HIV/AIDS tulari 15 warga Pacitan hanya dalam tempo enam bulan
Tanggal: Wednesday, 24 July 2013
Topik: HIV/AIDS


LENSAINDONESIA.COM, 23 Juli 2013

Tingkat penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Pacitan kian tinggi. Dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Januari-Juni tahun ini telah ada 15 warga yang terjangkit penyakit mematikan tersebut.

“Angka penularan cukup tinggi. Demikian pula resiko bertambahnya penderita,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan, Eko Budiono.

Data Dinkes mencatat selama kurun 2005 sampai 2013 tercatat ada 75 orang warga menderita HIV/AIDS. Meski dibanding kota-kota besar angka penderita itu termasuk kecil, tetapi hal itu tetap menjadi perhatian serius pihak terkait. Sebab, penularan penyakit yang disebut `penyakit kutukan` ini seperti fenomena gunung es. Dimana ketika ditemukan satu orang terjangkit, maka 1.000 orang disekitarnya berpotensi tertular.

Mantan Kepala Badan Keluarga Berencana Dan Pemberdayaan Perempuan (KB Dan PP) ini berharap agar masyarakat dengan resiko tertular tinggi untuk menjalani voluntary conseling and testing (VCT). Namun diakuinya upaya deteksi dini semacam itu tidak mudah. Karena disatu sisi inisiatif dari mereka yang berada dalam kelompok rentan tertular masih rendah. Beberapa kelompok tersebut diantaranya pecandu narkoba dan orang yang sering berganti-ganti pasangan seks. “Alasannya mereka malu untuk memeriksakan diri. Apalagi jika benar-benar terinfeksi,” tandas Eko.

Kondisi itu pula membuat penanganannya terlambat. Bahkan acapkali penyakit baru diketahui setelah penderita meninggal dunia. Dari 75 orang yang terjangkit, sebanyak 42 diantaranya telah meregang nyawa. Dari sisi usia, HIV/AIDS tak mengenal jenjang. Sebab ada diantara penderita masih berusia kurang dari lima tahun. Namun sebagian besar memang didominasi usia produktif.

Mengingat kian seriusnya potensi dan ancaman penyebaran HIV/AIDS maka Dinkes perlu menggandeng lebih banyak pihak untuk ikut berperan serta menanggulangi. Salah satunya kaum perempuan melalui PKK Kabupaten. Dengan sosialisasi para ibu-ibu lebih memahami bahaya sekaligus menghindari penularan penyakit yang satu itu.

Apalagi dalam beberapa kasus ditemukan ibu rumah tangga yang tertular. Setelah diselidiki petugas, ternyata penularan berasal dari suami. Khususnya sepulang dari bekerja di luar kota atau sehabis merantau. Seperti diketahui arus urbanisasi dari Kota 1001 Goa ini menuju wilayah lain cukup besar. @rachma

Sumber: http://www.lensaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7778