Tetap Teguh Berpuasa Saat Mengabdi di Papua
Tanggal: Wednesday, 24 July 2013
Topik: Narkoba


REPUBLIKA.CO.ID, 24 Juli 2013

WAMENA -- Puasa di pedalaman Papua menjadi pengalaman berbeda. Terlebih, ketika bulan Ramadhan dan hari raya. Di hari yang fitri, berlebaran pun menjadi asing.

Pengalaman itu dirasakan salah seorang dokter yang mengabdi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Wamena Provinsi Papua, Mukri Nasution.

Istri yang tengah hamil empat bulan terpaksa ia tinggal di Solok Sumatera Barat. Orang tua di Sumatera Utara juga tengah menanti kehadirannya. Namun semua itu ia tinggalkan untuk satu kata 'pengabdian'.

"Rindu itu sudah pasti ada. Alhamdulillah, komunikasi bisa lancar. Kalau selepas kerja saya menelepon," katanya kepada Republika, Ahad (21/7).

"Namun perbedaan waktu dua jam kadang susah juga. Kalau mereka malam-malam menelepon dari sana, kita disini sudah tengah malam, kadang saya sudah tidur," tambahnya.

Daerah yang baru serta berbedaan budaya dan kultural setempat menjadi kesan tersendiri. Namun, dengan profesinya sebagai tenaga medis sangat dihormati penduduk setempat. Ia ingat betul ketika awal kedatangannya di RSUD Wamena, ia disuguhi 'segepok' daging babi.

Setiap kedatangan tamu atau perayaan di momen-momen tertentu, masyarakat setempat menggelar acara yang disebut bakar batu. Acara rakyat tersebut adalah upacara dan dilanjutkan dengan membakar batu. Batu yang dibakar kemudian disusun dan diletakkanlah diatasnya daging babi.

"Jadi dibawahnya disusun batu, kemudian dilapisi rumput, ubi dan sayur. Selanjutnya dilapisi batu lagi. Nah, diatasnya itu diletakkan daging babi. Jadi minyak babi yang diatas turun membasahi sayur-sayur dan ubi yang dibawah," jelas Mukri.

Ketika diberikan kuliner daging babi itu, spontan saja ia menolak seraya mengatakan dirinya muslim dan tidak makan daging babi. Penduduk setempat memakluminya dan menggantinya dengan daging ayam. Mukri meminta dibungkus saja, kemudian sesampai dirumah ia berikan ke tetangga.

"Alhamdulillah sambutan masyarakat luar biasa. Apalagi tenaga medis, karena disini sangat kurang sekali tenaga Medis. Kadang kita sampai dipeluk," jelas Mukri.

Ia mengisahkan, pernah ia terserang gigitan kutu babi dari warga setempat yang memeluknya. Warga berpakaian koteka rupanya membawa kutu babi. Kutu itupun 'hijrah' ketubuhnya. "Kalau sampai digigit kutu babi itu, dua bulan bekasnya nggak hilang," selorohnya.

Selama bertugas di rumah sakit, Mukri telah menangani korban luka-luka akibat perang antar suku. Bahkan, beberapa hari sebelumnya ia menangani dua korban meninggal akibat pembunuhan. "Polisi-polisi disini sudah puas dengan korban-korban pembunuhan. Di RSUD hampir setiap minggu ada korban luka sampai yang meninggal," kisahnya.

Mukri mengatakan, taraf hidup sehat masyarakat sangat rendah. Tradisi bakar batu itu saja misalnya. Babi yang hanya mengandalkan panasnya batu yang dibakar tentu tidak matang maksimal. Babi yang setengah matang tersebut mengandung cacing yang sangat berbahaya.

"Kita sering menangani pasien yang radang otak akibat cacingnya sudah sampai dan masuk ke otak," terangnya.

Angka kematian di Papua dibanding daerah lain di Indonesia tergolong sangat tinggi. 'Rekor' penyebab kematian paling dahsyat disebabkan HIV dan AIDS. Mukri mengatakan, data dari RSUD tempatnya bekerja menyebutkan sudah 3260 penderita HIV dan AIDS yang melaporkan diri.

Diantaranya, hanya 600-an orang yang menjalani perawatan. "Sebenarnya jumlahnya bisa lebih tinggi lagi dari itu, itu baru yang tercatat dan diketahui, yang tidak melapor mungkin lebih banyak lagi," terang Mukri.

Keinginan untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga tentu sangat kuat. Tapi Mukri sudah membulatkan tekatnya untuk tetap berada di Papua. Ia tak akan 'mudik' waktu lebaran mendatang dan tetap fokus mengabdi di RSUD Wamena. "Disini kekurangan tenaga medis, jadi saya tidak bisa cuti," ujarnya.

Lain profesi dokter lain pula mereka yang bertugas menjaga stabilitas keamanan Papua. Kisah seorang polisi yang masih berpangkat Tamtama prajurit satu di Wamena,

Abbas Muhammad tak kalah mengharukannya. Sudah hampir enam bulan ia ditugaskan di Polres Papua. Dengan senjata berat, ia dituntut siaga menjaga kedaulatan negara di wilayah yang setiap hari bergejolak.

Abbas mengatakan, saat ini kondisi wamena sudah mulai aman, walau sewaktu-waktu bisa saja konflik akan muncul kembali. Perang antar suku atau gangguan dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) setiap saat terus mengancam. 'Boro-boro' memikirkan keluarganya di Fakfak Papua, kadang tentu ia harus memikirkan keselamatannya dirinya sendiri untuk aman dibawah ancaman teror.

"Kita tidak bisa pulang. Kecuali ada alasan seperti orang tua meninggal, ada saudara yang menikah. Itu baru diijinkan pulang beberapa hari saja," jelas Abbas.

Sumber: http://www.republika.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7780