Pemerintah Australia diimbau beri perhatian Hepatitis B sebanding HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 29 July 2013
Topik: HIV/AIDS


Radio Australia, 29 Juli 2013

Pemerintah Australia didesak agar mengubah cara pendekatan terhadap Hepatitis B, dan memberikannya perhatian yang sama seperti pada HIV/AIDS
.

Otoritas kesehatan di Australia menggunakan Hari Hepatitis se-Dunia untuk menyerukan pemerinth federal dan negara-negarabagian agar memikirkan kembali kebijakan imunisasi mengingat meningkatnya jumlah penderita kanker hati dan penyakit liver.

CEO Hepatitis Australia, Helen Tyrell, mengatakan kepada program Pasific Beat Radio Australia, penyakit itu merupakan epidemi global dan membutuhkan perhatian khusus.

“Di Australia ada sekitar 218.000 orang yang hidup dengan kondisi Hepatitis B kronis," kata Tyrell.

Katanya, angka itu 1 banding 9 dengan pengidap HIV.

Dikatakan, di seluruh dunia terdapat 240 juta pengidap Hepatitis B dan sekitar dua miliar orang diperkirakan telah terpapar.

Hepatitis B disebut sebagai virus yang sangat menular.

"Ini 50 sampai 100 kali lebih menular ketimbang HIV,” ujarnya.

Tyrrell mengatakan sekitar separuh dari populasi yang terinfeksi tidak menyadari mereka mengidapnya.

"Diperkirakan di Australia saja ada sekitar 100.000 orang yang tanpa sadar mengidap Hepatitis B kronis," katanya.

Ia menjelaskan, virus itu terutama ditularkan dari ibu ke anak, tapi dapat ditularkan lewat segala bentuk kontak darah ke darah dan melalui kontak seksual.

Penelitian terbaru Hepatitis Australia menunjukkan bahwa separuh lebih dari responden survei yang berasal dari Asia Pasifik atau Afrika, di mana Hepatitis B tersebar luas, tidak tahu ada vaksin Hepatitis B, dan mereka juga tidak tahu bahwa mereka punya risiko terinfeksi lebih tinggi.

"Apa yang kita lakukan adalah menyerukan kepada Pemerintah Australia agar memikirkan kembali strategi imunisasi Hepatitis B. Khususnya untuk memastikan agar mereka menjangkau keluarga yang berasal dari daerah prevalensi tinggi seperti Asia Pasifik, untuk meningkatkan vaksinasi dalam komunita mereka di Australia," lanjutnya lagi.

Tyrrell mengungkapkan, meski telah dicapai kemajuan untuk memastikan lebih banyak bayi dan anak-anak divaksinasi terhadap virus Hep B, tapi penting agar pemerintah mendukung program pemeriksaan untuk mendiagnosa lebih banyak orang.

Jika orang tidak terdiagnosis, mereka tanpa sadar dapat menularkan virus kepada orang lain dan mereka juga berisiko lebih besar meninggal akibat komplikasi penyakit hati dan kanker hati.

"Kematian akibat kanker hati di Australia meningkat lebih cepat daripada kanker lain dan Hepatitis B merupakan penyumbang utama dari tren itu," katanya.

Tyrrell mengatakan, walaupun ada obat-obatan anti-virus mirip dengan obat untuk HIV yang sangat efektif dan berpotensi menyelamatkan nyawa, hanya sekitar 3 persen di Australia dan sedikt orang di dunia yang bisa mengaksesnya.

Kata Tyrrell, banyak penderita Hepatitis B kronis di masa lalu diberitahu secara keliru agar tidak perlu kuatir dengan diagnosa karena mereka merupakan carrier yang sehat.

"Kita sekarang tahu bahwa setiap orang penderita Hepatitis B - yang jumlahnya 240 juta orang di seluruh dunia - perlu dimonitor secara tetap," katanya.

Mereka itu perlu dipantau kesehatan hatinya untuk mencegah risiko kanker hati dan penyakit liver kronis, tambahnya.

"Australia mungkin lebih maju dari banyak negara lain di Asia Pasifik, kami jelas dalam posisi yang lebih baik secara ekonomi dibandingkan banyak negara di kawasan Pasifik untuk mengatasi Hepatitis B," ungkapnya.

Tyrrell juga menginginkan Australia berbuat lebih banyak untuk membantu mitra regionalnya di kawasan Asia Pasifik menangani Hepatitis B di negara mereka.

Bantuan itu diperlukan karena banyak orang dari kawasan itu datang ke Australia.

Sumber
: http://www.radioaustralia.net.au




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7786