Terima Kasih Ibu Wirianingsih
Tanggal: Tuesday, 16 July 2013
Topik: Narkoba


Kompas, 15 Juli 2013

Pernyataan Wirianingsih bahwa ODHA tidak berhak mendapat obat gratis dan malah seharusnya mendapat sanksi, yang dimuat di sebuah harian ibukota, telah membuka mata kita semua, betapa kaum terpelajar semacam Wirianingsih yang anggota DPR RI Komisi IX itu pun masih berlaku diskriminatif terhadap Orang dengan HIV/Aids (ODHA).

Oleh pernyataannya yang dianggap keliru itu, Ibu Wirianingsih atau yang akrab disapa Wiwi itu pun beroleh kritikan keras dari masyarakat, terutama melalui media jejaring sosial Facebook dan Twitter.

Seorang pemilik akun bahkan secara bertubi-tubi mengritik Wiwi. Di antaranya begini bunyi kicauannya:

- Bu @wirianingsih, apakah ibu sesekali melihat sensus dari Kemenkes RI bahwa ada 5.991 kasus HIV di Indonesia akhir tahun 2012? #ODHA

- Presentase kasus HIV tertinggi ada di kelompok umur 25-49 tahun, 75,4%. Dan terkecil ada di kisaran umur 20-24, 15%. @wirianingsih #ODHA

- Kalau benar 8,5% penderita #ODHA maret 2012 adalah ibu positif #ODHA, dan diantaranya 5,1% adalah anak dan jabang bayi? @wirianingsih

- Tidakkah ibu @wirianingsih berfikir sedikit, ada 300 anak & bayi tak berdosa disana yang menderita #ODHA?

- Saya menyayangkan Bu @wirianingsih yang (seakan²) memukul rata #ODHA tanpa memandang bulu siapa, dan latar belakangnya.

- Bu @wirianingsih, saya secara tak sengaja menganggap Ibu terlalu kekanak-kanakan menganggap #ODHA sebagai "murka Tuhan".

- Apa bu @wirianingsih pernah membaca riset bahwa ibu #ODHA kebanyakan baik-baik dan hanya korban suaminya yang doyan jajan?

Oleh kritikan-kritikan itu, Wiwi pun buru-buru memberikan klarifikasi melalui akun Twitternya @wirianingsih bahwa kutipan yang sudah beredar di media adalah kutipan yang tidak lengkap.

“Ya, terima kasih atas tanggapannya. itu mrupakan potongan rapat yg tdk lengkap. akan segera saya rilis pernyataan lengkapnya. : )”.

Maka tak lama pun, Wiwi segera merilis pernyataan lengkapnya sebanyak 28 item. Di akhir pernyataannya, Wiwi menegaskan, "Ada pun terkait pernyataan yang dikutip media tsb, itu terkait dengan dua pertanyaan yang saya ajukan kepada Ibu Menkes dengan tujuan meminta penjelasan pemerintah, kaitannya dengan pembahasan APBNP. Yang saya maksud dengan punishment adalah, bukan punishment sosial/dihukum/dikriminalkan, melainkan ODHA yg dsebabkan karena perilaku tidak sehat. Jadi saya tidak menggeneralisasi semua ODHA. Tentu saja kita semua berempati kepada yg tertular atau korban."

Tentu saja, klarifikasi Bu Wiwi masih jauh dari bijaksana. Sebab, Wiwi masih mengenakan sanksi terhadap mereka yang terjangkit HIV karena perilaku. Maka, jika mengacu pada UU Nomor 39 tentang HAM, Wiwi masih berlaku diskriminasi terhadap sesama.

Menurut Pasal 1 Ayat (3) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi:

"Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya."

"Gimana menurutmu atas peristiwa ini, Don?" tanya Juha semalam kepada sahabatnya itu melalui Blackberry Mesengger. "Menurutku, kita mustinya berterimakasih kepada Ibu Wiwi," jawab Don mengagetkan Juha. "Maksud lo?" "Menurut gue, pernyataan Bu Wiwi itu justru bisa dijadikan indikasi bahwa kalangan terpelajar, kalangan berstatus sosial dan politik tinggi macam Bu Wiwi masih buta pada persoalan HAM terutama berkait dengan pernyataannya yang berlaku tidak adil terhadap ODHA." "Coba jelaskan dengan rinci, Don." "Selama ini, sudah menjadi fakta yang terbuka bahwa penderita HIV/ AIDS diasingkan dari akses terhadap layanan dan fasilitas-fasilitas publik bahkan dibatasi kesempatannya bekerja karena perusahaan-perusahaan tidak menerima karyawan yang menderita HIV." "Termasuk perusahaan tempatmu bekerja ya?" "Hmmm... kasih tau nggak ya..." jawab Don berlagak alay. "Lanjutkan, Don." "Diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS juga disebabkan oleh mitos. Orang enggan berdekatan dengan penderita HIV/AIDS karena menyangka bisa tertular oleh keringat atau hembusan nafasnya." "Padahal nggak ya?" "Ya nggaklah. HIV tidak ditularkan melalui hubungan sehari-hari dalam kehidupan sosial, sekolah,atau di tempat kerja. Kita tidak dapat terjangkit virus ini hanya melalui bersalaman dengan seseorang, atau memeluk seseorang, menggunakan toilet yang sama atau minum dari gelas yang sama dengan orang yang positif terjangkit virus HIV, berolahraga dengannya atau terkena batuk atau bersin dari orang yang terjangkit virus HIV." "Terus menyebarnya melalui apa?" "Karena penitratif yang tidak terlindungi (vagina atau anus) dan sex mulut dengan orang yang terjangkit virus HIV. Transfusi darah dengan darah yang terkontaminasi. Dengan menggunakan semprotan, jarum atau benda tajam lainnya yang terkontaminasi. Dari ibu yang terjangkit infeksi hingga anaknya selama hamil, melahirkan dan menyusui." "Sebetulnya kita nggak perlu takut ya sama ODHA. Tapi kenapa ada stigma negatif terhadap mereka?" "Mereka disingkirkan dari masyarakat yang percaya bahwa HIV/AIDS adalah buah dari kehancuran moral dan penderitanya adalah ancaman terhadap “kemurnian” akhlak atau moralitas. Masyarakat yang tidak tahu dengan jelas cara-cara penularan HIV secara sepihak merampas hak-hak pribadi yang dimiliki oleh individu, hak untuk mendapat pekerjaan bahkan hak untuk dapat hidup dengan layak." "Aku jadi ingat dengan ceritamu mengenai seorang penderita HIV menjelang kematiannya." "Cerita yang mana?" "Itu, kisah tetanggamu yang tidak dijenguk oleh para tetangga ketika sakit dan menjelang akhir hayatnya hanya karena para tetangga tahu si sakit adalah bandar narkoba dan penderita HIV/Aids." "Ya, ya. Pendiskriminasian yang dilakukan masyarakat terhadap ODHA ( Orang Dengan HIV/AIDS) merupakan cerminan makin menipisnya rasa kemanusiaan yang dimiliki masyarakat kita." "Padahal seharusnya kaum terdidik paham betul dengan humaniora ya? Sebuah pengetahuan yang memiliki tujuan membuat manusia lebih manusiawi." "Sebenarnya tidak ada seorangpun yang mau terkena penyakit HIV. Mereka pada umumnya terkena penyakit ini lantaran tidak tahu pada awalnya karena ketidaksengajaan." "Ini membuktikan sosialisasi mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan penanggulangan dan penanganan HIV/AIDS belum sepenuhnya berhasil. Sosialisasi yang selama ini dilakukan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat." "Ya, akhirnya ODHA masih dianggap sampah masyarakat yang harus disingkirkan dan diasingkan dari kehidupan sebuah komunitas. Dalam suasana kesalahpahaman, ketakutan dan bahkan kebencian, orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS harus menjalani sisa hidupnya dengan hak-hak yang dirampas." "Hiks... padahal mereka manusia juga ya seperti kita. Hanya karena pilihan yang salah dan persepsi salah dari masyarakat, mereka dikucilkan."

Don pun lantas memberikan contoh-contoh konkret mengenai diskriminasi terhadap ODHA. Misalnya, para staf rumah sakit menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada ODHA, atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka, atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV/AIDS.

Stigma dan diskriminasi tersebut menurut Don menimbulkan efek psikologis berat tentang bagaimana ODHA melihat diri mereka sendiri. "Ini bisa mendorong terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan," imbuh Don.

Akhirnya, stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan. Sebab orang keburu takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak. Bisa pula menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktik seksual tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka. Akhirnya, ODHA dilihat sebagai masalah, bukan sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi pandemi ini.

Don menyimpulkan, stigma dan diskriminasi terhadap ODHA disebabkan karena kurangnya informasi yang benar tentang cara penularan HIV, adanya ketakutan terhadap HIV/AIDS, dan fakta AIDS sebagai penyakit mematikan.

Tak dapat dimungkiri, sikap dan pandangan masyarakat terhadap ODHA sangat buruk sehingga melahirkan permasalahan serta tindakan yang melukai fisik maupun mental bagi ODHA bahkan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Menurut hasil penelitian dokumentasi pelanggaran HAM Yayasan Spiritia, 30% responden menyatakan pernah mengalami berbagai diskriminasi dalam pelayanan kesehatan dan dalam keluarga.

"Hmmm... ada baiknya juga ya pernyataan Mba Wiwi dalam Rapat Dengar Pendapat untuk penetapan APBN 2013," sela Juha. "Semoga saja, pernyataan Wirianingsih ini menjadi momentum untuk menguak sikap tak adil terhadap ODHA yang juga diterapkan oleh banyak lembaga, termasuk perusahaan-perusahaan atau pun institusi yang selama ini menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan," Don menambahi. "Mudah-mudahan membuka mata kita semua." "Karena itu, kita patut mengucapkan terima kasih kepada Ibu Wirianingsih."

Sumber: http://nasional.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7751