Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Klinik Voluntary Conseling and Testing (VCT) untuk deteksi HIV.

Adalah, Maria Lili Hasibuan (38). Ibu dari dua orang anak ini terlihat letih. Dengan segelas air putih ia ringankan rasa lelahnya setelah seharian bekerja mengunjungi VCT di Puskesmas Glugur Darat, RS Imelda dan RSUP Haji Adam Malik Medan untuk melakukan konseling dan merujuk beberapa pasien IMS. Hal ini merupakan aktivitas sehari-harinya selama bekerja menjadi Konselor Gerakan Sehat Masyarakat (GSM) untuk menjangkau dan mendampingi komunitas LGBT sejak tahun 2009 lalu.

Usai menyegarkan diri dengan segelas air putih, Maria bercerita pengalamannya selama terinfeksi HIV/AIDS tahun 2006, mengonsumsi ARV sejak 2007 dan mengikuti ibadah puasa Ramadan. “Tahun 2006 saya menjadi ODHA dan pada 2007 tepat pada bulan 5 saya mengkonsumsi ARV. ARV itu obat untuk menahan laju perkembangan HIV dan aturan minum obat ARV sangat ketat karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah,” katanya.

Maria melanjutkan, meskipun sangat ketat, ia tetap mencoba untuk ikut menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, meskipun penuh hati was-was. “Awalnya saya was-was juga, karena ketentuan minum obat ARV ini sangat ketat, tapi setelah konsultasi sama dokter, saya mencoba untuk berpuasa dan mengubah waktu minum obat. Biasanya jam 9 pagi dan 9 malam menjadi jam 5 pagi dan jam 6, ada kelang waktu satu sampai 2 jam tapi kata dokter itu tidak masalah,”ujar wanita yang juga menjadi Dewan Nasional, Jaringan Aksi Perubahan Indonesia (JAPI) ini.

Menurutnya, puasa adalah sebuah ibadah yang penuh dengan berkah sehingga dengan niat yang ikhlas, maka segala orang yang memiliki masalah dengan kesehatan, khususnya ODHA akan diberi kekuatan. “Sekarang niatnya, kalau kita yakin pasti bisa, tapi harus berkonsultasi dahulu dengan dokter atau yang mengerti. Karena kalau dia masih baru saja mengkonsumsi ARV kemungkinan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu,” ujarnya.

Tambahnya, menjelang puasa ini, banyak ODHA yang menanyakan hal ini kepadanya. Bulan Ramadan memang tidak jarang membuat ODHA dilema. “Kalau mau memasuki bulan Ramadan, memang banyak sekali teman-teman yang bertanya. ‘Gimana boleh gak kita puasa? Lewat dari 2 jam, gimana dengan keadaan kita?’ Banyak yang dilema juga, tapi dokter bilang ini tidak ada masalah,” katanya.

Lanjutnya, ketakutan tersebut disebabkan karena doktrin mengenai meminum obat ARV yang tidak boleh terlambat. “Kita selama inikan didoktrin, jika waktu aturan minum diubah, maka akan membuat konsentrasi obat di dalam darah menurun. Kondisi itulah yang dikhawatirkan memberi peluang bagi HIV untuk memperbanyak diri di dalam darah. Padahal kalau hanya 2 jam saja, kata dokter tidak masalah. Mungkin itu agar kita rajin meminum obat,” katanya.

Tambahnya, Maria mengaku tidak pernah merasakan kesakitan atau lelah karena berpuasa. “Saya buktinya, sudah 6 tahun ini ikut puasa, tidak ada sedikitpun ganguan. Malah badan tambah segar karena puasa itu memang banyak hikmahnya buat kesehatan. Contohnya saja, ARV inikan sedikit asam kadang asam lambung saya sakit. Tapi selama puasa, ‘gak pernah sakit ini perut,” ujarnya.

Lanjut Maria, kondisi tubuh adalah faktor penentu apakah seseorang ODHA mampu berpuasa atau tidak dan juga dengan niat dalam diri sendiri. “Pertama itu yang terpenting, tubuh kita fit dan yang kedua niat, kalau tidak niat yah sama saja. Orang yang selama ini rajin minum obat dengan teratur, kalau hanya telat 2 jam saja per hari, saya rasa tidak masalah,” katanya.

Lanjutnya, kesehatan ODHA dapat menurun karena karena semangatnya yang juga menurun, sehingga dengan dukungan keluarga, meskipun mengikuti puasa Ramadan akan tetap sehat. “Intinya itu, dukungan keluarga. Syukurnya saja keluarga saya sangat mendukung dan perhatian dengan saya. Saya itu, aktivitasnya sangat full hingga malam, makanya saya susah bangun pagi. Kalau tidak karena keluarga, mungkin meminum obat ini saya sudah sangat tidak teratur. Saya sering dibangunkan pagi hanya agar minum ARV,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengharapkan agar keluarga dan masyarakat tidak menjahuhi atau merendahkan ODHA. “ODHA itu bisa sehat kalau ada dukungan dan perhatian bukan dijauhi. Untuk ODHA, dokter yang terbaik itu adalah kita, yang tahu kondisi kita itu adalah kita, bukan orang lain,” katanya.

Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam, Umar Zein, mengatakan bahwa mengikuti puasa tidak akan mengganggu kesehatan ODHA. “Obat itu, punya masa kerja dalam tubuh, terlambat sekitar 2 jam tidak akan menjadi masalah yang penting obat selalu diminum rutin. Intinya, jangan mengobati sendiri,” ujarnya.

Lanjutnya, yang terpenting, ODHA harus patuh dalam mengkonsumsi obat, yakni setiap sahur dan saat berbuka puasa. “Hal terpenting harus patuh. Lakukan konsultasi dengan yang mengerti, puasa itu kewajiban malah puasa itu membuat tubuh menjadi tambah sehat. Selalu cari informasi bagaimana obat ARV ini atau lainnya,” katanya. (*)

Sumber: http://www.hariansumutpos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7741