A better strategic information for effecctive HIV - AIDS response in Indonesia   

Pilih Bahasa
(Select Interface Language)

English Indonesian
Google
 
Untuk Akses, Mohon Registrasi

Daftar Member Baru - Login Member
    HIV-tuberculosis co-infection is a global problem: resources need to be expanded and funding must be sustainable and predictable        PB IDI menyatakan bahwa kondom adalah alat kesehatan yang mampu mencegah penularan infeksi menular seksual (termasuk HIV) bila digunakan pada setiap kegiatan seks berisiko.        By enabling and empowering women to protect themselves and their partners with female condoms, we can begin saving lives and curbing the spread of HIV today.         Women need prevention now. They need access to the female condom and education on its use.        Indonesian AIDS Community (AIDS-INA) will use internet technologies for facilitating the dissemination and exchange of knowledge and experience in HIV/AIDS programme among all community members        Do you know that DFID provide £25 million in support of a large HIV and AIDS Programme in Indonesia started in 2005? Do you know where the fund have been allocated?        Apakah Menko KesRa atau Presiden SBY masih peduli terhadap penanggulangan penyakit menular, termasuk HIV-AIDS, TB, Malaria - di Indonesia? Indonesia sedang dalam kondisi sungguh sulit dengan dampak penularan yang terus meluas pada masyarakat yang miskin        Bila Konsep Akselerasi Upaya Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia tidak difahami dengan BENAR dan Berbasis evidence, maka TIDAK AKAN berhasil menahan laju epidemi HIV di Indonesia. Itu yang terjadi sekarang!        Further evidence to support a recommendation for exclusive breastfeeding by HIV-positive mothers in resource-limited settings        Deliver TB and HIV services in the context of fully functioning primary health care systems to ensure cases are detected, prevention is available and treatment accessible and sustained        Reach the most vulnerable populations with TB and HIV services Now!        The HIV service providers need to do : screening for TB and starting isoniazid preventive therapy if there is no sign of active TB.        To fight AIDS we must do more to fight TB (Nelson Mandella, 2004)        Violence makes women more susceptible to HIV infection and the fear of violent male reactions, physical and psychological, prevents many women from trying to find out more about it, discourages them from getting tested and stops them from getting treatmen        People at high risk of HIV exposure should be tested every three to six months in identifying recently infected people then we have to be able to counsel them to modify high-risk sexual behavior and desist from transmitting the virus        About half of new HIV cases occur when the person transmitting the virus is in the early stages of infection and unlikely to know if he or she is HIV-positive        HIV/AIDS Epidemic in Indonesia: not one ( single) epidemic but many (multiple) (riono, pandu)        Combating HIV-AIDS requires more than prevention and treatment. It requires improving the conditions under which people are free to choose safer life strategies and conditions.        Para pecandu yang butuh alat suntik (insul) steril, hubungi LSM setempat - Lihat pada Jejaring Layanan        Kurangi Dampak Akibat Bencana Napza dengan Upaya Pemulihan Pecandu yang komprehensif (metadon, Jarums steril, tes HIV dan Hep C, Pengobatan dan Dukungan)        Treatment without prevention is simply unsustainable! Pengobatan saja tanpa upaya pencegahan yang serius dan sistematik sama saja BOHONG!        1 Desember: keprihatinan global atas kegagalan kita!        Gunakan alat suntik steril untuk hindari penularan HIV dan Hepatitis        Pakai kondom pada setiap kegiatan seks berisiko, dapat mencegah penularan HIV        HIV tidak mudah menular dari satu orang ke orang lain        Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) adalah institusi koordinasi BUKAN Pelaksana program atau Implementor!!        Profesi Kesehatan perlu terlibat dan dilibatkan secara aktif dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS        Perluasan Masalah HIV-AIDS di Indonesia TIDAK mungkin dibatasi oleh wilayah administratif tertentu saja        Hindari diskriminasi dan stigmatisasi pada orang rawan dan orang yang telah terkena HIV        AIDS adalah kenyataan, lakukan tes HIV bila ingin tahu status anda        AIDS-INA - Sarana komunitas AIDS Indonesia untuk menyampaikan gagasan serta tukar informasi    

Menu

Referensi
 Kliping
 Estimasi
 Data Kasus
 Artikel
 Publikasi
 Perpustakaan
 Daftar Istilah

Jejaring
 KPAP/KPAK
 LSM-Institusi
 Individu
 Layanan AIDS
 Website
 Laporan Keg.

Agenda
 Internasional
 Nasional

Informasi Dasar
  Adiksi
  Harm Reduction
  HIV-AIDS
  IMS/RTI
  Tes HIV

Translate with
Google Translate

Lilin Kenangan

Lilin Kenangan
Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"Untuk saudara saudaraku diluar sana. Tetaplah berjuang. Kami semua disini akan selalu menyerukan bahwa hiv/aids bukan orangnya yang dijauhkan, melainkan penyakit nya. Tetaplah kuat saudara saudaraku. Tuhan senantiasa akan menjaga dan memberkati kalian semua"
oleh:
D
Bali

Nyalakan Lilin Anda

Partisipasi Anda

 Umpan Balik
 Kirim Kegiatan
 Kirim berita
 Join Mailist aids-ina

Pencarian


Google

Yang sedang online

Saat ini ada
67 tamu, 0 anggota
dan
Hari ini dikunjungi oleh 293 tamu/anggota

Pengunjung

Site ini telah dikunjungi
17875392 kali
sejak August 2006

Donation & Report

AIDsina Production: for Healthly Community
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!

Dukungan

Republik Indonesia

Departemen Kesehatan RI

AIDS Data Hub

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

Ikatan Dokter Indonesia

Power by
PHP Nuke

Kliping

Cari pada Topik Ini:   
[ Kembali ke Halaman Depan | Pilih Topik Baru ]
Kliping: 48 Orang Terjangkit HIV/Aids
Topik: HIV/AIDS
Solopos.com, 26 Agustus 2013

WONOGIRI -- Sebanyak 48 orang di terjangkit virus HIV/Aids. Tiga orang di antaranya adalah penderita baru atau baru diketahui pada Juli 2013.

Banyaknya jumlah penderita membuat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri menggagas pelatihan manajerial HIV/Aids bagi para petugas di 37 Puskesmas dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) atau kelompok penderita HIV/Aids yang berkomitmen saling memberi dukungan.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Suprio Heryanto, mewakili Kepala DKK Wonogiri, Widodo, membeberkan jumlah penderita HIV/Aids hingga pertengahan Agustus ini mencapai 48 orang. Jumlah itu terdiri atas 22 penderita baru pada tahun 2013 dan para penderita yang terjangkiti HIV/Aids pada 2001-2012 dan masih bertahan hidup. Jumlah tersebut sudah dikurangi penderita HIV/Aids yang meninggal dunia.

Suprio mencatat selama kurun waktu 12 tahun, di Kota Gaplek ditemukan 109 penderita HIV/Aids. Sebanyak 61 orang di antaranya meninggal dunia. “Yang masih hidup, masih bertahan sampai saat ini ada 48 orang. Tiga orang adalah penderita baru pada bulan Juli. Banyak hal yang membuat penderita akhirnya meninggal dunia, salah satunya karena banyak yang tidak mau berobat. Jadi sakit dibiarkan saja, kadang karena alasan malu,” terang dia, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (24/8/2013).

Menutup Diri

Sikap penderita yang menutup diri, diakui Suprio, menjadi kendala yang membuat DKK tidak bisa memantau dan mendorong pengobatan bagi penderita HIV/Aids. Menurutnya, hanya 30-an penderita HIV/Aids yang menjalani pengobatan antiretroviral, yaitu pengobatan untuk mencegah virus HIV berkembang. Keberadaan KDS diperlukan untuk menghadapi situasi di mana penderita HIV/Aids menutup diri. Untuk menguatkan peran KDS, DKK bakal menghelat pelatihan manajerial HIV/Aids.

Keberadaan KDS juga semakin penting sebab mulai tahun 2014 lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang selama ini mendampingi penderita HIV/Aids tidak lagi terikat kontrak dengan Kementerian Kesehatan. “Jadi mulai tahun 2014, tidak ada lagi LSM mendampingi penderita. Solusinya, ya dengan menyiapkan KDS dan petugas Puskesmas, memberi bekal pelatihan manajerial HIV/Aids. Sudah kami usulkan dananya dan sudah disetujui di APBD Perubahan 2013, tinggal kami menunggu saja cairnya,” ujar Suprio.

Selain menyiapkan sumber daya manusia (SDM), Suprio menambahkan pihaknya juga mengupayakan tambahan anggaran penanganan HIV/Aids pada 2014. Dia menjelaskan selama ini penderita HIV/Aids yang mau terbuka mendapat dukungan anggaran Rp500.000 per tahun. Tahun depan, anggaran yang diusulkan Rp60 juta untuk mengkaver semua penderita HIV/Aids di Wonogiri, termasuk mendukung operasional kegiatan KDS.

Dikirim oleh toto pada (1179 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 4)

    
Kliping: Meningkat, Kasus HIV/AIDS di Bangli
Topik: HIV/AIDS
Bali Post, 25 Agustus 2013

Bangli - Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Bangli dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data epidemiologi yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli, dari tahun 2004 hingga 2013 terhitung telah terjadi 148 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, dari sekian jumlah kasus tersebut, 7 orang di antaranya sudah meninggal dunia. Hal itu disampaikan Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bangli yang juga Wakil Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, di SMKN 1 Susut, Jumat (23/8).

Sedana Arta mengatakan, meski jumlah kasus penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Bangli meningkat, namun kondisi itu masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali. Namun, jumlah tersebut tetap penting untuk mendapat perhatian serius sejak dini bagi semua pihak khususnya masyarakat yang rentan terhadap perilaku seksual yang berisiko tinggi.

Dijelaskan juga dari 7.856 kasus HIV/AIDS komulatif di Provinsi Bali yang tercatat di Dinas Kesehatan Provinsi Bali, sekitar 50 persen menjangkiti kaum usia muda dan usia kerja. Sedana Arta menyampaikan pentingnya keberadaan sekolah untuk menekan tingginya kasus penyebaran HIV/AIDS di Bangli. ''Oleh karena itu, sekolah adalah salah satu tempat strategis untuk memberikan pendidikan tentang bahaya yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS dan narkoba,'' ungkapnya.

Dikirim oleh toto pada (988 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Jumlah ODHA di Soloraya Melonjak Tajam
Topik: Narkoba
Solopos.com, 25 Agustus 2013

SOLO - Jumlah orang dengan HIV/Aids (ODHA) di Soloraya mengalami peningkatan tajam. Hanya dalam waktu tujuh tahun, jumlah ODHA yang mendapatkan pendampingan naik hingga 2.000 persen lebih.

Menurut catatan Komunitas Gaya Mahardika, pada 2006 lalu jumlah ODHA yang ditemukan sejumlah komunitas kemudian diberi pendampingan hanya sekitar 46 orang. Setelah tujuh tahun lebih, jumlah ODHA di Soloraya yang mendapat pendampingan naik menjadi 1.032 orang.

“Tinggi sekali kan? Jumlah itu masih sedikit karena ODHA itu kan seperti juga fenomena gunung es. Yang tak mendapat pendampingan justru banyak sekali,” ujar Koordinator Komunitas Gaya Mahardika Solo, Yudi Mahardika kepada Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Menyandang label ODHA untuk saat ini sambung Yudi mendatangkan banyak masalah terutama dari kalangan keluarga dan masyarakat. konsekuensi dikucilkan sudah terbayang di mata. Itulah sebabnya banyak ODHA yang enggan berterus terang dan memilih menyembunyikan problem kesehatannya. Risiko bagi para ODHA yang tidak mendapat pendampingan menurut Yudi tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri namun juga oleh masyarakat.

“Biasanya yang tak mendapat pendampingan juga kesulitan dalam hal pengobatan. Sedang untuk risiko di masyarakat ya macam-macam. Saya sendiri tak berani membayangkan,” tuturnya.

Langkah Dinas Sosial Jateng memberi bantuan 25 unit handphone kepada penyandang ODHA yang menjadi dampingan Komunitas Gaya Mahardika menurut Yudi merupakan langkah yang patut diapresiasi. Dengan bantuan tersebut bisa sedikit memberi suntikan kepada para ODHA agar tetap semangat untuk tetap berkarya dan bekerja.

Senada dengan Yudi, Manajer Kasus Komunitas ODHA Gaya Mahardika, Puger Mulyono mengatakan setelah bantuan ponsel, pihaknya berencana mengajukan proposal bantuan pelatihan servis handphone bagi para ODHA. Jadi tak hanya menjual, dia berharap ODHA pun punya ketrampilan dalam mengelola toko handphone, baik menjual maupun memperbaikinya.

Dikirim oleh toto pada (959 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Tamu tak Suka Pakai Kondom Risiko Pekerjaan 'Ayam Kampus'
Topik: Narkoba
TRIBUNNEWS.COM, 24 Agustus 2013

KUPANG - Ada korelasi antara aktivitas pekerja seks dan jumlah pengidap HIV atau orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Kupang, NTT, yang persentasenya terus menanjak.

Data yang diperoleh Pos Kupang (Tribun Network) dari Kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPAD) Kota Kupang menggambarkan, morbiditas jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Kota Kupang sangat bervarian menurut profesi atau pekerjaan.

Dari total jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota Kupang, hingga 2013 ada 489 penderita HIV/AIDS, lima persen di antaranya adalah mahasiswa/mahasiswi.

Meskipun persentasenya kecil, keterlibatan oknum mahasiswi dalam praktik prostitusi di Kupang dengan menjadi 'ayam kampus', perlu dicermati karena latar belakang ekonomi.

Demi Biaya Studi

Ike (21), nama samaran, oknum mahasiswi semester V sebuah perguruan tinggi di Kota Kupang; dan Lisa (22), juga nama samaran), mahasiswi jurusan ilmu sosial pada sebuah perguruan tinggi di Kota Kupang, ketika diwawancari Pos Kupang, Jumat (23/8/2013), mengaku sebagai 'ayam kampus'.

"Ya, mau bagaimana lagi. Kami berdua terpaksa melakukan 'gituan' untuk membantu membiayai studi di perguruan tinggi," tutur Ike, yang tinggal di sebuah rumah kos di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

"Saya sudah dua tahun kuliah di Kupang. Beberapa teman oknum mahasiswi saya juga bisa 'dipakai' melayani tamu," ungkap Ike.

Gadis berkulit kuning langsat, secara gamblang mengaku mengenakan tarif hingga Rp 1 juta untuk sekali kencan.

"Tapi kalau diajak bermalam, biasanya tamu memberikan uang hingga Rp 2 juta. Biasanya, kami booking hotel bintang di Kota Kupang dengan membayar tarif hotel di atas Rp 500 ribu per malam," papar Ike.

Ike mengaku tidak sembarangan menerima pesanan tamu. Ia hanya mau menerima tamu 'berkelas'.

Sementara Lisa, mahasiswi semester VII, mengaku jika melayani tamu (short time), biasanya menetapkan bayaran Rp 500 ribu.

"Kalau bermalam di hotel biasanya tamu memberikan uang Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Jika pelayanan memuaskan dengan memberikan layanan plus, maka tamu biasanya memberikan lagi tambahan tip," aku Lisa dan Ike.

Ike dan Lisa mengaku umumnya tamu yang mereka layani tidak suka menggunakan kondom.

Dikirim oleh toto pada (1582 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 5)

    
Kliping: HIV/AIDS di Manado Tercatat 507 Kasus
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 24 Agustus 2013

MANADO - Adanya data terbaru, jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Kota Manado yang telah mencapai 507 kasus, Wakil Wali Kota Manado Harley Mangindaan SE MSM instruksikan lakukan verifikasi atau pembuktikan kebenaran untuk menentukan atau menguji akurasi data tersebut.

“Saya tunggu laporan verifikasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan dinas kesehatan. Berapa data per kecamatan agar kita bisa tahu jumlah persis yang benar akan kasus HIV/AIDS di Kota Manado. Ini juga sekaligus memudahkan dalam pengawasan dan pencegahan serta pemantauan di wilayah Manado,” ujar Mangindaan yang juga sebagai Wakil Ketua KPA Manado dalam rapat koordinasi bersama KPA Manado, Dinkes, serta LSM, Rabu (21/8/2013) di ruang Toar Lumimuut Pemko Manado.

Di satu sisi Mangindaan mengharapkan, penanggulangan HIV/AIDS jangan hanya tunggu anggaran karena AIDS juga tidak tunggu-tunggu menyebar. “Lokasi berpotensi akan lebih baik secara berkelanjutan bisa dipantau, serta terus diberi sosialisasi sampai ke sekolah,” harapnya.

Sekretaris KPA Kota Manado dr Gherce Waru mengakui data hingga bulan Mei 2013 lalu, kasus HIV 162 sedangkan AIDS 345. Artinya menurut Waru sudah ada 507 kasus HIV/AIDS di Kota Manado yang sebelumnya tahun 2012 baru 496. “Temuan ini diketahui dalam pemeriksaan di rumah sakit di Manado hingga mereka tercatat di Kota Manado meski ada pengidap yang berasal dari luar Kota Manado. Karena rumah sakit di Kota Manado lebih lengkap sehingga pemeriksanaan lebih condong ke Manado sehingga terakumulasi jumlah 507 di Kota Manado,” kata Waru.

Dikirim oleh toto pada (319 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Aktor kena AIDS, syuting film porno ditunda
Topik: Narkoba
Merdeka.com, 23 Agustus 2013

Industri film dewasa di San Fernando Valley, di Negara Bagian California, Amerika Serikat, mengumumkan telah menunda pembuatan film-film porno mereka dua hari lalu, setelah seorang aktor terbukti positif AIDS usai dilakukan tes. Aktor itu belum bisa diidentifikasi dan tidak dikatakan kapan tes itu dilakukan

Pasangan seks aktor itu saat ini juga sedang diuji oleh tim dokter bersama dengan tim dari Kesehatan Produksi dan Layanan keselamatan Film Dewasa, yang bekerja sama dengan industri film porno, seperti dilansir surat kabar the Washington Post, Kamis (22/8).

"Penundaan ini akan dicabut setelah risiko penularan telah dihilangkan," kata Diane Duke, direktur eksekutif Koalisi Kebebasan Berbicara, yang merupakan sebuah asosiasi dagang nirlaba industri pornografi dan hiburan dewasa di Amerika Serikat.

Namun, dia menjelaskan aktor itu tidak dipercaya dirinya telah terinfeksi saat pembutan sebuah film.

San Fernando Valley menjadi wilayah perintis yang memproduksi film-film dewasa pada 1970, dan sejak itu telah menjadi rumah bagi industri pornografi bernilai multi-miliar dolar Amerika.

Industri film porno di San Fernando Valley pernah melakukan tindakan penundaan serupa pada tahun lalu setelah belasan pemainnya terinfeksi wabah sifilis.

Penundaan terbaru ini dengan cepat menarik tanggapan dari penentang industri pornografi, di antaranya Michael Weinstein, dari Yayasan Kesehatan AIDS. Pihaknya berhasil melobi pemilih pada tahun lalu untuk mengadopsi sebuah peraturan di mana para aktor harus menggunakan kondom saat pembuatan film-film porno.

"Sudah berapa banyak pemain film porno yang terinfeksi dengan rangkaian penyakit seksual menular termasuk HIV, yang tidak dapat disembuhkan sebelum industri film porno menjalankan peraturan sesuai hukum yang mengharuskan penggunaan kondom," ujar Michael.

Dikirim oleh toto pada (512 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: FPI dan HTI Protes Pasal Kondom di Raperda HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 23 Agustus 2013

Pemakaian kondom saat melakukan hubungan seksual bagi kelompok berisiko tinggi, dinilai bukan solusi untuk pencegahan HIV/AIDS. Dalam Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS Pemkab Sumedang, bahkan ada sanksi pidana bagi yang tak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengan mereka yang berisiko tinggi terkena HIV/AIDS.

"Penggunaan kondom untuk mencegah HIV/AIDS itu bukan solusi. Hasil penelitian pori-pori kondom itu masih bisa ditembus oleh virus," kata Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sumedang, Fitra Sagara, Kamis (22/8/2013). Menurut Fitra, penggunaan kondom justru menjadi pintu legalisasi perzinahan dan seks bebas.

Sekretaris Pansus Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS, Rahmat Juliadi, mengatakan pihaknya mendapat protes dari HTI dan juga FPI terkait pasal tentang kondom itu.

"Sebelumnya Pansus menggundang MUI dan ormas Islam untuk dengar pendapat terkait penggunaan kondom untuk pencegahan bagi yang berisiko tinggi sampai sanksi pidana. MUI memberikan dukungan terhadap pasal itu," kata Rahmat, Kamis siang kemarin.

Menurut Rahmat, Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS Pemkab Sumedang, dimasukkan unsur MUI dan ormas keagamaan dalam struktur Komisi Penanggulangan AIDS.

Dikirim oleh toto pada (314 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Industri Film Porno Dihentikan Sementara Setelah Aktornya Positif AIDS
Topik: Narkoba
TRIBUNNEWS.COM, 23 Agustus 2013

Industri pembuat film porno di San Fernando, California mengumumkan penghentian produksi sementara, setelah diketahui salah satu bintangnya positif mengidap HIV Aids.

Kebijakan moratorium tersebut diberlakukan sejak hari Kamis (22/8/2013) kemarin. Sayangnya, keputusan itu sedikit terlambat karena sang aktor yang mengidap HIV ini ternyata tak diketahui secepatnya, dan pihak yang berwenang juga tak mengatakan kapan hasil positif itu diperoleh. Apalagi, belakangan diketahui bahwa aktor tersebut tak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi virus HIV.

Untuk memastikan bahwa HIV itu belum menular kepada para bintang porno lainnya, kini Layanan Kesehatan dan Keamanan Produksi Film Porno tengah melakukan tes kepada lawan mainnya dalam beberapa judul film.

Kebijakan moratorium tersebut akan terus diberlakukan sampai ada kejelasan mengenai penyebaran virus HIV ini dikalangan para pemain film dewasa tersebut. Hal itu disampaikan Diane Duke, seorang eksekutif direktur produsen sebuah industri film porno saat menjawab pertanyaan dari Associated Press melalui email.

"Faktanya sejak tahun 2004, hanya pernah ditemukan dua kasus positif HIV. Jika sekarang ini positif, maka menambah jadi tiga kasus dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Bukan hanya di Los Angeles, tapi juga di seluruh dunia," tambahnya.

Dikirim oleh toto pada (472 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: FightAIDS@Home, Dukungan Melawan AIDS Tanpa Upaya
Topik: Narkoba
Okezone.com, 22 Agustus 2013

LONDON - AIDS adalah penyakit mematikan yang sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan secara total. Terkini, penekanan angka penderita AIDS hadir lewat teknologi.

World Community Grid meluncurkan program FightAIDS@Home untuk mendukung upaya pemberatasan penyakit AIDS di dunia. Program perlawanan terhadap penyakit AIDS ini bekerja pada sistem operasi Android pada ponsel pintar ataupun tablet.

Sebagaimana dikutip dari laman resminya, untuk mengikuti program FightAIDS@Home seseorang diharuskan melakukan registrasi dan mendowload piranti lunak serta menginstalasinya di smartphone atau tablet berbasis Android. Sebagaimana dikutip dari Ubergizmo, aplikasi tersebut bekerja saat perangkat smartphone dan tablet dalam keadaan mati.

Dikirim oleh toto pada (247 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Tak Pakai Kondom di Sumedang Denda Rp 50 Juta
Topik: Narkoba
TRIBUNNEWS.COM, 22 Agustus 2013

SUMEDANG - Panitia Khusus (Pansus) DPRD Sumedang, Jawa Barat, yang membahas raperda tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, sepakat dengan pidana bagi pria yang tak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual berisiko tinggi.

Sekretaris Pansus Rahmat Juliadi menyebutkan, saat disampaikan ke ormas dan LSM, ternyata semua sepakat.

"Jangan sampai setelah DPRD mengetuk palu menyetujui, ada pihak yang memerotes dan merasa tidak dilibatkan," kata Rahmat di DPRD, Rabu (21/8/2013).

Rahmat menyebutkan saat pembahasan, raperda ini banyak ditentang.

"Dengan penggunaan kondom seolah-olah ada legalisai seks bebas, apalagi sampai ada pasal pidana bagi yang tak menggunakan kondom," ujar Rahmat.

Sehingga, lanjutnya, ormas dan LSM diajak mendiskusikan tentang pasal penggunaan kondom dan sanksi pidananya.

"Ternyata saat dengar pendapat, tak ada ormas yang menentang. Bahkan, dari Majelis Ulama Indonesia sepakat," ungkap Rahmat.

Dalam rapat dengan pendapat, MUI menyepakati karena penggunaan kondom untuk pencegahan dan penanggulangan virus berbahaya. Namun, tidak berarti MUI mendukung adanya seks bebas.

"MUI menyebutkan konteksnya untuk penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, bukan dukungan terhadap seks bebas, dan ada upaya lain dalam rangka melarang seks bebas," jelasnya.

Dalam raperda disebutkan, mereka yang melanggar akan dipidana hukuman kurungan tiga bulan, atau denda Rp 50 juta.

Raperda juga mengatur setiap orang dengan HIV/AIDS (Odha), berhak mendapat perlindungan dari tindakan diskriminasi.

ODHA mendapat perlindungan dari pemecatan sepihak dari pekerjaan, tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai, ditolak bertempat tinggal di tempat yang dipihih ODHA, serta ditolak mengikuti pendidikan formal dan informal.

Dikirim oleh toto pada (320 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Terapi Kesehatan dengan Binatang Diekspor Hingga ke Mancanegara, Tokek Diklaim B
Topik: Narkoba
Detik.com, 21 Agustus 2013

Jakarta, Dalam film terbaru Spider-Man, seorang dokter berubah menjadi manusia cicak demi memulihkan tangannya yang telah diamputasi. Kemampuan ini merujuk pada cicak yang dapat menumbuhkan ekornya yang putus. Khasiat lebih hebat diyakini ada pada sesama hewan melata, tokek, yaitu dapat menyembuhkan AIDS.

Penyakit yang menjadi momok banyak orang ini sampai sekarang masih belum ditemukan penangkalnya, walau sudah ada 3 orang yang sembuh dengan pengobatan tertentu. Yang santer beredar malah khasiat tokek sebagai penangkal HIV/AIDS, sehingga membuat hewan melata ini banyak diburu.

Bahkan pada akhir tahun 2011 lalu, TRAFFIC South Asia, lembaga yang memantau kelestarian satwa dan flora liar, menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa permintaan tokek telah meroket selama beberapa tahun terakhir. Penyebabnya karena berbagai blog, artikel surat kabar dan internet, serta pedagang satwa liar memuji khasiat hewan ini sebagai obat ajaib.

"TRAFFIC khawatir pada peningkatan besar dalam perdagangan tokek ini. Jika perdagangan terus menjamur, bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan terhadap populasi tokek," kata Chris R.Shepherd, wakil direktur regional TRAFFIC seperti dilansir New York Daily News, Rabu (21/8/2013).

Sejak tahun 1998 hingga 2002, TRAFFIC mencatat sudah ada lebih dari 8,5 ton tokek kering yang diimpor secara ilegal ke Amerika Serikat untuk digunakan sebagai obat tradisional. Sejumlah besar permintaan tersebut dipenuhi dari Asia, terutama China. Bahkan petugas bea cukai di Indonesia juga pernah menggagalkan upaya penyelundupan tokek kering ke Hong Kong dan China.

Menanggapi hal tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lantas menegaskan bahwa laporan yang menyatakan manfaat tokek untuk menyembuhkan AIDS hanyalah isapan jempol belaka. Seperti dikutip dari The Star, pernyataan WHO ini dimuat dalam laman akun Facebook-nya.

"Kami ingin mengingatkan Anda bahwa tokek bukanlah obat untuk HIV/AIDS, ataupun kanker. Desas-desus yang mengatakan sebaliknya adalah kebohongan. Tidak ada bukti ilmiah bahwa tokek dapat menyembuhkan HIV/AIDS atau kanker. Juga tidak ada informasi tentang keselamatan dan konsekuensi kesehatan dari konsumsi tokek," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Sejak bertahun-tahun yang lalu, tokek diyakini berkhasiat sebagai obat tradisional untuk mengatasi penyakit seperti diabetes, asma, penyakit kulit dan kanker. Bangkainya yang sudah mengering digiling menjadi bubuk untuk dikonsumsi. Di beberapa negara Asia, tokek bahkan dicampur anggur atau wiski dan dikonsumsi sebagai obat penambah stamina.

Dikirim oleh toto pada (257 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: HIV/AIDS Jangkiti Warga Berusia 23-34 Tahun
Topik: HIV/AIDS
Pontianak Post, 21 Agustus 2013

SAMBAS – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sambas menggelar pertemuan membahas laporan kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS, periode Januari – Juli 2013. Pertemuan dipusatkan di Aula Kantor PKBI Kabupaten Sambas, Selasa (20/8), dengan dibuka kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten Sambas, I Ketut Sukarja.

Saat membacakan sambutan Wakil Bupati (Wabup) Sambas selaku Ketua Pelaksana KPA Kabupaten Sambas, Kadis Kesehatan menyebutkan bahwa di Bumi Terpikat Terigas ini, isu strategis, terutama kasus HIV/AIDS, masih tetap harus menjadi perhatian penting para pemangku kepentingan di kabupaten ini.

“Jumlah kasus secara kumulatif dari tahun 2000 sampai Bulan Mei 2013 berjumlah 235 kasus, dengan kasus HIV sebanyak 152 kasus, dan AIDS sebanyak 83 kasus,” ulas dia. Dipaparkan Ketut, dari jumlah tersebut, yang telah meninggal dunia mencapai 75 orang, dan yang bertahan hidup sebanyak 160 orang. Faktor risiko terbesar, menurut dia, dari hubungan seks heteroseksual sebanyak 130 kasus, di mana faktor usia terbanyak antara 25 tahun hingga 34 tahun, sebanyak 111 kasus. “Upaya mengatasi epidemi HIV dan AIDS ini hanya akan berhasil bila semua komponen masyarakat bersatu, dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS, dengan didukung penuh komitmen yang tinggi dan kepemimpinan yang baik dari pemerintah,” ungkap Ketut.

Agenda pertemuan KPA Kabupaten Sambas tersebut di antaranya membahas isu dan usulan-usulan strategis, terkait peningkatan upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke depan, maupun membahas capaian program yang telah ditempuh. Pemerintah, kata dia, melalui Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri), telah mengeluarkan instruksi nomor 444.24/2259/SJ tentang Penguatan Kelembagaan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Daerah, pada 3 Mei lalu. Dalam instruksi tersebut, dikatakan dia bahwa Mendagri telah memerintahkan kepada pemerintah daerah, agar membuktikan komitmen nyata mereka dalam mencegah penularan, mengurangi penderita, dan mengantisipasi dampak sosial dan ekonomis, termasuk epidemi HIV dan AIDS di daerah. Para gubernur, bupati, dan wali kota, ditambahkan Ketut, dimintai oleh Mendagri, agar segera membentuk Komisi Penanggulangan AIDS dan memimpin langsung KPA di daerah.

“Pada instruksi tersebut, mulai asisten yang membidangi kesejahteraan rakyat, untuk mengusulkan segera program pengurangan penderita, pencegahan, dan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah kepada sekretaris daerah, satuan polisi pamong praja diminta terlibat langsung dalam upaya penanggulangan itu, sesuai Surat Edaran Mendagri Nomor 33.1/2803/SJ tanggal 24 Juli 2012 dan rencana aksi daerah,” tegasnya.

Dikirim oleh toto pada (280 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Jaktim Tertinggi Jumlah Penderita HIV/AIDS di Ibukota
Topik: HIV/AIDS
Suara Pembaruan, 21 Agustus 2013

[JAKARTA] Wilayah Jakarta Timur memiliki jumlah penderita HIV/ AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquired immune deficiency syndrome) tertinggi dibanding lima wilayah lain yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

Berdasarkan data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS Kota (KPAK) Jakarta Timur, dari Januari hingga Agustus ini, di Jakarta Timur jumlah penderita HIV AIDS mencapai 381 orang. Sementara wilayah dengan penderita HIV/AIDS terbanyak kedua ditempati Jakarta Barat dengan jumlah penderita sebanyak 369 orang.

Sekretaris KPAK Jakarta Timur, Dedy Samsudi, mengatakan jumlah penderita tersebut diperoleh dari laporan pihak Rumah Sakit dan Puskesmas yang telah mendeteksi dan menangani para penderita.

"Jumlah penderitanya lebih tinggi dari Jakarta Barat yang banyak lokasi hiburannya. Di Jakarta Timur ada 381 orang, dengan rincian 141 orang terserang HIV dan yang menderita AIDS ada 240 orang," kata Dedy saat sosialisasi HIV/ AIDS kepada para pemuda d Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Selasa (20/8).

Dedy mengaku belum dapat mendeteksi penyebab tingginya jumlah penderita di wilayah Jakarta Timur. Namun, berdasar data yang dihimpunnya, para penderita mayoritas berusia produktif, yakni antara usia 25 hingga 40 tahun.

"Kalau penularannya bisa melalui hubungan seks bebas dan bisa juga melalui jarum suntik. Salah satu penularannya ya melalui sana," katanya.

Mengetahui tingginya jumlah penderita virus yang membunuh sistem kekebalan tubuh tersebut, Wakil Walikota Jakarta Timur, Husein Murad, mengaku merasa miris. Pasalnya, jumlah tersebut melebihi rata-rata jumlah penderita di wilayah lainnya.

"Jumlah penderita se-DKI Jakarta sendiri ada 1.571. Kalau di angka rata-ratakan dengan jumlah 5 kota dan satu kabupaten, seharusnya tidak lebih dari 300an," katanya.

Untuk itu, Husein Murad menegaskan, pihaknya akan semakin menggencarkan kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut.

Dikatakan, hingga saat ini, sudah ada 5 RW di lima Kecamatan di wilayah Jakarta Timur, yang membentuk Forum Peduli HIV/ AIDS. Kelima RW tersebut antara lain RW 16 Kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara; RW 16 Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramatjati; RW 06 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit; dan RW 01 Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas; serta RW 01 Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo.

"Di RW 16 Bidaracina dan RW 03 Kebon Manggis, ada forum masyarakat yang khusus concern pada bahaya jarum suntik sebagai media penularan HIV AIDS," ujarnya.

Selain melalui kelompok-kelompok masyarakat di lingkungan tempat tinggal, Husein mengatakan, pihaknya juga merangkul sekolah yang ada di Jakarta Timur untuk terus menyosialisasikan mengenai HIV/AIDS. Menurutnya, peran mengampanyekan dan menyosialisasikan HIV/ AIDS di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran UKS (Unit Kesehatan Sekolah).

Dikirim oleh toto pada (263 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Calon Pengantin di Sumedang Diusulkan Wajib Tes HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
TRIBUNNEWS.COM, 21 Agustus 2013

SUMEDANG - Pasangan calon pengantin diusulkan menjalani tes HIV/AIDS.

Usulan itu mengemuka saat dengar pendapat dari masyarakat, yang dilakukan Panitia Khusus (Pansus) Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di DPRD Sumedang, Jawa Barat, Selasa (20/8/2013).

Sekretaris Pansus drg Rahmat Juliadi mengatakan, usulan muncul untuk melindungi dan mencegah pasangan pengantin dari penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

"Saat pembahasan Raperda, muncul usulan supaya calon pengantin dites HIV/AIDS sebelum menikah," kata Rahmat, Selasa.

Menurut Rahmat, pasangan calon pengantin harus tahu kondisi pasangannya.

"Orang punya hak untuk sehat. Seperti orang merokok, itu haknya, tapi orang yang tidak merokok juga punya hak tidak menerima asap rokok," tuturnya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sumedang Hilman Taufik menyebutkan, wacana tes HIV/AIDS bagus dimunculkan.

"Tidak ada yang tidak mungkin. Usulan itu bagus diwacanakan," ucap Hilman.

Menurut Hilman, banyak ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya.

Dikirim oleh toto pada (257 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Jaktim Juara Tingkat DKI Soal Penderita HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Harian Terbit, 20 Agustus 2013

JAKARTA — Wilayah Jakarta Timur terbanyak penduduknya menderita HIV/AIDS dibanding wilayah lain di Provinsi DKI Jakarta. Hingga Agustus tahun ini, tercatat ada 381 orang di Jakarta Timur penderita HIV/AIDS. Jumlah ini terbanyak di DKI, di atas angka Jakarta Barat yang mencapai 360 orang.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Kota (KPAK) Jakarta Timur, Dedy Samsudi menyebutkan, tingginya jumlah penduduk di Jakarta Timur yang mengidap HIV/AIDS. Jumlah penderita HIV/AIDS di Jaktim capai 381 orang

“Jumlah penderitanya lebih tinggi dari Jakarta Barat yang banyak lokasi hiburannya. Ada 381 orang dengan rincian, 141 orang terserang HIV dan yang menderita Aids ada 240 orang,” paparnya.

Dedy Samsudi, mengatakan bahwa jumlah penderita tersebut di dapat dari laporan pihak Rumah Sakit dan Puskesmas yang telah melakukan pendeteksian serta penanganan terhadap para penderita.

Tingginya jumlah penderita tersebut belum bisa dideteksi pasti apa yang menjadi pemicunya. Meskipun dilihat kelompok usia penderita mayoritas dalam usia produktif, antara 25 – 40 tahun.

“Kalau penularannya bisa melalui hubungan seks bebas dan bisa juga melalui jarum suntik. Salah satu penularannya ya melalui sana,” tegasnya.

Wakil Walikota Jakarta Timur, Husein Murad, mengaku miris dengan tingginya angka tersebut. “Jumlah penderita se-DKI Jakarta ada 1571,” katanya.

Husein mengatakan akan semakin menggencarkan kampanye dan sosialisasi di masyarakat guna mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS. “Kita merangkul kelompok-kelompok di masyarakat agar lebih giat melakukan kampanye dan sosialisasi bahaya HIV/AIDS,” katanya.

Seperti saat ini sudah ada 5 RW di lima Kecamatan se-Jakarta Timur, yang membentuk Forum Peduli HIV/AIDS. Seperti di RW 16 Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, RW 16 Cililitan, Kramatjati, RW 06 Malakajaya, Duren Sawit dan RW 01 Ciracas, Ciracas.

Dikirim oleh toto pada (242 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Semua Warga Zimbabwe Dipaksa Tes HIV AIDS
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 20 Agustus 2013

Harare: Untuk membasmi penyebaran HIV AIDS di negara yang ia pimpin, Robert Mugabe menyarankan kepada seluruh masyarakat Zimbabwe untuk secara sukarela melakukan tes HIV.

Dikirim oleh toto pada (305 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 20 Agustus 2013

DENPASAR -- Kaum perempuan lebih rentan tertular virus HIV dibandingkan laki-laki dilihat dari sisi biologis dan hubungan sosial. Hal ini disampaikan Ketua Pokja CST Komisi Penanggulangan AIDS Bali, Tuti Parwati Merati.

"Pada banyak kasus, sering ditemukan seorang istri yang hanya diam di rumah dan pada saat gadis tidak melakukan perilaku berisiko ternyata terkena HIV. Mereka tertular dari suaminya yang melakukan hubungan seksual bergonta-ganti pasangan," kata Tuti di Denpasar, Selasa (20/8).

Menurutnya, yang membidangi pokja Pengobatan, Perawatan dan Dukungan (CST) bagi penderita HIV/AIDS, kaum laki-laki posisinya jauh lebih bisa menentukan nasib dirinya untuk tertular atau tidak, serta mencari cara supaya tidak menularkan dibandingkan kaum perempuan.

"Ditinjau dari segi biologis, bentuk organ reproduksi perempuan memungkinkan lebih banyak menampung cairan sperma yang kemungkinan mengandung virus HIV. Apalagi kondom khusus perempuan belum dijual bebas, harganya jauh lebih mahal dibandingkan kondom untuk pria dan kurang diminati pemakaiannya," ujar Tuti.

Dari sisi sosial, perempuan harus mengemban tugas rangkap. Tidak hanya di ranah domestik dengan berbagai kegiatannya mengurus rumah tangga dan tak sedikit harus bekerja. Akibatnya perempuan seakan tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri dan kondisi kesehatannya.

"Kaum perempuan seringkali baru memeriksakan dirinya sangat terlambat ketika sudah dalam kondisi sakit dan sudah pada fase AIDS. Demikian juga terkait akses informasi, ketika ada sosialisasi HIV/AIDS, kerapkali yang diprioritaskan mendapatkan informasi hanya kaum pria," kata Tuti.

Kunci tidak menularkan HIV, kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu, sebenarnya terletak pada kaum laki-laki. Masalahnya apakah mereka mau membuat perubahan atau tidak dan tidak menularkan pada pasangan dengan memakai kondom?

"Harapan kami perempuan bisa lebih waspada, sadar dan mendapatkan informasi kesehatan secara seimbang. Memang peran perempuan dalam rumah tangga cukup berat, namun harus sensitif membaca keadaaan lingkungan termasuk perilaku suami," ujar Tuti.

Dikirim oleh toto pada (275 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Angka Kematian Terkait HIV Meningkat di 98 Negara
Topik: HIV/AIDS
VOA, 20 Agustus 2013

PHNOM PENH
— Sebuah studi global yang dirilis Selasa (20/8) menunjukkan hasil beragam terkait upaya-upaya yang dilakukan oleh sejumlah negara dalam mengatasi epidemi HIV.

Sementara beberapa negara di Asia Tenggara telah mencapai kemajuan yang baik dalam melawan penyakit, situasinya masih suram di negara-negara lainnya, termasuk Indonesia, Vietnam dan Filipina.

Laporan yang dirilis oleh Institut Kesehatan Metrik dan Evaluasi (IHME) di Universitas Washington di Amerika menemukan bahwa kematian akibat penyakit terkait HIV meningkat lebih dari separuh di ke-187 negara yang disurvei.

“Angka kematian terkait HIV meningkat di 98 negara. Jadi, walaupun beberapa negara yang menanggung beban berat telah mencapai kemajuan besar dalam mengurangi epidemi itu dalam dekade terakhir, HIV muncul dalam populasi yang belum pernah terkena sebelumnya. Di Asia Tenggara, negara-negara yang meningkat angka kematian HIV-nya adalah Indonesia, Laos, Filipina, Sri Lanka, Vietnam,” ujar penulis utama laporan tersebut, Katrina Ortblad.

Sejak HIV pertama kali muncul 1980, penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di dunia, sebagian besar menyerang kaum muda yang aktif secara ekonomi.

Penyakit ini paling umum di sub-Sahara Afrika, tempat HIV dianggap sebagai epidemi umum yang mempengaruhi populasi secara lebih luas.

Di Asia Tenggara, seperti di sebagian besar wilayah di dunia, HIV disebut sebagai epidemi yang terkonsentrasi: Mempengaruhi kelompok-kelompok tertentu seperti pekerja seks, orang yang menyuntikkan narkoba, atau laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki.

Laporan IHME itu menganalisa dampak HIV/AIDS dalam kaitannya dengan sejumlah penyakit besar lainnya termasuk kanker, jantung, malaria dan diare, dan berbagai penyakit lain yang berjumlah hampir 300 jenis. Juga diperhitungkan dampak kematian akibat kecelakaan di jalan-jalan. Data yang mendukung penelitian ini diambil dari UNAIDS dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan tersebut mengkalkulasi apa yang disebut beban kesehatan dengan memperhitungkan jumlah tahun yang hilang akibat kematian dini pada setiap penyakit atau kecelakaan, serta waktu yang hilang karena sakit sebelum penderitanya meninggal.

Ini memungkinkan para peneliti untuk membandingkan beban kesehatan HIV atau AIDS pada masing-masing negara dan membandingkan antara satu negara dengan lainnya.

Dikirim oleh toto pada (233 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Pemain Film Dewasa Wajib Pakai Kondom, Jika Tidak Ada Sanksinya
Topik: Narkoba
Liputan6.com, 18 Agustus 2013

New York: Keputusan mutlak baru saja diterapkan di Amerika Serikat. Karena sebuah sanksi hukum menanti disana, jika semua pemain film dewasa tidak menggunakan kondom.

Namun keputusan ini banyak memiliki gugatan. Karena beberapa produsen film porno menilai, hal ini dirasa tidak perlu.

Dalam putusannya beberapa waktu lalu, seorang hakim Dean Pregerson menulis bahwa keputusan ini sudah dipikirkan risiko kesehatannya. Dan tentunya pemerintah setempat ingin mengurangi angka AIDS.

Berbeda dengan para produsen film porno, salah satu Presiden dari AHF (AIDS Healthcare Foundation) sangat senang dengan keputusan tersebut.

Dikirim oleh toto pada (1245 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Amanda Seyfried Nonton Film Porno Saat Umur 6 Tahun!
Topik: Narkoba
GATRAnews, 16 Agustus 2013

Jakarta - Aktris muda Hollywood Amanda Seyfried mengakui bahwa ia sebenarnya merasa takut memerankan karakter bintang film porno, Linda Lovelace dalam film Lovelace. Seyfried yang tampil telanjang dada di film tersebut mengklaim bahwa film Lovelace merupakan film beresiko terbesar yang dibuat Hollywood setelah sekian lama.

Dalam wawancara dengan majalah dengan the Sunday Times, Seyfried mengatakan, bermain di film paling beresiko tersebut wajar membuatnya berpikir akan mengacaukan kariernya. Namun, ia menambahkan bahwa akhirnya ia mendapat peran telanjang di layar lebar, dan merasa bebas.

"Rasanya lucu, karena aku merasa dibebaskan ketika melakukannya. Aku yakin orang-orang yang protektif terhadapku juga tidak akan merasa nyaman dengan itu. Namun, sebenarnya itu bukan masalah besar," kata Seyfried, seperti dikutip dari The Huffington Post.

Aktris yang tahun lalu tampil di film musikal Les Misérables itu mengungkapkan bahwa ia pertama kali menonton tayangan pornografi pada usia 6 tahun, kemudian sebagai anak kecil ia takut terkena AIDS setelah menontonnya. "Saat itu usiaku lima atau enam tahun. Dalam filmnya ada seorang yang berpakaian polisi. Itu kali pertama aku melihat alat kelamin lelaki dengan sangat jelas dan sangat menakutkan," kata Seyfried, dalam wawancara dengan tabloid The Sun.

Dikirim oleh toto pada (300 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Dengan Pramuka Cegah HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Suara Merdeka.com, 15 Agustus 2013

Berbadan tegap, pakaian serba coklat dan memakai baret belambangkan tunas kelapa. Sudah bisa tebak kawan? Yes, itu Pramuka. Kemarin, 14 Agustus 2013, kita baru saja merayakan Hari Pramuka yang ke-52. Apa yang kamu pikirkan kalau mendengar kita pramuka? Mungkin selama ini pramuka dikenal sebagai kegiatan yang diisi dengan berkemah, tepuk tangan dan bernyanyi saja. Tapi, tahu nggak kawan, kalau pramuka juga bisa menjadi cara untuk mencegah HIV/AIDS.

Kita tahu, kalau sebagian besar orang yang terinfeksi HIV/AIDS adalah generasi muda yang berusia 20-29 tahun. Padahal mereka adalah harapan bangsa lho. Nah, salah satu pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan mengisi waktu luang generasi muda ini melalui kegiatan dan aktivitas positif, salah satunya adalah ikut kegiatan pramuka.

Di balik berkemah, tepuk tangan dan bernyanyi, itu ada nilai-nilai yang ditanamkan dalam kegiatan pramuka lho. Karena tujuan dari pramuka itu sendiri adalah membentuk karakter sehingga memiliki watak dan akhlak mulia, menanamkan rasa cinta dan semangat kebangsaan serta membekali generasi muda dengan berbagai keterampilan hidup.

Waktu mengikuti kegiatan pramuka seseorang akan belajar dengan interaktif di alam terbuka, permainan yang menantang yang mengandung nilai-nilai tertentu, ada unsur kompetitif serta di bawah bimbingan orang pembinanya.

Dikirim oleh toto pada (187 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Sempat Dirawat di RSUD Pandanaran Boyolali Anak Jalanan Meninggal Akibat Penyaki
Topik: Narkoba
Timlo.net, 15 Agustus 2013

Boyolali – Diduga anak jalanan, seorang pemuda diperkirakan berusia 30an tahun meninggal dunia karena menderita penyakit HIV AIDS. Korban diduga anak jalanan dan sempat dirawat selama lima hari di RSUD Pandanaran Boyolali sebelum menghembuskan napas.

Kabid P2PL Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ahmad Muzayin mengungkapkan, korban kali pertama datang bersama pasagannya ke LSM Peduli Kasih Kecamatan Ampel pada 3 Agustus lalu.Mereka mengaku berasal dari Sragen dan terlihat sebagai Anjal yang tengah sakit. Lantaran kondisinya sudah sakit parah, korban kemudian dibawa ke RSU Pandanarang untuk pengobatan.

Setelah dilakukan pemeriksaan, korban ternyata menderita AIDS dengan kondisi yang cukup parah. Sayang, meski sempat mendapat perawatan intensif hingga beberapa hari, namun pada Kamis (8/8) atau tepat saat Lebaran, korban menghembuskan nafas terakhirnya. Pihak rumah sakit kemudian mencoba menghubungi keluarga korban melalui LSM Peduli Kasih. Sayangnya, identitas korban tidak diketahui. Bahkan ketika ditelusur ke alamat di Sragen yang diberikan saat awal datang, ternyata tidak ada warga yang mengaku kenal korban. Sementara pasangan perempuan korban juga menghilang, sehingga identitas korban masih buram.

“Setelah kita tunggu selama lima hari ternyata tidak ada keluarga yang mengakui, akhirnya kita makamkan di Sonolayu,” ungkap Muzayin ditemui di ruang kerjanya, Kamis (15/8).

Direktur RSU Pandanarang, Endang Sri Widati membenarkan kejadian tersebut. Menurut Endang, korban sempat dirawat namun lantaran penyakitnya sudah parah hingga akhirnya korban meninggal. “Diduga korban menderita AIDS yang sudah akut,” jelasnya.

Ciri-ciri korban di antaranya, selain berusia sekitar 30-an tahun, berperawakan kurus dan berambut pendek lurus serta tinggi badan sekitar 160 sentimeter. Korban saat dirawat mengenakan kaos bergaris lorek merah putih dan mengenakan celana panjang jeans warna biru. Korban diduga kuat merupakan anan jalanan.

Dikirim oleh toto pada (222 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: KASUS HIV/AIDS RSUD Pandanarang Telusuri Keluarga Pasien, Hasil Nihil
Topik: HIV/AIDS
Solopos.com, 15 Agustus 2013

BOYOLALI – Pria tanpa identitas mengidap AIDS, meninggal dunia di RSUD Pandanarang Boyolali, Kamis (8/8/2013) lalu. Pihak RSUD Pandanarang telah menelusuri keluarga pasien, hingga Kamis (15/8/2013) hasilnya nihil.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, Pemberantasan Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali, Achmad Muzzayin, mewakili Kepala Dinkes, Yulianto Prabowo, mengatakan pihak rumah sakit kemudian berusaha menelusuri asal usul pasien tersebut.

Berdasarkan alamat yang diberikan oleh teman pasien yang mengantarkannya ke rumah sakit, pria tersebut diketahui tinggal di Kabupaten Sragen.

Pihak rumah sakit bersama aparat kepolisian mencoba menelusuri alamat tersebut. Sayangnya, ketika sudah ditemukan alamat tersebut, pemilik alamat mengaku tidak mengenal pasien tersebut.

Lima hari setelah pasien tersebut meninggal, jenazahnya akhirnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sonolayu.

Terpisah, Direktur RSUD Pandanarang Boyolali, Endang Sri Widati, saat dimintai konfirmasi, membenarkan kejadian tersebut.

Menurut Endang, korban sempat dirawat namun lantaran penyakitnya sudah parah hingga akhirnya korban meninggal.

“Diduga korban menderita AIDS yang sudah akut,” jelas dia.

Sementara itu ciri-ciri korban antara lain tinggi badan sekitar 160 cm, berusia sekitar 30 tahun, perawakan kurus dan berambut pendek lurus.

Dikirim oleh toto pada (176 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: KASUS HIV/AIDS Pria Tanpa Identitas Meninggal di RSUD Pandanarang Boyolali
Topik: HIV/AIDS
Solopos.com, 15 Agustus 2013

BOYOLALI – Kasus HIV/Aids di wilayah Soloraya menunjukkan tren naik. Seorang pria tanpa identitas yang diketahui mengidap penyakit AIDS, meninggal dunia di RSUD Pandanarang Boyolali, Kamis (8/8/2013) lalu.

Hingga Kamis (15/8), asal usul pasien AIDS tersebut belum diketahui. Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, Pemberantasan Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali, Achmad Muzzayin, mewakili Kepala Dinkes, Yulianto Prabowo, mengemukakan menurut informasi yang diperoleh Dinkes, pasien AIDS tersebut kali pertama datang bersama temannya ke RSUD Pandanarang untuk menjalani pengobatan.

Sebab saat masuk ke rumah sakit tersebut, kondisi pasien sudah parah. Pasien tersebut didampingi aktivis LSM Peduli Kasih.

”Pasien masuk ke RSUD Pandanarang 3 Agustus lalu, dan saat itu kondisinya sudah drop,” ungkap Muzzayin ketika ditemui wartawan di kantornya, Kamis (15/8).

Diungkapkan dia, pasien diduga merupakan anak jalanan (anjal). Setelah sempat dirawat intensif di RSUD Pandanarang, Kamis (8/8), pria tersebut akhirnya meninggal dunia.

Dikirim oleh toto pada (202 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Sadis! Ibu di India Cekik Mati Putranya Penderita HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Detik.com, 14 Agustus 2013

New Delhi
- Seorang ibu dan anak laki-lakinya di India ditangkap polisi terkait pembunuhan anggota keluarga mereka. Bersama anaknya, ibu ini mencekik anak laki-lakinya yang lain, yang merupakan pasien HIV/AIDS, hingga tewas.

Korban yang bernama Isaac Robin (34) jatuh sakit sejak tahun 2012 lalu. Robin yang bekerja sebagai mandor proyek kontruksi ini divonis terinfeksi HIV/AIDS.

Sejak saat itu, Robin tinggal bersama ibu dan saudara laki-lakinya. Namun bukannya merawat Robin, ibu dan saudaranya justru semakin menjaga jarak dan menjauhinya.

Hingga akhirnya pada 5 Agustus lalu, sang ibu melapor ke polisi bahwa anaknya meninggal setelah muntah darah. Demikian seperti dilansir Asia One, Rabu (14/8/2013).

Namun hasil autopsi terhadap jasad Robin menunjukkan hal janggal. Terungkap dalam laporan post-mortem bahwa Robin ternyata tewas akibat dicekik secara brutal. Bahkan tulang leher dan batang tenggorokannya ditemukan dalam kondisi retak.

Dikirim oleh toto pada (178 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Remaja Puteri di Negara Ini Dibayar Agar Stop Berhubungan Seks
Topik: Narkoba
Detik.com, 14 Agustus 2013

Malawi, Terjebak pergaulan bebas adalah alasan klise yang dikemukakan remaja puteri saat kepergok hamil di luar nikah, sementara mereka yang tak sampai 'kecelakaan' masih melengang bebas. Untuk menekan tingginya angka remaja melahirkan, sebuah negara di Afrika punya cara ekstrem, membagi-bagi uang.

Negara tersebut adalah Malawi, di mana angka remajanya yang melahirkan adalah 177 per 1.000 kelahiran. Bandingkan dengan Indonesia lewat hasil Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) tahun 2012 yang menemukan bahwa 48 dari 1.000 kehamilan di perkotaan terjadi pada kelompok remaja berusia 15-19 tahun

Angka remaja melahirkan di Malawi ini terhitung tinggi, mengingat ada banyak gadis remaja yang sudah suka bercinta dengan pria dewasa. Yang lebih pelik, sebanyak 1 dari 10 orang dewasa di sana positif terinfeksi HIV. Oleh karena itu, langkah ekstrem perlu diambil.

Disokong oleh Bill dan Melinda Gates Foundation, gadis-gadis di Malawi diminta tidak berhubungan seks dengan imbalan uang tunai. Ternyata cara ini berhasil mengurangi aktivitas seksual di kalangan remaja, walau mungkin terdengar kurang sedap di telinga.

Pada tahun 2009, yayasan amal bentukan pendiri Microsoft ini mendanai percobaan secara acak selama 2 tahun di Malawi. Tujuannya untuk meneliti efek dari pemberian uang tunai terhadap aktivitas seksual remaja puteri.

Sekitar 4.000 orang gadis berusia 12-22 tahun secara acak ditugaskan menjadi kelompok uji ataupun kelompok kontrol. Gadis dalam kelompok uji akan menerima uang jika berhasil masuk sekolah sampai 80 persen dari total kehadiran, juga diminta melaporkan aktivitas seksualnya. Sedangkan kelompok kontrol tidak diberi uang.

Uang yang diberikan mencakup sekitar 15 persen dari pengeluaran rumah tangga bulanan yang dibagi antara remaja dan keluarganya. Para peneliti memonitor kehadiran di sekolah, sementara para siswi melaporkan aktivitas seksualnya pada awal uji coba dan setiap tahun sesudahnya.

Pada akhir tahun pertama, usia hubungan seks pertama kali di kalangan siswi melambat 38 persen dibanding kelompok kontrol. Jumlah pasangan seks seumur hidup juga menjadi 25 persen lebih sedikit dibanding gadis dalam kelompok kontrol. Kemungkinan hamilnya berkurang hingga 40 persen dibanding kelompok kontrol.

Tak hanya itu, seperti dilansir The Atlantic, Rabu (14/8/2013), tinjauan penelitian yang dilakukan World Bank lantas menyimpulkan bahwa pemberian uang dapat memperlambat usia awal aktivitas seksual, juga menurunkan perilaku berisiko di kalangan gadis-gadis yang sudah aktif secara seksual.

Memang tampaknya ada korelasi antara perilaku seksual remaja dengan kemiskinan. Sebuah review di jurnal Guttmacher Institute yang berjudul International Family Planning Perspectives melaporkan bahwa ketimbang remaja puteri yang kaya, remaja puteri dari keluarga miskin di 4 negara Afrika Sub-Sahara lebih besar kemungkinannya melakukan hubungan seks.

Dikirim oleh toto pada (466 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Tes HIV/AIDS Kini Bisa Dilakukan di Rumah
Topik: HIV/AIDS
PRLM, 13 Agustus 2013

LONDON - Tes HIV/AIDS di Inggris tidak perlu lagi dilakukan di rumah sakit dengan proses yang rumit. Pasalnya, pemerintah PM David Cameron telah mengenalkan tes HIV yang bisa dilakukan di rumah dengan sederhana dan biaya murah.

Dalam hal ini, seperti dilaporkan Daily Mail, tes HIV dengan cara DIY (do it by your self ) itu cukup dilakukan dengan mengambil sampel air liur sendiri dan megirimkan hasilnya ke laboratorium.

Dalam waktu singkat, usai tes dilakukan, akan diketahui apakah mereka positif atau negatif HIV/AIDS. Dengan kemudahan ini, Kementerian Kesehatan Inggris (NHS) berharap, tingkat penularan virus HIV/AIDS bisa menurun signifikan.

Dikirim oleh toto pada (192 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Jambore UKS Provinsi Digelar 20 Agustus Ada Lomba Dokter Kecil, PMR, dan Cerdas
Topik: Narkoba
Kaltim Post, 12 Agustus 2013

SAMARINDA - Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim terus memberikan kegiatan positif bagi para pelajar. Pada 20 Agustus mendatang, lomba Jambore Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat provinsi akan digelar untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat. Kepala Sekretariat UKS Kaltim Asli Nuryadin mengatakan, peserta lomba adalah para juara di level kabupaten/kota. Jambore UKS ini, adalah ajang unjuk kreativitas pelajar tentang kesehatan. Khususnya menyangkut kesehatan lingkungan sekolah, bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan hal lain yang berkaitan dengan kesehatan.

Untuk SD, akan melombakan dokter kecil. Materinya berkenaan dengan kemampuan siswa tentang kesehatan, kemudian ada tes tertulis, dan praktik sebagai dokter kecil. “Syaratnya, peserta bersangkutan masih aktif menjadi kader kesehatan di sekolah,” terangnya. Tak jauh berbeda dengan SD. Untuk SMP mempertandingkan lomba Kader Kesehatan Remaja (KKR) atau lomba Palang Merah Remaja (PMR). Materi yang dilombakan berupa karangan tulisan tentang pengetahuan peserta terhadap kesehatan lingkungan, bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan lainnya. “Tiap-tiap daerah mengirimkan satu kelompok yang terdiri tiga orang,” sebut Asli.

Kemudian untuk jenjang SMA sederajat, bentuk lombanya berupa cerdas cermat UKS dengan materi yang sama dengan SMP. Tapi, setiap peserta harus memiliki pengetahuan tentang Trias UKS, yakni pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Asli berharap, lomba seperti ini dapat membantu memacu para Tim Pembina UKS mulai tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi di bidang kesehatan. Jadi selain ada lomba sekolah sehat, tambah Asli para siswa juga diberikan lomba UKS.

Dikirim oleh toto pada (222 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Tim Homeless Indonesia lolos rintangan pertama
Topik: Narkoba
Merdeka.com, 12 Agustus 2013

Tim Homeless Indonesia lolos rintangan pertama pada Homeless World Cup 2013 di Poznan, Polandia, Minggu (11/8) setelah mampu mengalahkan Skotlandia, 6-4 pada babak penyisihan Grup G.

Pelatih Tim Homeless Indonesia Bonsu Hasibuan melalui surat eletronik, Senin dini hari mengaku kemenangan perdana anak asuhnya ini sangat penting guna menghadapi pertandingan-pertandingan penyisihan berikutnya.

"Secara hasil kita menang, tapi mental anak-anak masih belum lepas. Ini adalah pertandingan pertama dan sudah dipastikan akan berat," katanya.

Menurut Hasibuan, kemenangan tim "street soccer" yang berisikan pemain dari kaum marginal ini tidak lepas dari penampilan memukau kiper Ujang Yakub. Padahal beberapa hari sebelumnya Ujang mengalami pembengkakan pada kaki akibat terkena asam urat.

"Ujang mampu menahan serangan dari tim lawan meski frekuensinya tinggi. Tapi ada pula pemain yang baru panas di babak kedua," kata Bonsu Hasibuan menambahkan.

Saat menghadapi tim yang sudah dua kali menjuarai turnamen ini, Sendi dan kawan-kawan didukung penuh oleh Duta Besar Indonesia untuk Polandia, Darmansjah Djumala beserta istri dan para staf kedutaan serta mahasiswa asal Indonesia yang ada di Polandia.

"Selamat, semoga bisa terus berlanjut prestasinya," kata Darmansjah yang langsung turun dan memberi selamat para pemain.

Setelah menghadapi Skotlandia di babak penyisihan Grup G Tim Homeless Indonesia akan menghadapi salah satu tim kuat yaitu Argentina dan selanjutnya akan menghadapi Wales.

Bonsu Hasibuan sebagai pelatih mengaku optimistis timnya mampu memberikan yang terbaik sehingga membuka peluang untuk lolos ke babak berikutnya.

"Kita tetap mewaspadai tim-tim tersebut. Semuanya tergantung para pemain. Karena ini adalah momen sekaligus waktu buat mereka membuktikan hasil latihannya selama ini," katanya menegaskan.

Dikirim oleh toto pada (232 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Kliping: Lagi, Uji Coba Vaksin Penyembuh HIV AIDS Lewat Monyet
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 11 Agustus 2013

Sao Paulo: Para peneliti dari Medicine Faculty of the University of Sao Paulo berencana menguji vaksin AIDS kepada monyet.

Dikirim oleh toto pada (226 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
    ilahi Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
To Facilitate a Network for HIV-AIDS Worker in Indonesia