Urutkan berdasarkan: Judul (A\D) Tanggal (A\D) Nilai (A\D) Popularitas (A\D) Saat ini ditampilkan menurut: Judul (A - Z)
Laporan Survei Terpadu Biologi dan Perilaku Tahun 2007 Deskripsi: Selama satu dekade terakhir ini, kita telah menyaksikan dinamika kecenderungan epidemi HIV di Indonesia berbasis hasil‐hasil kegiatan surveilans HIV dan AIDS. Berkat upaya penguatan sistem surveilans HIV dan AIDS, tidak hanya surveilans kasus AIDS, tetapi juga surveilans HIV dan IMS yang awalnya hanya dilakukan pada kelompok Wanita Penjaja Seks, lalu meluas pada kelompok berisiko lainnya, seperti Waria, Pengguna Napza Suntik, Pelanggan Penjaja Seks dan lainnya.
Menyadari bahwa perilaku berisiko merupakan pendorong epidemi HIV, maka telah dilakukan tiga kali surveilans perilaku berisiko yaitu tahun 2002/2003, 2004/2005 dan 2007/2008. Sejak tahun 2007, surveilans perilaku dipadukan dengan pemeriksaan biologis, yaitu HIV dan IMS, disebut sebagai Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).
Departemen Kesehatan adalah instansi pemerintah yang bertanggung‐jawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Surveilans HIV dan AIDS, khusus untuk STBP ini dilaksanakan oleh Ditjen PP&PL Depkes yang bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS).
Hasil analisis STHP diharapkan bermanfaat, tidak hanya mengetahui besarnya masalah, menentukan sasaran program, tetapi juga berfungsi sebagai alat evaluasi program, kebijakan dan intervensi yang telah dilaksanakan. Disadari bahwa kecenderungan penularan yang masih terus meningkat, serta masih belum banyak berdampak pada perubahan perilaku yang dapat menekan risiko penularan, seperti penggunaan kondom yang konsisten pada setiap seks berisiko, tetapi kita melihat kecederungan yang mengembirakan seperti peningkatan penjangkauan program pada populasi berisiko, pemanfaatan layanan konseling dan tes HIV, serta pengobatan IMS.
Dengan terbitnya buku yang tidak hanya memuat hasil STBP 2007 tetapi juga membandingkan dengan hasil survei sebelumnya, kami menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu sejak perencanaan, pengumpulan dan analisis data hingga penulisan buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam meningkatkan keberhasilan upaya‐upaya pengendalian HIV dan AIDS di Indonesia. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 13-Nov-2009 Downloand: 85
Mathematic Model of HIV Epidemic in Indonesia 2008-2014 Deskripsi: In 2006, Ministry of Health made an estimation of adult population vulnerable to HIV infection. The estimation of high-risk population was at 6,503,430 persons, consisting of 4,355,310 men and 2,148,120 women, with the estimated population of people living with HIV/AIDS (PLWHA) at 193,030.
From the results of the modelling in 2008, the estimated number of PLWHA is at 293,200. In 2013 the estimated number will be at 482,800, while the new infection in 2008 was at 51,300 and in 2013 it will be at 63,000.
HIV epidemic modelling is used to provide a description of the current situation of the HIV epidemic and its future projection so the data can be used by a wide range of parties in planning HIV and AIDS prevention programs in Indonesia in a better and more directed way. Furthermore, it is also expected that the epidemic modelling can also be used as a basis for evaluating the implementation of a variety of ongoing HIV and AIDS prevention programs and conducting advocacy to enhance the commitment of a number of parties directly and indirectly involved in the programs. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 11-May-2009 Downloand: 79
Model Intervensi Komprehensif dan Terpadu Intervensi Pencegahan HIV/AIDS bagi pengguna Napza Suntik Deskripsi: Pada tahun 2003 Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan dukungan World Health Organization (WHO) menterjemahkan, mengadaptasi dan mengadopsi 4 buku referensi terkait dengan program intervensi penanggulangan HIV/AIDS pada pengguna NAPZA suntik. Buku itu kemudian diterbitkan kedalam satu seri buku yang terdiri dari: 1) Panduan Penjajakan Situasi Cepat; 2) Pedoman Pengembangan Kebijakan dan Program; 3) Panduan Pelatihan Penjangkauan dan Pendampingan; 4) Pedoman Advokasi.
Sebagai bentuk komitmen dan upaya untuk membantu implementasi program di lapangan, pada tahun 2006 Menteri Kesehatan mengeluarkan Kepmenkes No. 567/Menkes/SK/VIII/2006 yang berisi tentang Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) atau yang lebih dikenal dengan istilah Harm Reduction Indonesia yang dikeluarkan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Masyarakat melalui Permenkokesra No. 02/PER/MENKO/KESRA/I?2007 pada tahun 2007. Kedua dokumen inilah yang menjadi acuan utama dalam pelaksanaan program Harm Reduction di Indonesia.
Kami menyambut gembira Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dikembangkan oleh Unit Intervensi IDU (Injecting Drug User), ASA program, Family Health International Indonesia. Melihat dari isi dan penyajian, diharapkan buku ini dapat menjadi petunjuk teknis dan dapat digunakan sesuai dengan keperluannya bagi para pelaksana program intervensi penanggulangan HIV pada IDU di Indonesia. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 21-May-2010 Downloand: 61
Modul Pelatihan Kerentanan Buruh Migran terhadap Penularan HIV/AIDS Deskripsi: Modul pelatihan dengan sasaran buruhmigran dalam rangka pengurangan risiko HIV-AIDS. Modul ini terdiri dari tiga bagian yaitu kerentanan buruh migran terhadapat penularan HIV/AIDS, predepature dan pengelolaan dana dan usaha. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 16-Jan-2007 Downloand: 1719
ODHA dan Akses Pelayanan Kesehatan Dasar Deskripsi: Dengan memahami sepenuhnya bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi, dan masih perlu banyak sekali upaya untuk mendapatkan model keterlibatan ODHA yang paling ideal, upaya yang dilakukan melalui penelitian partisipatif ini, maka kerja sama dalam penelitian ini yang dilakukan antara ODHA, penyedia layanan kesehatan dan kalangan akademisi bisa dijadikan salah satu upaya terobosan.
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional mendorong bentuk-bentuk kerja sama seperti ini yang dapat meningkatkan kinerja, efektifitas dan kualitas dari upaya penanggulangan AIDS secara menyeluruh. Kepemimpinan masyarakat sipil, khususnya dari kelompok organisasi ODHA diharapkan dapat mengubah jalannya epidemi di Indonesia dengan mengoptimalkan peranan mereka sebagai sumber daya manusia yang memiliki kemampuan. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 06-Feb-2007 Downloand: 289
Maraknya penggunaan narkoba sangat berpengaruh terhadap penambahan jumlah tahanan yang masuk ke Rutan dan Lapas, dimana berdasarkan data rekapitulasi yang dimiliki oleh DIrektorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM RI menunjukkan terjadi peningkatan jumlah narapidana dan tahanan kasus narkotika dari 10,6% pada tahun 2002, menjadi 23,5% tahun 2005 dan pada tahun 200 sudah mencapai 40%.
Merespon terhadap permasalahan HIV berkaitan dengan meningkatnya jumlah tahanan narkoba, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan menetapkan Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS dan Penyalahgunaan Narkoba di Lapas dan Rutan di Indonesia Tahun 2005-2009. Berdasarkan strategi ini, beberapa staf Lapas dan Rutan di Sumatera Utara telah dilatih dan mulai melaksanakan program pencegahan penularan HIV dan AIDS secara bertahap. Untuk memberikan acuan yang jelas serta menjaga mutu pelaksanaan kegiatan maka dibutuhkan adanya panduan operasional bagi staf Lapas dan Rutan.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, Tim Pokja Lapas beranggotakan lintas sektor, bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sumatera Utara dan Lembaga Swadaya Masyarakat Internasional yaitu Family Health International (FHI) telah melakukan lokakarya dengan mengundang Kepala Rutan dan Lapas serta LSM untuk membahas panduan opersional pelaksanaan program penanggulangan HIV dan AIDS di Rutan dan Lapas. Hasil Lokakarya inilah yang kemudian disusun menjadi buku panduan opersional ini.
Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 12-Jun-2008 Downloand: 345
Infeksi Human Immuno Deficiency Virus dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV dan AIDS) dalam 4 tahun terakhir semakin nyata menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dan telah mengalami perubahan dari epidemi rendah menjadi epidemi terkonsentrasi. Hasil survei pada subpopulasi tertentu menunjukkan prevalensi HIV di beberapa propinsi telah melebihi 5% secara konsisten. Berdasarkan hasil estimasi oleh Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2006 diperkirakan terdapat 169.000 -216.000 orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Indonesia.
Pada era sebelumnya upaya penanggulangan HIV dan AIDS diprioritaskan pada upaya pencegahan. Dengan semakin meningkatnya pengidap HIV dan kasus AIDS yang memerlukan terapi antiretroviral (ARV), maka strategi penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan dengan memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan, dukungan serta pengobatan. Dalam memberikan kontribusi 3 by 5 initiative global yang dicanangkan oleh World Health Organization (WHO) di UNAIDS, Indonesia secara nasional telah memulai terapi antiretroviral (terapi ARV) pada tahun 2004.
Departemen Kesehatan telah menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1190 tahun 2004 tentang Pemberian Obat Gratis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Obat Anti Retroviral (ARV) untuk HIV dan AIDS. Untuk merespon situasi tersebut dan menyimak beberapa permasalahan di atas, telah diterbitkan Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral pada tahun 2004. Berdasarkan perkembangan teknologi pengobatan, sebagai penjabaran Keputusan Menteri Kesehatan, dan merujuk pada Pedoman terapi ARV WHO terbaru, maka buku Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral tersebut direvisi menjadi Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral Edisi Kedua tahun 2007, agar dapat menjadi acuan bagi semua pihak yang terkait dalam penanggulangan HIV dan AIDS khususnya terapi antiretroviral. Buku ini juga melengkapi buku Pedoman Nasional Perawatan Dukungan dan Pengobatan bagi ODHA yang telah ada sebelumnya.
Akhirnya kepada semua tim penyusun dan semua pihak yang telah berperan serta dalam pernyusunan dan penyempurnaan buku ini disampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya. Terima kasih juga ditujukan kepada WHO dan Global Fund – AIDS TB Malaria (GF-ATM) atas bantuan dan kerjasama yang baik.
Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 09-Jul-2008 Downloand: 403
Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) Deskripsi: Mengingat semakin pentingnya program yang lebih terpadu dan mengoptimalkan upaya scaling up untuk memperluas cakupan dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan dengan sasaran utama kelompok pengguna Napza suntik dan pasangannya, Departemen Kesehatan memandang perlu untuk menerbitkan Buku Pedoman Pelaksanaan Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS pada Pengguna Napza Suntik. Buku ini disusun dengan melibatkan berbagai instansi terkait dan menggunakan berbagai referensi dari dokumen dan buku-buku yang telah ada. Draft buku ini telah diujicobakan di 3 kota (DKI Jakarta, Bandung dan Makassar) untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak yang telah memiliki pengalaman langsung dalam intervensi di lapangan. Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 18-Dec-2006 Downloand: 1259
PEDOMAN PELAYANAN KONSELING DAN TESTING HIV/AIDS SECARA SUKARELA Deskripsi: Tes dan konseling adalah pintu gerbang utama menuju pengobatan denga ARV yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan paripurna bagi ODHA dengan pendekatan holistik.Layanan konseling dan testing HIV & AIDS sukarela dapat dilakukan di berbagai layanan baik sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya, yang dapat diselenggarakan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Layanan konseling dan testing HIV & AIDS sukarela agar mutu layanan dapat dipertanggungjawabkan.
Buku pedoman ini sebagai penatalaksanaan konseling dan testing HIV & AIDS menjagamutu layanan melalui penyediaan sumber daya dan manajemen yang sesuai serta memberi perlindungan dan konfidensialitas dalam pelayanan konseling dan testing HIV & AIDS. Buku ini juga menyediakan informasi yang diperlukan terkait dengan pengendalian HIV & AIDS.
Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 29-Feb-2008 Downloand: 3694
HIV/AIDS telah memberikan dampak buruk pada dekade lalu pada beberapa negara khususnya diarea sub Sahara Afrika dan Asia Tenggara. Angka prevalensi dan insiden secara bermakna menunjukkan bahwa banyak negara berkembang mengalami beban yang berlebih dibandingkan kemampuannya untuk mengatasi pandemic penyakit ini. Meliputi hampir seluruh aspek, ekonomi, kesehatan dan sosial.
Pada situasi yang darurat ini, WHO meluncurkan program 3 by 5, sebuah target global untuk memberikan terapi pada 3 juta orang pada akhir 2005.
Program 3by5 WHO pada tahun 2005 ternyata belum mencapai sasaran 3 juta orang, hanya sekitar 1 juta orang yang mendapat layanan ARV. Pada tahun 2006 WHO merubah kebijakan 3by5 menjadi kebijakan universal access (akses untuk semua) dan diharapkan setiap Negara merencanakan program untuk mencapai akses untuk semua sesuai dengan kemampuan negara tersebut.
Sementara di Indonesia, pemerintah akan meluncurkan layanan komprehensif diseluruh kabupaten/kota. Layanan komprehensif ini meliputi penyuluhan, pencegahan, perawatan, pengobatan serta dukungan peraturan dan hukum.
Dalam rangka mencapai akses Perawatan, Dukungan dan Pengobatan untuk semua, Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan, perlu menyusun pedoman yang diketahui oleh para pelaksana upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Buku pedoman ini diharapkan dapat menyamakan persepsi dan menjadi acuan dalam melaksanakan program Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (Care Support and Treatment) di Indonesia untuk mencapai akses untuk semua yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2008.
Akhir kata ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kapada pelbagai pihak segenap potensi masyarakat baik dari lingkungan Departemen Kesehatan, Kelompok Study atau Kelompok Kerja, para Klinisi, lembaga donor, dan lembaga masyarakat lainnya. Semoga buku Pedoman Perluasan Jejaring Perawatan, Dukungan dan Pengobatan ini bermanfaat dalam membantu penyebarluasan pengetahuan untuk penanggulangan dan pengendalian infeksi HIV/AIDS.
Ukuran file: 0 bytes Dimasukkan: 09-Jul-2008 Downloand: 213