4 Warga Jemaja Terinfeksi HIV-AIDS
Tanggal: Monday, 29 July 2013
Topik: HIV/AIDS


INILAH.COM, 29 Juli 2013

Tanjungpinang - Sebagai halaman depan NKRI, kawasan perbatasan rentan terhadap pengaruh asing. Karena itu, perlu semangat bersama untuk membangun pulau-pulau terluar Indonesia agar tak tertinggal dari wilayah lain serta menjaga agar terhindar dari pengaruh buruk asing.

Camat Jemaja Robby Sanjaya dalam seminar 'Strategi Bersama, Membangun Perbatasan Beranda Terdepan NKRI' yang digelar Komunitas Merah Putih di Kecamatan Jemaja, Kabupaten Anambas, Sabtu (27/7/2013), memaparkan kondisi sosial masyarakat Jemaja yang kian memprihatinkan.

Jemaja adalah daerah perbatasan yang berubah menjadi kota kecil yang penuh dengan kompleksitas masalah. Bahkan di wilayahnya kini terdapat 4 orang positif terinfeksi HIV-AIDS.

"Penyakit masyarakat seperti narkoba dan prostitusi yang menjadi ciri-ciri kehidupan modern perkotaan sudah merambah ke Jemaja. Bahkan ditemukan 4 orang penduduk Jemaja yang positif terindikasi HIV-AIDS. 1 orang pendatang dan 3 orang warga asli Jemaja," ujar Robby.

Ia mengatakan, pihaknya serta unsur muspika telah berupaya maksimal menyosialisasikan bahaya narkoba dan HIV-AIDS. Namun kata Robby, penyakit masyarakat ibarat jamur kulit, apabila tidak diobati akan menyebar ke seluruh tubuh. "Narkoba dan HIV-AIDS adalah tantangan kita saat ini di perbatasan. Apabila tidak segera diatasi akan terus menyebar. Tentu kita yang akan dirugikan," kata Robby.

"Kawasan perbatasan merupakan kawasan yang sangat sensitif dan perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kesejahteraan masyarakat harus ditingkatkan, pendidikan diperbaiki, kesehatan juga menjadi prioritas. Pemerintah harus membuka akses transportasi," kata Robby.

Sementara Danramil Jemaja R Nainggolan menegaskan agar pemuda di perbatasan harus bangkit dan memiliki semangat seperti Patih Gadjah Mada yang mempersatukan nusantara.

"Mengapa Indonesia dijajah dalam jangka waktu lama, karena saat itu kita mudah untuk dipecahbelah. Politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) ternyata ampuh memisahkan nusantara. Padahal, jauh sebelum Belanda datang, Nusantara telah dipersatukan oleh patih Gadjah Mada yang kita kenal dengan Sumpah Palapa. Semangat ini harus ada di seluruh pemuda Jemaja," ujarnya.

Nainggolan juga mengatakan bahwa pulau-pulau terluar adalah bagian dari NKRI sehingga menjadi tanggung jawab bersama sebagai warga negara Indonesia menjaganya. Kawasan perbatasan adalah wilayah terluar Indonesia yang harus dilewati oleh negara asing. Sebagai halaman depan, kawasan ini rentan akan pengaruh asing. "NKRI adalah harga mati, masyarakat dan tentara harus bahu membahu menjaga kedaulatan di titik batas NKRI, " tegasnya.

Sementara Masirwan, ketua Komunitas Merah Putih yang juga mahasiswa UMRAH Tanjungpinang mengatakan, banyak hal harus dibenahi terkait pengadaan sarana dan infrastruktur seperti sarana pendidikan dan transportasi darat dan laut di kawasan perbatasan.

Menurutnya, pembenahan ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perbatasan. Kepri merupakan wilayah yang pulaunya dipisahkan dengan lautan tentu sangat membutuhkan transportasi laut yang memadai. Dermaga juga harus dibangun agar akses keluar-masuk kapal dan barang dapat berjalan lancar.

"Akses transportasi laut harus mendapatkan prioritas agar mempermudah arus barang dan jasa menuju perbatasan. Barang-barang di perbatasan terbilang tinggi harganya karena memang cost yang dibutuhkan cukup besar untuk transportasinya, " ujar Iwan.

Menurut Iwan, pembagunan kawasan perbatasan merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan wilayah provinsi Kepri dan pembagunan nasional sehingga diperlukan komitmen bersama. "Kita punya tanggung jawab yang sama untuk menjaga, membangun dan mempertahankan NKRI di perbatasan. Namun mungkin porsinya sesuai dengan tupoksi masing-masing. Perbatasan adalah milik kita yang harus dijaga dan dirawat," ujar Iwan.

Kegiatan yang dibarengi dengan acara buka puasa bersama dan pemberian santunan anak yatim dihadiri oleh sekitar 100 masyarakat Jemaja yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda dan perangkat kecamatan, desa dan kelurahan. [gus]

Sumber: http://sindikasi.inilah.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7787