A better strategic information for effecctive HIV - AIDS response in Indonesia   

Pilih Bahasa
(Select Interface Language)

English Indonesian
Google
 
Untuk Akses, Mohon Registrasi

Daftar Member Baru - Login Member
    HIV-tuberculosis co-infection is a global problem: resources need to be expanded and funding must be sustainable and predictable        PB IDI menyatakan bahwa kondom adalah alat kesehatan yang mampu mencegah penularan infeksi menular seksual (termasuk HIV) bila digunakan pada setiap kegiatan seks berisiko.        By enabling and empowering women to protect themselves and their partners with female condoms, we can begin saving lives and curbing the spread of HIV today.         Women need prevention now. They need access to the female condom and education on its use.        Indonesian AIDS Community (AIDS-INA) will use internet technologies for facilitating the dissemination and exchange of knowledge and experience in HIV/AIDS programme among all community members        Do you know that DFID provide 25 million in support of a large HIV and AIDS Programme in Indonesia started in 2005? Do you know where the fund have been allocated?        Apakah Menko KesRa atau Presiden SBY masih peduli terhadap penanggulangan penyakit menular, termasuk HIV-AIDS, TB, Malaria - di Indonesia? Indonesia sedang dalam kondisi sungguh sulit dengan dampak penularan yang terus meluas pada masyarakat yang miskin        Bila Konsep Akselerasi Upaya Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia tidak difahami dengan BENAR dan Berbasis evidence, maka TIDAK AKAN berhasil menahan laju epidemi HIV di Indonesia. Itu yang terjadi sekarang!        Further evidence to support a recommendation for exclusive breastfeeding by HIV-positive mothers in resource-limited settings        Deliver TB and HIV services in the context of fully functioning primary health care systems to ensure cases are detected, prevention is available and treatment accessible and sustained        Reach the most vulnerable populations with TB and HIV services Now!        The HIV service providers need to do : screening for TB and starting isoniazid preventive therapy if there is no sign of active TB.        To fight AIDS we must do more to fight TB (Nelson Mandella, 2004)        Violence makes women more susceptible to HIV infection and the fear of violent male reactions, physical and psychological, prevents many women from trying to find out more about it, discourages them from getting tested and stops them from getting treatmen        People at high risk of HIV exposure should be tested every three to six months in identifying recently infected people then we have to be able to counsel them to modify high-risk sexual behavior and desist from transmitting the virus        About half of new HIV cases occur when the person transmitting the virus is in the early stages of infection and unlikely to know if he or she is HIV-positive        HIV/AIDS Epidemic in Indonesia: not one ( single) epidemic but many (multiple) (riono, pandu)        Combating HIV-AIDS requires more than prevention and treatment. It requires improving the conditions under which people are free to choose safer life strategies and conditions.        Para pecandu yang butuh alat suntik (insul) steril, hubungi LSM setempat - Lihat pada Jejaring Layanan        Kurangi Dampak Akibat Bencana Napza dengan Upaya Pemulihan Pecandu yang komprehensif (metadon, Jarums steril, tes HIV dan Hep C, Pengobatan dan Dukungan)        Treatment without prevention is simply unsustainable! Pengobatan saja tanpa upaya pencegahan yang serius dan sistematik sama saja BOHONG!        1 Desember: keprihatinan global atas kegagalan kita!        Gunakan alat suntik steril untuk hindari penularan HIV dan Hepatitis        Pakai kondom pada setiap kegiatan seks berisiko, dapat mencegah penularan HIV        HIV tidak mudah menular dari satu orang ke orang lain        Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) adalah institusi koordinasi BUKAN Pelaksana program atau Implementor!!        Profesi Kesehatan perlu terlibat dan dilibatkan secara aktif dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS        Perluasan Masalah HIV-AIDS di Indonesia TIDAK mungkin dibatasi oleh wilayah administratif tertentu saja        Hindari diskriminasi dan stigmatisasi pada orang rawan dan orang yang telah terkena HIV        AIDS adalah kenyataan, lakukan tes HIV bila ingin tahu status anda        AIDS-INA - Sarana komunitas AIDS Indonesia untuk menyampaikan gagasan serta tukar informasi    

Menu

Referensi
 Kliping
 Estimasi
 Data Kasus
 Artikel
 Publikasi
 Perpustakaan
 Daftar Istilah

Jejaring
 KPAP/KPAK
 LSM-Institusi
 Individu
 Layanan AIDS
 Website
 Laporan Keg.

Agenda
 Internasional
 Nasional

Informasi Dasar
  Adiksi
  Harm Reduction
  HIV-AIDS
  IMS/RTI
  Tes HIV

Translate with
Google Translate

Lilin Kenangan

Lilin Kenangan
Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"Diriku sendiri dan saudara2 yang sama2 berjuang.... fojus untuk sehat dan berbahagia beruntung kita diberikan cara penebusan dosa di dunia yang belum tentu kita akan sanggup menebusnya kalau di akhirat nanti. Untuk Mama ku dan saudara2 ku tercinta.... besar harapan mu untuk aku bahagia doa kalian yang menambah kekuatan.. mama aku tau mama ingin cucu dariku... aku tau mama selalu bertanya kapan krn ingin aku bahagia... aku tau mama selalu bertanya karena ketidak tauan mama tentang kondisiku... aku sedang berjuang Ma... aku berjanji tdk akan memberikan kesedihan saat papa tiada... makanya aku berjuang sendiri dan aku yakin... cucu yg kau dambakan bukan hal yg mustahil... kesehatan ku semakin membaik aku sudah bangkit dari keterpurukan mental krn bisikan syetan, Mama jangan km yang sehat ya. Tunggu aku dan menantu beserta cucu2 mu bersimpuh dalam pelukanmu... aku janji aku akan terus berjuang!!!"
oleh:
Danny
Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Nyalakan Lilin Anda

Partisipasi Anda

 Umpan Balik
 Kirim Kegiatan
 Kirim berita
 Join Mailist aids-ina

Pencarian


Google

Yang sedang online

Saat ini ada
144 tamu, 0 anggota
dan
Hari ini dikunjungi oleh 1111 tamu/anggota

Pengunjung

Site ini telah dikunjungi
26741164 kali
sejak August 2006

Donation & Report

AIDsina Production: for Healthly Community
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!

Dukungan

Republik Indonesia

Departemen Kesehatan RI

AIDS Data Hub

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

Ikatan Dokter Indonesia

Power by
PHP Nuke

Topik: Narkoba
Gagasan: Pendekatan Multilevel dalam Upaya Penanggulangan IMS di Kalangan PSK

Dipublikasi pada Tuesday, 26 January 2010 oleh administrator  
Oleh: Ciptasari Prabawanti, Praktisi di bidang HIV dan AIDS, Lingkar Studi Perubahan Perilaku

Awalnya hanyalah upaya sederhana, memberikan edukasi secara individu kepada setiap pekerja seks di lokasi hiburan. Kalau pun lebih banyak yang berkumpul, terjadi dalam kelompok kecil saja, sebanyak 5 hingga 10 orang. Kegiatan semacam ini berlangsung dalam waktu cukup lama. Hingga 6 atau 7 tahun yang lalu, kegiatan semacam ini masih diyakini mampu membuat perubahan perilaku pada mereka yang diedukasi. Hingga akhirnya disadari, dibutuhkan upaya menyeluruh yang terencana agar perubahan perilaku pada Pekerja Seks Komersial terjadi.

Telah dipahami, tujuan intervensi adalah perubahan perilaku pada tingkat individu. Namun, untuk mencapai perubahan pada tingkat individu, yang dibutuhkan bukan perubahan pada individu semata, namun harus didukung pula oleh kekuatan sosial dan struktural. Dengan demikian, disamping melakukan pendekatan individu, intervensi harus dilakukan pula pada tingkat kelompok terkecil yang memberi ikatan sosial, sekaligus secara simultan melibatkan kelompok sosial yang lebih luas di mana mereka hidup. Kegiatan terakhir merupakan intervensi tingkat komunitas, sering disebut sebagai mobilisasi komunitas.

Ciri-ciri menonjol dalam pendekatan komunitas adalah terlibatnya seluruh komponen masyarakat dalam komunitas tersebut, tumbuhnya rasa memiliki dan tanggung jawab atas ide dan upaya yang digagas, munculnya kesepakatan dan komitmen untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan. Salah satu produk nyata yang dapat dilihat adalah dirumuskannya peraturan tingkat lokal. Jika ada, merekalah yang bertanggung jawab dan menjamin pelaksanaan serta kontrolnya.

Pendekatan multilevel dibutuhkan karena beberapa alasan. Alasan yang mendasari pentingnya intervensi berlapis tersebut antara lain:
  1. Pemakaian kondom pada WPS adalah bagian dari perilaku transaksional, setidaknya melibatkan dua orang (WPS dan pelanggan). Pada umumnya, dalam kegiatan transaksional semacam ini WPS berada dalam posisi yang lemah. Mengingat mereka harus mendapat penghasilan dalam jumlah tertentu untuk bertahan hidup dalam lingkungan tersebut.
  2. Kegiatan transaksional ini berkaitan dengan kepentingan ekonomi berbagai pihak di lokasi yakni WPS (sebagai pihak pertama), mucikari/manager/mami, penguasa lokasi seperti kepala/pengurus, keamanan, preman, serta berbagai tokoh kunci dan pemain lainnya. Keuntungan ekonomi para pemain/tokoh kunci tersebut sangat ditentukan seberapa besar WPS mampu menarik perhatian dan uang dari para pelanggan.
  3. Kegiatan transaksional ini berlangsung di suatu tempat yang memiliki hirarki sosial dan otoritas tertentu, dimana WPS hidup di dalam hirarki tersebut. Dalam lingkungan sosial semacam ini, WPS pada umumnya berada pada lapisan terbawah. Dengan pengertian, mereka harus menghasilkan uang untuk hidup, memiliki atasan yang menuntut diperolehnya penghasilan dalam jumlah tertentu, dan memenuhi tuntutan sosial dan ekonomi lainnya, yang lazim harus dipenuhi dalam lingkungan tersebut.

Dengan segala situasi tersebut, maka praktek memakai kondom dalam setiap hubungan seks berisiko serta pemeriksaan rutin dan pengobatan IMS efektif, tidak lagi sederhana.

Pemakaian kondom pada setiap hubungan seks berisiko. Sebagaimana hubungan seks, memakai kondom merupakan hubungan transaksional. Kesepakatan harus terjadi pada dua belah pihak. Dalam posisi membutuhkan uang, memiliki atasan yang mengontrol hidup serta beragamnya tuntutan sosial yang membawa konsekuensi ekonomi, sangat kecil ruang tersedia bagi WPS untuk bernegosiasi. Dalam situasi ini, sangat tidak masuk akal meletakkan tanggung jawab transaksi memakai kondom pada kemampuan negosiasi WPS semata. Oleh karenanya kesadaran untuk menjaga ‘kesehatan’ di dalam lingkungan semacam ini harus ditularkan dan menjadi tanggung jawab pada kelompok sosial yang lebih luas. Yakni kepada rekan serumah, sekerja, bahkan orang-orang kunci, tokoh masyarakat, dan pamong praja di lingkungan setempat. Pada sisi inilah peran komunitas dan aturan lokal berfungsi. Kewajiban memakai kondom pada setiap hubungan seks berisiko, tidak lagi dibebankan pada kemampuan negosiasi WPS semata, namun diintegrasikan dalam sistem sosial di tingkat komunitas. Aturan ditetapkan, dan bagi siapa pun yang melakukan hubungan transaksional tersebut harus mematuhinya.

Pemeriksaan rutin dan pengobatan IMS efektif bukan lagi sebagai kewajiban, namun menjadi hak WPS untuk mendapatkan layanan kesehatan yang tepat sebagaimana warga negara lainnya. Banyak mitos dan kebiasaan tidak tepat yang telah berurat akar diyakini, sehingga mempengaruhi praktek mencari layanan kesehatan pada kelompok ini. Oleh karenanya dibutuhkan dorongan yang lebih besar pula dari kelompok maupun lingkungan sosial yang lebih luas untuk meningkatkan kesadaran individu memeriksakan diri secara rutin serta mengobati IMS dengan benar dan efektif. Sekali lagi, kekuatan komunitas dan penegakan aturan lokal berperan penting dalam upaya mengintegrasikan kegiatan ini sebagai bagian dari sistem sosial di lokasi tersebut.

Unsur terakhir yang mampu menguatkan seluruh pendekatan di atas adalah perlindungan dan komitmen dari otoritas yang lebih tinggi. Lokasi hiburan beserta seluruh komunitasnya tentu berada dalam satu otoritas wilayah tertentu. Karenanya, dukungan dari Pemerintah setempat beserta unsur-unsur pendukungnya – setingkat kota/kabupaten – menjadi sangat penting. Situasi yang sangat diharapkan adalah instrumen dan sumber daya yang dibutuhkan tersedia untuk menjamin dan melindungi pelaksanaannya. Segala upaya untuk mendapatkan dukungan dari otoritas yang lebih tinggi inilah disebut dengan intervensi struktural.

Pendekatan multilevel di atas telah dilaksanakan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia, di provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Kepualuan Riau, dan Papua. Hasil yang menjanjikan dan menggembirakan dapat dilihat sekarang. Semua itu mungkin terjadi karena adanya kolaborasi dan komunikasi yang baik antar berbagai unsur: komunitas setempat, institusi layanan kesehatan dan pemerintah, serta difasilitasi dengan baik oleh lembaga swadaya masyarakat.

Tujuan yang tidak mudah dicapai tentu membutuhkan komitmen tinggi, kerja sungguh-sungguh, penyatuan sumber daya, dan kerjasama yang baik antar berbagai unsur. Walau masih banyak yang harus dibenahi dan ditingkatkan, harapan layak untuk digantungkan!

Dalam tulisan selanjutnya, penulis akan mengurai lebih rinci seluk beluk dalam intervensi multilevel pada pekerja seks komersial.

Link Terkait

· Lebih Banyak Tentang Narkoba
· Berita oleh administrator


Berita terpopuler tentang Narkoba:
PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Nilai Berita

Rata-rata: 4
Pemilih: 1


Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek

Opsi


 Versi Cetak Versi Cetak

 Beri tahu Teman Beri tahu Teman

    ilahi Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
To Facilitate a Network for HIV-AIDS Worker in Indonesia