Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"Untuk saudaraku LILIN ini memang hanya gambar saja...
TETAPI YAKINLAH didalam hati kita NYALA lilin ini benar2 berarti di HATI KITA SEMUA...
TETAP SEMANGAT SAUDARAKU.." oleh: rbw
Jawa Timur
Republika, 12 Juni 2008 Banjarmasin-RoL-- Korban
penyakit mematikan Aids (acquired immune deficiency syndrome) yang
disebabkan HIV (human immunodeficiency virus) di Kalimantan Selatan
(Kalsel) terus bertambah.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani, dalam acara sosialisasi
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di Sasangga Banua Gubernuran Kalsel,
Kamis, mengungkapkan, berdasarkan data pada Dinas Kesehatan Kalsel,
sejak tahun 2002 sampai dengan 2008 terdapat 106 warga Kalsel yang
positif menderita AIDS dan HIV dengan rincian 83 orang HIV dan 23 orang
AIDS, dan 9 diantaranya meninggal dunia.
Secara nasional, total penderita AIDS di Kalsel berada di urutan 25
dari 33 provinsi. Saat ini jumlah penderita Aids dan HIV di Indonesia
sebanyak 17.207 orang.
Memang sejauh ini belum ditemukan obat atau vaksin yang dapat
menyembuhkan total penderita Aids. Jadi, pengobatan atau terapi hanya
untuk memperpanjang agar penderita HIV tidak sampai meningkat menjadi
AIDS, katanya.
Mantan Kadinkes Kabupaten Banjar ini menjelaskan, sebaran penyakit AIDS
ibarat fenomena gunung es. Artinya, satu penderita bisa menjangkitkan
kepada 100 orang. Penyakit Aids, dapat menular melalui hubungan seks
tanpa kondom, penerimaan darah yang tercemar, perkongsian jarum suntik,
serta dari ibu kepada anaknya semasa mengandung, melahirkan, dan
menyusui.
Aids paling rentan tertular melalui hubungan seksual dan jarum suntik.
Karena itu, penderita AIDS paling banyak adalah pelaku seks bebas, dan
pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik, ujarnya.
Sebaliknya, papar Adhani, AIDS tidak akan tertular hanya berciuman atau
berpelukan, pergaulan sehari-harI di tempat umum seperti di sekolah
atau tempat kerja dengan penderita Aids, makan di restoran, serta
akibat gigitan nyamuk atau serangga lainnya.
Bahkan berenang satu kolam dengan penderita AIDS pun tidak akan
tertular, terangnya. Untuk menekan penderita AIDS dan HIV, paparnya,
tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan, tapi harus
melibatkan semua pihak, seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat.
"Untuk menekan penyakit AIDS berkaitan moral, budaya, serta wawasan
keagamaan. Sebab ya itu tadi, sebarannya paling banyak akibat pergaulan
seks bebas dan narkoba," kata Rosihan.
Salah satu upaya menekan jumlah penderita Aids, seperti memuat kampanye
Aids dalam ceramah-ceramah agama, kotbah di masjid, dan kegiatan
kemasyarakatan lainnya. Tak hanya itu saja, kampanye dan sosialisasi
penyakit AIDS juga dilakukan di sekolah-sekolah, sehingga remaja sejak
dini sudah mengetahui bahaya dan seputar penyakit AIDS.
Menyinggung kalau selama ini penderita AIDS dan HIV terkesan menutup
diri, Rosihan mengakui hal itu. Menurutnya, para penderita AIDS dan HIV
berusaha menutupi penyakitnya karena kalau diketahui masyarakat akan
diperlakukan diskriminatif. Itulah yang terjadi selama ini, penderita
AIDS seolah aib dan harus dijauhi. Padahal, tidak semua penderita AIDS
akibat pergaulan bebas dan narkoba.
Ada seorang dokter yang terjangkit HIV karena saat mengoperasi pasien
yang ternyata penderita HIV, virus terjangkit melalui darah karena saat
kontak tangan dokter itu ada luka, jelasnya.
Sementara mengenai rumah sakit rujukan penderita Aids dan HIV, jelas
Rosihan lagi, pasien bisa dibawa ke RSUD Ulin Banjarmasin atau RS
Ansyari Saleh Banjarmasin. Manajemen rumah sakit menjamin privasi
penderita Aids dan HIV yang berobat. antara/abi