Kasus HIV & AIDS Ibu Rumah Tangga di DIY Terbanyak Kedua
Tanggal: Tuesday, 16 July 2013
Topik: HIV/AIDS


REPUBLIKA.CO.ID, 15 Juli 2013

YOGYAKARTA -- Data dari Dinas Kesehatan DIY menunjukkan kasus HIV&AIDS pada ibu rumah tangga di DIY terbanyak kedua setelah wiraswasta. Dari laporan data sampai dengan Maret 2013 kasus HIV & AIDS berjumlah 2066 kasus.

Apabila dilihat dari pekerjaannya terbanyak pada wiraswasta yakni 277 kasus, kemudian ibu rumah tangga sebanyak 232 kasus, profesional non medis sebanyak 157 kasus, lain-lain sebanyak 150 kasus, buruh kasar 136 kasus, dan penjaja seks 126 kasus.

Menurut Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS DIY Ana Yuliastanti, kasus HIV&AIDS sampai Maret 2012 sebanyak 1686 kasus. Kasus terbanyak pada profesional non medis sebanyak 199 kasus.

Selanjutnya pada wiraswasta sebanyak 188 kasus, ibu rumah tangga sebanyak 175 kasus, narapidana sebanyak 122 kasus, penjaja seks sebanyak 116 kasus, dan seterusnya.

Dia mengatakan kasus HIV&AIDS di Indonesia pertama kali tahun 1987-an dan penyebarannya melalui homoseksual, selanjutnya periode 1997-1998 kasus HIV&AIDS banyak terjadi karena penularan lewat jarum suntik (penasun) narkoba. Kemudian ada program harm reduction hingga tahun 2007 Dengan adanya harm reduction persoalan HIV & AIDS karena penasun bisa ditekan.

Setelah itu penyebaran HIV & AIDS melalui transmisi seksual mulai meningkat lagi dan sejak tahun 2007 yang terkena dampaknya ibu rumah tangga.

"Pencegahan penyebaran HIV & AIDS melalui transmisi seksual selama ini intervensinya hanya pada pengguna seks dengan sasaran pekerja seks. Sedangkaan 'pembeli' seks belum pernah disasar. Padahal para pekerja seks posisi tawarnya masih rendah. Harusnya intervensi program kepada laki-laki baik masyarakat secara umum maupun 'pembeli' seks," kata dia.

Karena tidak ada kelompok 'pembeli' seks, masih kata Ana, sulit untuk menyasar mereka. Seharusnya strateginya diubah yakni pemberdayaan perempuan dengan melakukan sosialisasi ke PKK, kelompok dasa wisma tentang bagaimana dampak penularan HIV&AIDS pada ibu rumah tangga.

Di samping itu juga perlu sosialisasi kepada laki-laki yang melakukan hubungan seks tidak hanya dengan isterinya saja, supaya dia tidak menularkan HIV & AIDS ke orang lain atau isterinya sendiri. Sebab, hal ini persoalan besar yang menyangkut masa depan generasi bangsa.

Sebetulnya pemuka agama sudah dilibatkan terutama dari NU (Nahdatul Ulama) agar mulai intervensi untuk pencegahan HIV & AIDS dengan menyasar kelompok populasi laki-laki.

Di DIY juga sudah ada Perda HIV&AIDS dan Peraturan Gubernur tentang Penanggulangan HIV & AIDS dan sudah ada rencana aksi untuk pencegahan transmisi seksual. Tinggal pelaksanaannya yang perlu melibatkan semua elemen masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki.

Sumber: http://www.republika.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7745