Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"sahabat ODHA, jangan pernah putus asa tetap bersemangat menjalani hidup !
tidak perlu malu dengan orang disekitar, kuat kan lah diri mu.
masih banyak orang yang perduli dan sayang pada mu...
NEVER GIVE UP !!!" oleh: bone seno
Banten
Pusat Studi Perlebahan di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga sedang melakukan penelitian Bioproduct dari obatan-obatan herbal. Salah satunya memanfaatkan terapi racun lebah sebagai pembunuh virus infeksi HIV/AIDS.
“Sejauh ini di dunia hanya ada satu rumah sakit yang menyediakan Bee Therapy, yakni di Jepang. Untuk di Indonesia, para peneliti mencoba mengembangkan pengobatan secara medis dari hasil lebah dan sengatan lebah itu sendiri,” ujar Prof. Dr. Hendro Wardoyo, pengembang terapi sengat lebah.
Baca juga: Menristek batal hadiri pameran hasil uji coba laboratorium ITD Unair dan Sudin Dikmen Jaktim intens sosialisasi bahaya seks.
Ada 13 macam manfaat yang dihasilkan lebah jenis ‘Apis Mellyfera’ yang dikembangkan ITD Unair. Diantaranya, madu, royal jelly, propolis, hingga yang paling terbaru, Bee Venom yakni pengobatan dengan sengatan lebah beracun.
Menurut penelitian Prof. Dr. Hendro, venom atau racun yang terkandung dalam sengatan lebah memiliki 120 komponen. 60 persennya sudah terdeteksi mampu mengurangi kesakitan hingga kematian.
Venom dalam sengatan lebah berfungsi menormalkan syaraf tubuh. Yang disebabkan pola makan dan pola hidup sehari-hari yang tidak normal. Kemudian, racun itu juga mampu membunuh kuman-kuman dalam tubuh. “Jika dikaitkan dengan infeksi virus, venom ini berfungsi menormalkan syarat-syarat dalam tubuh. Nantinya membentuk perbaikan syaraf-syaraf untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Sehingga membentuk antibodi kesehatan,” jelasnya.
Berdasarkan penelitian sekaligus praktek terapi yang sudah dilakukan di Yogyakarta, sudah ada 4 pasien positif HIV/AIDS yang mengalami peningkatan kondisi setelah melakukan terapi.
“Ada 4 pasien sudah periksa dengan terapi sengatan racun lebah, juga rutin minum madu. Setelah 8 kali terapi dasar yaitu sengatan dititik-titik tertentu, pasien kami kondisi kesehatannya lebih membaik,” ujar Prof. Herdro saat ditemui di Pameran Press Tour dan Gathering di Kampus C Unair, kemarin.
Kliping: Miliki Berbagai Penyakit Infeksi, Indonesia Seharusnya Unggul di Riset
Topik: HIV/AIDS
Berita Satu, 16 Mei 2013
Surabaya - Indonesia seharusnya bisa unggul di bidang riset karena didukung sejumlah potensi keuntungan seperti memiliki berbagai tanaman obat dan berbagai penyakit infeksi.
Ketua Lembaga Penyakit Tropis atau Tropical Disease Universitas Airlangga, Prof Nasronuddin mengatakan, dengan adanya beragam penyakit infeksi, Indonesia memiliki banyak mikroba, yang apabila dikendalikan membawa manfaat meningkatkan harkat, mensejahterakan masyarakat melalui produk-produk yang diolah dalam penelitian.
"Indonesia memiliki keuntungan memiliki berbagai penyakit. Negara-negara maju tidak memiliki berbagai penyakit infeksi," katanya saat menerima kunjungan wartawan ke Lembaga Penyakit Tropis di Surabaya, Kamis (16/5).
Lembaga Penyakit Tropis yang menjadi satu dari tiga pusat unggulan iptek di Indonesia ini ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi pada 2012, sebagai pusat unggulan iptek nasional di bidang kesehatan dan obat dengan tema riset biologi molekuler.
Nasronuddin menambahkan, lembaga riset medis Lembaga Penyakit Tropis memiliki 15 studi spesialis antara lain influenza, dengue, HIV/AIDS, hepatitis, malaria, stem cell, human genetics, naturak products, molecular oncology, bee health product development, proteomic, tuberculosis, leprosy, entomology dan intestinal infection.
Ia menjelaskan dalam penelitian lembaganya, sudah dihasilkan enzim untuk menggemukan sapi. Hal ini untuk menjawab tantangan Indonesia teerkait ketersediaan daging sapi, yang faktanya masih mengalami kekurangan daging.
Selain itu, lembaga penyakit sedang mengembangkan terapi stem cell untuk penderita ginjal sehingga tidak lagi memerlukan cuci darah seumur hidup seperti saat ini. Penderita nantinya hanya perlu disuntik peremajaan dengan terapi stem cell.
Di samping itu ada pula pengembangan obat anti virus hepatitis c, terapi sengat lebah dan penularan amoeba lewat air.
Sejak awal berdiri hingga saat ini Lembaga Penyakit Tropis memang bekerjasama dengan konsorsium nasional dan internasional seperti Jepang, Australia, Thailand dan Belanda.
"Meskipun bekerja sama dengan pihak luar, hak paten 100 persennya milik Indonesia dan hanya mentransfer teknologi dari luar," ucapnya.
Kliping: Penyebaran HIV/AIDS di Kota Manado tertinggi di Sulut
Topik: HIV/AIDS
Merdeka, 14 Mei 2013
Kota Manado tertinggi penyebaran Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome HIV/AIDS) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan jumlah 485 kasus, hingga Februari 2013.
"Mobilitas penduduk di Kota Manado jauh lebih dinamis bila dibandingkan dengan pedesaan. Hal ini juga bisa memungkinkan terjadinya transaksi seksual yang berisiko terjadinya penularan," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulawesi Utara, dr Tangel Kairupan di Manado, Selasa (14/5).
Seperti diberitakan Antara, Kota Manado bila dibandingkan dengan kabupaten dan kota lainnya hiruk pikuknya jauh lebih tinggi, dan membuka peluang tumbuhnya tempat-tempat hiburan malam dan tempat rekreasi yang bisa menjadi awal penularan HIV.
"Karena itu KPA sekarang ini tidak hanya fokus pada sosialisasi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana menjangkau populasi kunci seperti pekerja seks komersil, waria dan kelompok rentan lainnya. Kami targetkan pada 2015 sudah 80 persen populasi kunci yang terjangkau," kata dia.
Dari data yang ada, di Kota Manado ditemukan sebanyak 485 kasus, di mana 156 di antaranya adalah HIV dan sisanya 329 kasus adalah AIDS, sementara di Kota Bitung sebanyak 269 kasus, dimana 166 kasus adalah HIV dan sisanya 103 kasus adalah AIDS.
Kabupaten Minahasa menjadi terbanyak ketiga dengan 135 kasus, dimana 36 kasus dikategorikan HIV dan 99 kasus adalah AIDS, sementara terbanyak ke empat adalah Minahasa Selatan dengan 117 kasus dimana sebanyak 27 kasus adalah HIV dan sisanya 90 kasus AIDS.
Kliping: Empat Bulan, Pengidap HIV Bertambah 15 Orang
Topik: HIV/AIDS
Kaltim Post, 14 Mei 2013
BALIKPAPAN - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Balikpapan terus meningkat. Pada 21 Januari lalu jumlahnya 606 orang. Namun memasuki pekan kedua Mei, jumlahnya mencapai 621 orang atau bertambah 15 orang. Jumlah ini diprediksi bakal terus bertambah karena masih banyak pengidap HIV AIDS yang masih malu dan tidak melaporkan diri ke Dinas Kesehatan.
Sebelumnya, pada November 2012 jumlah pengidap penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini mencapai 575 orang atau meningkat sekitar 80 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 300 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Dyah Muryani, mengatakan, penyebaran HIV/AIDS paling banyak melalui hubungan seksual. “Langkah paling mudah dan murah untuk mencegah penyebaran itu adalah menggunakan kondom. Tapi nyatanya masih banyak yang tidak mau menggunakannya,” ujarnya, kemarin (13/5).
Ia menjelaskan, dari jumlah penderita tersebut didominasi laki-laki dewasa. Tetapi, ada juga 3 orang di antaranya yang masih balita, yang diakibatkan faktor keturunan. Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir tren menunjukkan pertambahan jumlah pengidap HIV didominasi oleh ibu rumah tangga.
Diketahui, jumlah tersebut merupakan akumulasi data sejak 2005 lalu. Tahun ini, setidaknya sudah ada 3 orang meninggal karena virus tersebut. Pengidap HIV/AIDS di Balikpapan, rentan usianya juga semakin muda. Dari 20 tahun hingga 40 tahun dengan jumlah 70 persen dari total penderita. Padahal, dahulu rentang usia pengidap sekitar 25 hingga 60 tahun.
Kliping: Seluruh Perawat di Bogor Siap Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Pos Kota, 14 Mei 2013
BOGOR – Komisi Penanggulangan HIV/Aids daerah Kota Bogor, terus melakukan sosialisasi dalam rangka meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahayanya penyakit ini.Sosialisasinya kali ini, KPAD bekerjasama dengan PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kota Bogor.
Bertempat di aula Dinas Kesehatan Kota Bogor, ratusan perawat mendapat pembekalan dari asisten administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan, Azrin Syamsudin, yang juga Ketua harian KPAD Kota Bogor. Sementara narasumber utamanya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Rubaeah, dan Sekretaris KPAD Kota Bogor, Yeti Rochyati.
Ketua PPNI Kota Bogor, Yusniar Ritonga mengatakan, sosialisasi bahaya HIV/AIDS merupakan rangkaian dari acara peringatan Hari Perawat Sedunia yang jatuh Minggu (12/5).
“Perawat dari 12 rumah sakit dan klinik swasta yang ada di Kota Bogor, menjadi peserta. Sosialisasi ini untuk mengingatkan perawat, akan bahaya HIV/AIDS. Pasalnya perawat bersentuhan langsung dengan pasiennya,”kata Yusniar.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Rubaeah mengatakan, semua puskesmas yang ada di Kota Bogor, siap memberikan pelayanan VCT (Voluntary Couseling and Testing) kepada masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan HIV/AIDS.
“VCT telah kita disiapkan di puskesmas dan sejumlah rumah sakit untuk membantu masyarakat mengenal apa itu HIV/AIDS. Rahasia masyarakat sangat dijamin,”ujarnya.
Walau fasilitas telah disediakan, ia mengakui, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke VCT masih rendah. Haktor kurang pemahaman tentang HIV/AIDS dan adanya stigma yang menyebabkan orang dengan HIV/AIDS di kucilkan dari kelompok, menjadi faktor apatisnya warga melakukan pemeriksaan.
dr Rubaeah menambahkan, berdasarkan laporan dari sejumlah Puskesmas kebanyakan para ibu hamil atau ibu rumah tangga masih menolak untuk di tes VCT. Padahal, sangat baik dan penting pemeriksaan VCT untuk pencegahan dini, melindungi ibu dan anak dari penyebaran penyakit berbahaya ini.
Kliping: 75 Persen Pengidap HIV Usia Remaja
Topik: HIV/AIDS
INILAH.COM, 13 Mei 2013
Tanjungpinang - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Provinsi Kepri yang terdeteksi setiap tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2011, dari data di 7 kabupaten/kota terdapat sebanyak 704 orang. Sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi 852 orang, dan 75 persen penderitanya adalah remaja.
Sementara itu data pengidap AIDS dari tahun 2011 berjumlah 265 orang dan telah meninggal 66 orang. Pada tahun 2012 penderita AIDS berjumlah 308 dan meninggal sebanyak 108, sementara untuk tahun 2013 sudah ditemukan orang yang terjangkit namun belum ada laporan resmi dari 7 kabupaten/kota di Kepri.
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyelamatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, dr Inrike disela acara kegiatan sosialisasi bahaya HIV/AIDS bagi kalangan pelajar di Halaman Belakang Gedung Daerah Kepri di Tanjungpinang, Minggu (12/5).
"Dari data tersebut pengidap HIV/AIDS 65 persennya terdapat di Kota Batam disusul dari Kabupaten Karimun dan Kota Tanjungpinang. Sementara pengidap HIV/AIDS Laki-laki sebanyak 52 persen sementara perempuan sebanyak 48 persen," jelasnya.
Inrike juga menambahkan, selain itu kasus HIV/AIDS yang ditemukan juga kebanyakan dari usia remaja dari umur 15 hingga 29 tahun dan juga dari ibu rumah tangga yang terpapar dari suami.
"Dari data tersebut 75 persen pengidap HIV/AIDS merupakan anak remaja dan disusul oleh ibu rumah tangga. Penanggulangan dan penanganan HIV/AIDS di Kepri telah membuka layanan di tiga wilayah, yakni di Kota Batam, Karimun dan Tanjungpinang dengan voluntary counseling and testing (VCT). VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV," ungkap Inrike.
Sementara itu, Gubernur Kepri HM Sani yang turut hadir pada acara tersebut mengatakan, HIV/AIDS merupakan penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan baru sebatas mencegah. Adapun pencegahan itu harus dimulai sejak dini, dengan melakukan berbagai sosialisasi.
"Untuk mencegah HIV/AIDS, kita semua harus membentengi diri. Pelajaran yang paling mendasar adalah di dalam diri kita sendiri. Sosialisasi seperti ini hanya mediasi saja. Selebihnya diri sendirilah yang menentukan," kata Sani.
Sani menambahkan, sosialisasi harus secara terus-menerus dilakukan, dimana saja dan kapan saja. Semua pihak harus terlibat baik tokoh agama, tokoh masyarakat termasuk media.
"Kenapa saya katakan demikian, karena mensosialisasikan bahaya AIDS ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua, termasuk para tokoh agama," ujar Sani lagi.
Kegiatan sosialisasi bahasa HIV/AIDS tersebut diselenggarakan oleh Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kepri. Dalam laporannya, Ketua TP PKK Kepri Aisyah Sani mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan karena merasa prihatin mendengar laporan dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan bahwa pengidap HIV/AIDS di Kepri banyak dari kalangan remaja, yakni pada usia rata-rata 15 sampai 29 tahun.
Hal itu tentu sangat memprihatinkan, karena remaja yang notabene sebagai generasi penerus bangsa, namun justru terjerumus dalam hal yang seharusnya tidak terjadi.
"Data yang saya dapat dari Dinas Kesehatan tersebut sangat memprihatinkan. Pemuda adalah generasi penerus bangsa, sehingga sudah seharusnya melakukan hal-hal yang positif dan kreatif. Jauhi narkoba dan hindari seks bebas. Semua itu hanya menimbulkan mudarat daripada manfaat," pesan Aisyah Sani.
Katanya, lebih memprihatinkan lagi, saat ini bahkan banyak kalangan ibu hamil yang juga mengidap HIV/AIDS, sehingga ketika bayi mereka lahir dalam keadaan tertular penyakit yang mematikan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana menyampaikan, sosialisasi pencegahan HIV/AIDS bagi kalangan pelajar memang sedang digalakkan oleh Pemerintah Provinsi Kepri.
Kliping: 65 persen penderita HIV/AIDS di Kepri remaja
Topik: HIV/AIDS
Waspada Online, 12 Mei 2013
TANJUNGPINANG - Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kepulauan Riau, Aisyah Sani mengatakan sebanyak 65 persen penderita "human immunodeficiency virus infection/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS)" di daerah setempat adalah remaja.
"Kami prihatin mendengar laporan dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan bahwa pengidap HIV/AIDS di Kepulauan Riau (Kepri) mencapai 65 persen dari kalangan remaja, usia rata-rata 15 sampai dengan 29 tahun," kata Aisyah Sani saat sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada para pelajar di Tanjungpinang, hari ini.
Menurut Aisyah, hal tersebut sangat memprihatinkan, karena remaja sebagai generasi penerus bangsa justru terjerumus dalam hal yang seharusnya tidak terjadi.
"Pemuda adalah generasi penerus bangsa, sehingga sudah seharusnya melakukan hal-hal yang positif dan kreatif. Jauhi narkoba dan hindari seks bebas. Semua itu hanya menimbulkan mudarat daripada manfaat," kata istri Gubernur Kepri Muhammad Sani tersebut.
Yang lebih memprihatinkan menurut dia, saat ini bahkan banyak kalangan ibu hamil yang juga mengidap HIV/AIDS, sehingga ketika bayi mereka lahir dalam keadaan tertular penyakit yang mematikan tersebut.
Sementara itu Gubernur Kepri, Muhammad Sani yang membuka sosialisasi tersebut mengatakan satu-satunya cara yang bisa dilakukan baru sebatas mencegah. Adapun pencegahan itu harus dimulai sejak dini, dengan melakukan berbagai sosialisasi.
"Untuk mencegah HIV/AIDS, kita semua harus membentengi diri. Pelajaran yang paling mendasar adalah di dalam diri kita sendiri karena sosialisasi seperti ini hanya mediasi saja. Selebihnya diri sendirilah yang menentukan," kata Sani.
Menurut Sani, sosialisasi bahaya HIV/AIDS harus secara terus-menerus dilakukan, di mana saja dan kapan saja. Semua pihak harus terlibat, termasuk wartawan. "Kenapa saya katakan demikian, karena mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua termasuk para tokoh agama," ujar Sani.
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana menyampaikan, sosialisasi HIV/AIDS bagi kalangan pelajar sedang digalakkan oleh Pemprov Kepri.
Kliping: Dalam 15 Tahun Terakhir, 144 Warga Banten Meninggal Akibat HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Berita Satu, 11 Mei 2013
Serang - Selama kurang lebih 15 tahun terakhir, atau sejak tahun 1998 sampai dengan Maret 2013, tercatat sebanyak 144 warga Banten yang meninggal akibat mengidap HIV/AIDS. Total warga Banten yang mengidap HIV/AIDS selama kurun waktu itu sendiri mencapai sebanyak 2.731 orang, yang terdiri atas 1.844 yang terinfeksi HIV serta 887 yang sudah menderita AIDS.
Project Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banten, Arif Mulyawan mengatakan, dari data yang didapat Dinas Kesehatan Provinsi Banten, untuk di Kabupaten Serang yang berstatus HIV mencapai 350 orang, penderita AIDS sebanyak 60 orang, dan kasus kematian akibat HIV/AIDS sebanyak 21 orang. Lalu untuk di Kota Serang, penderita HIV sebanyak 45 orang, AIDS 71 orang dan kasus kematian 26 orang.
Selanjutnya, di Kabupaten Pandeglang, penderita HIV sebanyak 48 orang, AIDS 22 orang dan kasus kematian 13 orang; Kabupaten Lebak penderita HIV 46 orang, AIDS sebanyak 57 orang dan kasus kematian 13 orang; Kabupaten Tangerang, penderita HIV 487 orang, penderita AIDS sebanyak 239 orang dan kasus kematian 14 orang. Lantas di Kota Tangerang penderita HIV sebanyak 674 orang, AIDS 311 orang dan kasus kematian 21 orang; serta di Kota Tangerang Selatan penderita HIV sebanyak 85 orang, AIDS sebanyak 28 orang dan kasus kematian 1 orang.
"Sedangkan untuk di Kota Cilegon, kasus HIV sebanyak 115 orang, AIDS sebanyak 79 orang dan kasus kematian sebanyak 35 orang," jelas Arif, di Serang, Jumat (10/5).
Arif juga mengatakan bahwa Provinsi Banten telah masuk 10 besar tertinggi kasus HIV/AIDS di Indonesia. Bahkan, estimasi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ada di Banten saat ini mencapai sebanyak 5.250 orang. "Memang, penanganan yang dilakukan oleh pemerintah harus serius, karena perkembangan kasus HIV/AIDS ini begitu cepat," terangnya.
Dikatakan pula, penularan HIV/AIDS yang ada di Banten umumnya karena perilaku seks yang tidak benar atau tidak dengan pasangannya. "Penularanya lebih karena faktor seks bebas," ujarnya.
Sayangnya, dari informasi yang dihimpun pula, lima klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) serta Care, Support and Treatment (CST) untuk penanganan penderita HIV/AIDS, yaitu di RSUD Serang, RSUD Cilegon, RSUD Tangerang, RS Alkadar Kota Tangerang, RS Husada Insani Kota Tangerang dan RSUD Kabupaten Lebak, justru vakum dalam melayani pasiennya. Hal itu terjadi karena minimnya operasional untuk menjalankan klinik-klinik tersebut.
Kliping: Penderita HIV/AIDS Masih Alami Diskriminasi Dalam Pelayanan Kesehatan
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 09 Mei 2013
BANDARLAMPUNG -- Koordinator Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Baby Nasution, mengatakan, perempuan penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome di Lampung masih mengalami diskriminasi dalam pelayanan kesehatan.
"Penjelasan dari beberapa perempuan yang terkana HIV/AIDS tersebut, mengaku kesulitan mendapatkan pelayanan seperti kesehatan reproduksi dan pelayanan kesehatan anak dan ibu," kata Baby Nasution di Bandarlampung, Kamis (9/5).
Menurutnya, keluhan diskriminasi dari perempuan positif HIV/AIDS di Lampung cukup tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. "Selain perlakuan diskriminasi, stigma negatif dari masyarakat dan keluarga juga masih tinggi," ujarnya.
Dalam pertemuan yang membahas tentang kesehatan reproduksi perempuan, beberapa peserta positif HIV/AIDS sempat menangis karena mendapat perlakuan yang tidak wajar dari masyarakat, bahkan dari keluarga sendiri.
"Padahal, memperoleh pelayanan kesehatan dan kesetaraan adalah hak semua warga negara, lantas mengapa ada pembedaan," tuturnya menjelaskan.
Selain stigma negatif, hal lain yang membuat Baby prihatin adalah perempuan positif HIV/AIDS di Lampung kurang bermunculan di media.
"Ini ada apa, justru yang saya temukan banyak nama-nama mereka yang menjadi sumber disamarkan namanya, kondisi ini berbeda di Sumatera lainnya, justru mereka malah berebut untuk muncul di media, tanpa harus malu," katanya menegaskan.
Berdasarkan catatan IPPI di Lampung, perempuan positif HIV/AIDS di provinsi itu terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Terdapat sekitar 400-an perempuan yang dinyatakan positif HIV/AIDS dan penularan tersebut. Menurut salah satu perempuan positif di Lampung Ade Komariyah, mereka adalah perempuan rumah tangga yang proses penularannya dari pasangannya sendiri.
"Perempuan yang kurang mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi justru rentan tertular penyakit tersebut," ujar Ade menambahkan.
Kliping: Sering 'jajan', polisi dan PNS di Batam kena HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Merdeka, 09 Mei 2013
Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Batam mencatat terdapat 59 pegawai negeri sipil (PNS), Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak yang terjangkit human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) pada 2013.
"Jumlah PNS dan Polri yang terjangkit jauh lebih banyak daripada ibu rumah tangga dan anak-anak," kata Sekretaris KPA Batam, Pieter Pureklolong di Batam, Rabu.
Dia mengatakan, sebenarnya PNS, Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak bukan golongan rentan terhadap penyakit mematikan tersebut.
"Meski awalnya bukan golongan yang rentan seperti pegawai seks komersial (PSK), pengguna narkoba, penyuka sesama jenis, pelaut, namun sejak 2007 sudah ditemukan penyakit tersebut menjangkiti PNS, Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak," kata dia.
Pieter mengatakan penyebaran HIV/AIDS pada kaum ibu dan anak-anak yang dilahirkan rata-rata disebabkan perilaku buruk suami yang suka membeli seks dengan pekerja seks komersial.
"Pada 2013 ada 144 kasus HIV/AIDS dan 63 di antaranya positif AIDS. Dari jumlah tersebut 18 sudah meninggal dunia atau rata-rata enam meninggal per bulan," kata dia.
Sementara untuk PNS dan Polri, rata-rata karena mereka juga berperilaku menyimpang dan tidak setia pada pasangannya.
"Akibat perilaku menyimpang tersebut, sudah banyak masyarakat tidak termasuk golongan rentan telah terjangkit penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut," kata Pieter.
Ia mengatakan data tersebut diperoleh dari beberapa rumah sakit di Kota Batam seperti RSUD Embung Fatimah, Rumah Sakit Budi Kemuliaan, dan beberapa puskesmas rujukan bagi penderita HIV/AIDS di Batam.
"Hingga akhir April ada 2.350 orang yang memeriksakan pada beberapa rumah sakit tersebut dan 144 dinyatakan terjangkit HIV/AIDS," kata dia.
Menurut Pieter, Batam merupakan wilayah keenam di Indonesia dengan kasus serta perkembangan epidemi HIV dan AIDS tertinggi setelah Papua, DKI Jakarta, Bali, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Kliping: Warga Resos SK Terkendala dalam Sosialisasi Kondom
Topik: HIV/AIDS
Suaramerdeka.com, 09 Mei 2013
SEMARANG - Warga binaan kompleks resosialiasi Argo Rejo atau Sunan Kuning (SK), Semarang Barat, mengaku banyak mengalami kendala dalam upaya menyosialisasikan penggunaan kondom bagi pelanggannya.
Pipit, salah seorang peer edicator (PE), yakni semacam orang yang dituakan di sebuah wisma (sebutan untuk rumah yang dihuni oleh beberapa pekerja seks komersial) mengatakan, "Iya memang kebanyakan para pelanggan itu susah untuk disuruh memakai kondom pelindung," kata Pipit, Kamis (9/5).
Padahal adalah hukumnya wajib bagi semua konsumen yang akan melakukan hajat seksualnya di SK untuk menggunakan kondom sebagai upaya untuk pencegahan penyakit menular seperti HIV-Aids.
Untuk itu, Silvy dan beberapa PE lainnya memiliki cara, "Kalau pelanggan nggak mau pakai kondom, kami-kami yang memakai kondom wanita," kata Silvy, saat berada di pertemuan si Aula Resos Argo Rejo, Kamis (9/5).
Kliping: Saudi Temukan 1.233 Kasus Baru AIDS Tahun Lalu
Topik: HIV/AIDS
VOA, 09 Mei 2013
Dalam tulisan yang diterbitkan hari Selasa dalam harian pemerintah Okaz, Dokter Sanaa bin Mustafa Flimban mengatakan 96 persen penderita AIDS di Arab Saudi terserang AIDS lewat hubungan seks.
Ia menambahkan bahwa 850 perempuan Saudi terinfeksi di negara kerajaan itu, semuanya ditularkan oleh suami mereka. Delapan puluh persen penderita mengetahui mereka terkena AIDS hanya sesudah hamil.
Sejak lama, Arab Saudi tidak pernah merilis data statistik tentang AIDS. Meski telah banyak perubahan dalam satu dekade ini, pembicaraan tentang sex dan pencegahan AIDS masih tabu di negara Islam yang konservatif itu.
Kliping: Gonorhea Tidak Seburuk Penyakit AIDS
Topik: HIV/AIDS
TEMPO.CO, 09 Mei 2013
Manhasset -- Penyakit Gonorhea yang telah resisten terhadap antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius.
Artikel terbaru CNBC.com berjudul Sex Superbug Could Be 'Worse Than AIDS yang dikutip oleh Alan Christianson, seorang dokter naturopati. Ia mengatakan bahwa suatu strain antibiotik yang resisten dari penyakit menular seksual Gonorhea mungkin jauh lebih buruk daripada AIDS dalam jangka pendek. Pasalnya, bakteri tersebut lebih agresif dan akan mempengaruhi banyak orang dengan cepat.
Namun, beberapa ahli menyebutnya sebagai perbandingan yang sangat hiperbolik. "Saya tidak setuju dengan perbandingan itu, " kata Dr Bruce Hirsch, seorang ilmuwan yang menghadiri diskusi penyakit menular di North Shore University Hospital di Manhasset, New York. Menurutnya, tingkat komplikasi Gonorhea dalam hal sistemik jauh lebih rendah daripada tingkat kompilasi infeksi AIDS yang tidak diobati.
Artikel CNBC.com tersebut mengatakan bahwa strain tertentu Gonorhea mungkin menempatkan seseorang pada syok septik dan kematian dalam hitungan hari. Tingkat kompilasi yang mengancam jiwa seperti sepsis dari penyakit ini hanya sekitar 1 persen. Sementara tingkat kematian akibat AIDS yang tidak diobati adalah 98 persen.
"Pada titik ini, AIDS adalah infeksi fatal, sedangkan pasien Gonorhea sangat jarang mati karena kondisi tersebut," kata Dr Carlos del Rio, ketua Departemen Kesehatan Global di Universitas Emory Rollins School of Public Health. Kedua ahli menekankan bahwa Gonorhea yang resisten antibiotik adalah masalah yang sangat serius.
Gonorhea menjadi semakin resisten terhadap antibiotik. Centers for Disease Control and Prevention mengatakan bahwa hanya adal satu obat tersisa yanng dapat digunakan untuk pengobatan lini pertama untuk penyakit ini. Ceftriaxone yaitu antibiotik diberikan melalui suntikan dianjurkan untuk digunakan bersama dengan antibiotik lainnya, seperti seperti azitromisin atau doxycycline selama tujuh hari.
Pada tahun 2011, di Amerika serikat ada lebih dari 300 ribu kasus Gonorhea. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhea dan menyebar melalui aktivitas seksual. Orang dengan penyakit ini sering tidak menunjukkan gejala. Tetapi laki-laki lebih cenderung memperlihatkan gejala daripada wanita.
Dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius termasuk kemandulan dan nyeri panggul kronis pada wanita. Dan pada laki-laki akan menjadikannya peradangan menyakitkan pada saluran yang melekat pada testis jika tidak diobati.
Kliping: Polisi dan PNS Batam terjangkit HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Waspada Online, 08 Mei 2013
BATAM - Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Batam mencatat terdapat 59 Pegawai Negeri Sipil (PNS), polisi, ibu rumah tangga dan anak-anak yang terjangkit human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) pada 2013.
"Jumlah PNS dan anggota Polri yang terjangkit jauh lebih banyak daripada ibu rumah tangga dan anak-anak," kata Sekretaris KPA Batam, Pieter Pureklolong di Batam, hari ini.
Ia mengatakan, sebenarnya PNS, Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak bukan golongan rentan terhadap penyakit mematikan tersebut.
"Meski awalnya bukan golongan yang rentan seperti pegawai seks komersial (PSK), pengguna narkoba, penyuka sesama jenis, pelaut, namun sejak 2007 sudah ditemukan penyakit tersebut menjangkiti PNS, anggota Polri, ibu rumah tangga dan anak-anak," kata dia.
Pieter mengatakan penyebaran HIV/AIDS pada kaum ibu dan anak-anak yang dilahirkan rata-rata disebabkan perilaku buruk suami yang suka membeli seks.
"Pada 2013 ada 144 kasus HIV/AIDS dan 63 di antaranya positif AIDS. Dari jumlah tersebut 18 sudah meninggal dunia atau rata-rata enam meninggal per bulan," kata dia.
Sementara untuk PNS dan anggota Polri, rata-rata karena mereka juga berperilaku menyimpang dan tidak setia pada pasangannya.
"Akibat perilaku menyimpang tersebut, sudah banyak anggota masyarakat yang tidak termasuk golongan rentan telah terjangkit penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut," kata Pieter.
Ia mengatakan data tersebut diperoleh dari beberapa rumah sakit di Kota Batam seperti RSUD Embung Fatimah, Rumah Sakit Budi Kemuliaan, dan beberapa puskesmas rujukan bagi penderita HIV/AIDS di Batam.
Kliping: Sakit AIDS, Glenn Fredly Dibilang Meninggal
Topik: HIV/AIDS
Okezone, 08 Mei 2013
JAKARTA – Kabar meninggalnya musisi Glenn Fredly karena penyakit AIDS yang diidapnya pasti masih lekat di ingatan.
Sebelumnya, pelantun "Kasih Putih" itu sempat menghilang dari dunia hiburan. Tak lama kemudian, kabar dirinya mengidap penyakit HIV/AIDS tersebar.
Tidak lama kemudian, bekas suami Dewi Sandra ini juga disebut-sebut meninggal karena penyakit yang dideritanya. Namun, kabar sakit serta meninggalnya sama sekali tidak dikomentari pria asal Maluku itu.
Namun, ayah kandung Glenn Fredly, Hengky Latuihamalo, dengan tegas menyayangkan kabar miring tersebut. Dia memastikan anaknya dalam kondisi baik.
Kliping: Kasus HIV/AIDS di Mimika mengkhawatrikan
Topik: HIV/AIDS
Waspada Online, 07 Mei 2013
TIMIKA - Ketua Komisi B DPRD Mimika, Papua, Wilhelmus Pigai menyatakan kekhawatirannya terhadap perkembangan kasus HIV/AIDS di wilayah itu dan mendesak pemerintah daerah untuk memberi perhatian lebih serius.
Berbicara kepada Antara di Timika, Selasa, Wilhelmus mengatakan sesuai data yang diterima dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) setempat, sudah lebih dari 3.000 orang Mimika terinfeksi HIV dan 500 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) saat ini membutuhkan penanganan.
"Masalah HIV/AIDS di Papua terutama di Mimika sudah sangat serius. Karena ini masalah serius, maka membutuhkan penanganan serius. Dukungan anggaran dari pemerintah daerah untuk penanganan masalah ini harus lebih ditingkatkan sehingga hasilnya lebih maksimal," tutur Wilhelmus.
Berdasarkan data dari KPA Mimika, hingga September 2012 jumlah kasus HIV/AIDS di Mimika telah mencapai 3.184 kasus dan hanya 56 persen orang yang terinfeksi memiliki akses untuk mendapatkan obat anti retro viral (ARV).
Pada periode Maret-September 2012 ditemukan 361 kasus HIV/AIDS baru terdiri atas 128 kasus HIV dan 233 kasus AIDS. Hanya 66 persen dari temuan baru tersebut yang sudah bisa mengakses ARV.
Penularan kasus HIV masih didominasi melalui hubungan seks berisiko. KPA telah menyediakan 83 outlet kondom di Timika dan sekitarnya sebagai salah satu upaya untuk menekan penularan HIV/AIDS. Namun hanya 60 persen dari kondom yang telah didistribusikan digunakan secara konsisten oleh Wanita Pekerja Seks (WPS) di Timika.
Menurut Wilhelmus, dalam beberapa tahun ke depan Kabupaten Mimika akan mengalami masalah besar akibat terus meningkatnya angka penularan HIV/AIDS.
Semakin banyak anak yang akan kehilangan orang tua, apalagi juga ditemukan infeksi HIV dari ibu ke anak yang sedang menyusui sebanyak enam kasus pada periode Maret-September 2012.
"Kita akan menanggung ongkos sosial yang sangat besar dari masalah ini. Semua komponen harus bersama-sama terlibat dalam upaya penanganan masalah HIV/AIDS ini dan hendaknya pemerintah daerah mulai dari provinsi hingga kabupaten/kota di Papua memberikan dukungan anggaran yang lebih memadai," harap Wilhelmus.
Di Mimika, katanya, alokasi anggaran dari APBD untuk penanganan masalah HIV/AIDS di seluruh distrik (kecamatan) hanya sekitar Rp1,5 miliar setiap tahun. Anggaran tersebut dinilai masih sangat minim dibanding dengan beban masalah yang dihadapi oleh daerah.
Wilhelmus juga menyambut positif keterlibatan berbagai kalangan dalam penanganan masalah HIV/AIDS di Mimika seperti yang dilakukan oleh Yayasan Caritas Timika Papua (YCTP) selama dua tahun terakhir.
Kliping: Pornografi di Jabar Masuk Kategori Merah
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 07 Mei 2013
BANDUNG — Berbagai bahaya, mengancam generasi di Jawa Barat (Jabar). Yakni, dari trafficking, miras (minuman keras), HIV/ AIDS, dan narkoba.
Bahkan, menurut Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, pornografi di Jabar sudah masuk kategori merah. Saat ini, menurut Heryawan, generasi muda banyak yang membuka atau mengunduh situs pornografi. Selain itu, banyak situs pornografi yang bisa diakses.
"Saya berharap aparat hukum kita menyelesaikan ini (situs pornografi) dan menertibkannya," ujar Heryawan kepada wartawan usai acara Hari Kesatuan Gerak PKK ke-41, Selasa (7/5).
Menurut Heryawan, jangan sampai bahaya-bahaya tersebut menghadang dan merusak generasi muda di Indonesia khususnya Jabar. Kalau anak muda sudah terkena berbagai dampak negatif tersebut, maka masa depannya akan hancur.
"Satu di antara sistem sosial yang bisa menyelematkan ancaman yang tadi itu adalah ketahanan keluarga," katanya mengingatkan.
Ke depan, kata dia, ketahanan keluarga harus menjadi masalah serius di Jabar. Bisa saja, nanti Pemprov Jabar akan membuat aturan tentang Ketahanan Keluarga ini. Bentuknya, bisa berupa Pergub (peraturan gubernur) atau Perda (peraturan daerah). Yang penting, harus disosialisasikan dengan baik terkait bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan Miras.
"Ancaman tersebut, bisa dicegah dengan ketahanan keluarga. Kalau keluarga harmonis, daya tahannya kuat maka akan bisa mencegah hal-hal tadi," katanya.
Jadi, kata Heryawan, pembangunan Jabar ke depan selain membangunan fisik juga menekankan masalah ketahanan keluarga ini. Sebab, kalau ketahanan keluarga ini dipertahankan bersama menciptakan generasi yang baik.
Untuk membentuk ketahan keluarga ini, menurut Heryawan, diperlukan peran PKK. Sebab, gerakannya lengkap dari tingkat pusat sampai ke desa ada. Kalau dikolaborasikan dengan dengan program pemerintah, akan mempercepat suksesnya program tersebut.
Kliping: Ini Mitos Salah Seputar HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 07 Mei 2013
JAKARTA -- HIV/AIDS pertama kali terdeteksi di Indonesia pada tahun 1987. Hingga kini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang virus tersebut.
Tim Advokasi dari Komisi Penanggulan AIDS DKI Jakarta Susi Suzana mengatakan masih banyak pemahamanan yang salah tentang HIV/AIDS di masyarakat. Dia mencontohkan masyarakat menganggap bahwa HIV/AIDS bisa tertular melalui berpelukan, berciuman, tinggal dalam satu rumah, berbagi alat makan, tusuk gigi, WC, dan gigitan nyamuk.
"Ini yang menjadikan adanya diskriminasi pada penderita HIV/AIDS. Orang jadi takut berdekatan sama mereka. Padahal orang dengan HIV/AIDS harus kita rangkul karena dia sudah menderita," kata Susi dalam diskusi di Jakarta Pusat, Selasa (7/5).
Susi menjelaskan, HIV hidup di sperma, cairan vagina, darah, dan ASI. Karena itu, penularannya pun hanya bisa melalui hubungan seks, penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah, dan melalui ASI.
Gigitan nyamuk, ujar Susi, juga tidak bisa menularkan virus mematikan tersebut. Sebab, HIV hanya bisa hidup di tubuh manusia. Virus itu akan langsung mati dalam hitungan detik apabila keluar dari tubuh manusia.
Susi juga mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam menggunakan peralatan tajam secara bersama-sama, seperti pisau cukur, pisau meni-pedi, jarum tato, dan jarum tindik. "Kalau cukur jenggot di tempat umum minta silet yang baru," imbaunya.
Susi juga meminta agar masyarakat tidak melakukan diskriminasi pada penderita HIV/AIDS. Masyarakat, kata dia, tidak perlu takut untuk hidup berdampingan dengan penderita HIV/AIDS. "Mereka juga punya hak untuk hidup. Pengucilan terjadi karena masyarakat tidak mengerti," kata dia.
HIV sendiri merupakan kependekan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sementara AIDS merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh HIV.
Orang yang terinfeksi HIV/AIDS biasanya menderita gejala demam, diare yang tak kunjung sembuh, sariawan terus menerus, kelelahan, dan berat badan yang menurun. Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, harus melalui tes darah di rumah sakit atau puskesmas.
Kliping: Petanahan Deklarasikan Warga Peduli AIDS
Topik: HIV/AIDS
Suaramerdeka.com, 07 Mei 2013
KEBUMEN - Upaya penganggulangan penyebaran kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kebumen tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi telah melibatkan masyarakat. Hal itu terlihat dengan dideklarasikan Warga Peduli AIDS (WPA) tingkat Kecamatan Petanahan.
Deklarasi digelar di Gedung KPRI MAS Petanahan, Senin (6/5) dengan dihadiri oleh 200 orang peserta.
Peserta terdiri atas berbagai unsur meliputi tokoh masyarakat, ormas, kader kesehatan, perwakilan SMP, SMA, kepala dan perangkat desa di Kecamatan Petanahan. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kebumen Siti Nuriatun Fauziyah SAg MSi, Kepala Bidang Yanmed RSUD Kebumen dr Y Tri Prabowo MSc, dan Kepala Bidang Yankes Dinas Kesehatan dr H Pujo Trimakno ikut hadir dalam acara tersebut.
Hadir pula anggota DPRD Kebumen yang cukup serius terhadap persoalan HIV/AIDS. Yakni Ketua Fraksi PKB DPRD Kebumen Ir Sri Hari Susanti MM, anggota Fraksi Partai Golkar Yuniarti Widayaningsih SE dan anggota Fraksi PDI Perjuangan Dian Lestari Subekti Pratiwi SE. Kedatangan para legislator perempuan itu sekaligus mensosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan HIV/AIDS yang telah ditetapkan oleh DPRD Kebumen.
Kepala Puskesmas Petanahan Marlina Indrianingrum SKM MKes mengatakan, kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di wilayah Kecamatan Petanahan tertang HIV/AIDS. Selain itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar peduli terhadap HIV/AIDS.
Beri Penyuluhan
Dia menyebutkan, kasus HIV/AIDS terus mengalami peningkatan. Di Kecamatan Petanahan kasus HIV/AIDS sampai Maret 2013 tercatat sudah mencapai 18 kasus dengan 10 orang dinyatakan meninggal dunia.
"Melihat banyak kasus tersebut, diperlukan adanya peningkatan pengetahuan HIV/AIDS agar masyarakat mengetahui bahaya, cara penularan dan bagaimana pencegahannya serta apa yang harus dilakukan jika sudah tertular," ujarnya kepada Suara Merdeka di sela-sela acara.
Sekretraris KPA Kebumen Siti Nuriatun Fauziyah mengatakan, setelah dilakukan deklarasi diharapkan para pengurus WPA dapat menjadi kader yang memberikan penyuluhan kepada warga. Diharapkan mereka membuka kesadaran kepada masyarakat terkait penanggulangan HIV/AIDS.
"Intinya bagi yang belum tertular bagaimana agar tidak sampai tertular. Sedangkan bagi yang sudah terkena untuk bisa ditangani dengan baik dan tidak didiskriminasikan," ujarnya.
Kliping: 60 Balita di Sulawesi Utara Idap HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 06 Mei 2013
MANADO -- 60 anak usia di bawah lima tahun (balita) di Sulawesi Utara (Sulut) teridentifikasi tertular penyakit "Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome" (HIV/AIDS) pada Februari 2013.
"Terus meningkatnya jumlah bayi dan balita yang mengidap penyakit HIV dan AIDS, ada korelasi dengan terus meningkatnya jumlah ibu rumah tangga yang mengidap penyakit ini," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulut, Tangel-Kairupan di Manado, Senin (6/5).
Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulut yang diadopsi KPA menyebutkan jumlah bayi usia di bawah satu tahun sebanyak 23 pengidap, lima bayi terjangkit HIV dan sisanya 18 menderita AIDS.
Bayi usia satu sampai empat tahun, total penderita HIV/AIDS sebanyak 37 orang dengan 17 bayi mengidap HIV dan sisanya sebanyak 30 menderita AIDS.
Angka penderita pada Fabruari ini, meningkat dua kasus bila dibandingkan dengan jumlah total penderita pada akhir Desember 2012 sebanyak 58 kasus, dengan bayi di bawah satu tahun sebanyak 16 kasus dan di usia satu hingga empat tahun ditemukan 20 kasus.
"Penularannya bukan hanya melalui transfusi darah atau menyusui, tapi juga bisa melalui plasenta pada saat bayi masih berada dalam kandungan" ujar Tangel-Kairupan.
Karena itu menurut dia, pihaknya terus melakukan pendekatan dengan populasi kunci agar melakukan langkah pencegahan melalui program "Prevention Mother to Child Transmission" (PMCTC) atau program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi.
Kliping: Waspada, Bahaya H041 Lebihi AIDS
Topik: HIV/AIDS
Okezone, 06 Mei 2013
PENYAKIT AIDS yang berbahaya ternyata kini mendapatkan saingan baru. Seperti ditemukan baru-baru ini, sebuah penyakit yang lebih berbahaya dari AIDS menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
Para dokter telah memeringatkan bahwa telah ditemukan penyakit seksual menular baru dengan kuman super (superbag) dan lebih berbahaya dibanding penyakit AIDS.
Penyakit ini atau yang dikenal strain resisten antibiotik gonore HO41 dilaporkan ditemukan di Jepang dua tahun lalu, dimana para dokter menemukannya pada pekerja seks berumur 31 tahun.
"Virus ini mungkin jauh lebih buruk daripada AIDS. Sebab, bakterinya lebih agresif hingga dalam jangka pendek sudah bisa langsung mengganggu kesehatan seseorang,' kata Alan Christianson, seorang dokter pengobatan naturopati CNBC.
Ia menambahkan, "Seseorang yang terjangkit virus ini mungkin psikologinya terguncang lebih dalam. Alasannya, karena virus ini bisa membunuh orang dalam hitungan hari. Dan ini sangat berbahaya."
Menanggapi itu William Smith, Direktur Eksekutif National Coalition of STD Directors menyatakan, "Penyakit ini sangat mematikan, sebab seiring waktu berjalan, dampaknya semakin fatal." Demikian seperti dilansir Fox News.
Kliping: ''Superbug Seks'' Lebih Menular daripada AIDS Ditemukan di Hawaii
Topik: HIV/AIDS
PRLM, 06 Mei 2013
HONOLULU - Para pejabat kesehatan telah memperingatkan bahwa dua kasus yang disebut 'superbug seks' telah dikonfirmasi di Hawaii.
Hawaii News Now melaporkan bahwa 'superbug seks' adalah strain resisten dari gonorrhea.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS telah meminta Kongres sebesar 50 juta dolar AS untuk menemukan antibiotik baru untuk mengobati strain yang resisten terhadap obat dari penyakit ini. Kasus pertama di negara ini diidentifikasi pada seorang wanita muda di Hawaii pada Mei 2011.
'Superbug seks' yang disebut H041 pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 2011. Kemudian menyebar ke Hawaii, dan sekarang telah muncul di California dan Norwegia.
Peter Whiticir dari Departemen Kesehatan Hawaii mengatakan nasihat telah dikirim ke dokter dan penyedia layanan kesehatan sekitar Hawaii untuk waspada pada strain resisten dari gonorrhea ini.
Dokter memperingatkan bahwa strain yang tahan antibiotik ini, memiliki potensi sama mematikannya dengan virus AIDS. Gonorrhea paling sering dilaporkan sebagai infeksi yang ditularkan secara seksual kedua di Amerika Utara.
"Ini mungkin jauh lebih buruk daripada AIDS dalam jangka pendek karena bakteri ini lebih agresif dan akan mempengaruhi lebih banyak orang dengan cepat," tutur Alan Christianson, seorang dokter pengobatan naturopati kepada CNBC.
"Mendapatkan gonorrhea dari strain ini mungkin akan menempatkan seseorang dalam keadaan shock dan kematian dalam hitungan hari," kata Christianson. "Ini sangat berbahaya."
Kliping: Penyakit Ini Lebih Berbahaya dari AIDS
Topik: HIV/AIDS
Okezone.com, 06 Mei 2013
PENYAKIT AIDS yang berbahaya ternyata kini mendapatkan saingan baru. Seperti ditemukan baru-baru ini, sebuah penyakit yang lebih berbahaya dari AIDS menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
Para dokter telah memeringatkan bahwa telah ditemukan penyakit seksual menular baru dengan kuman super (superbag) dan lebih berbahaya dibanding penyakit AIDS.
Penyakit ini atau yang dikenal strain resisten antibiotik gonore HO41 dilaporkan ditemukan di Jepang dua tahun lalu, dimana para dokter menemukannya pada pekerja seks berumur 31 tahun.
"Virus ini mungkin jauh lebih buruk daripada AIDS. Sebab, bakterinya lebih agresif hingga dalam jangka pendek sudah bisa langsung mengganggu kesehatan seseorang,' kata Alan Christianson, seorang dokter pengobatan naturopati CNBC.
Ia menambahkan, "Seseorang yang terjangkit virus ini mungkin psikologinya terguncang lebih dalam. Alasannya, karena virus ini bisa membunuh orang dalam hitungan hari. Dan ini sangat berbahaya."
Menanggapi itu William Smith, Direktur Eksekutif National Coalition of STD Directors menyatakan, "Penyakit ini sangat mematikan, sebab seiring waktu berjalan, dampaknya semakin fatal." Demikian seperti dilansir Fox News.
Bentuk pemarginalan atas ODHA masih sangat rentan terjadi. Mereka selalu mendapatkan deskriminatif, dan juga pelabelan-pelabelan negatif lainnya. Padahal, belum tentu terjangkitnya mereka atas HIV/AIDS bukan dari perbuatan mereka sendiri. Akan tetapi, karena tertular secara langsung, atau pun juga karena faktor keturunan.
Ketika HIV/AIDS menimpa, penyakit itu sampai saat ini masih belum ditemukan obatnya. Para ahli kesehatan baru menemukan vaksin yang dapat memperlambat pertumbuhan virus penyakit tersebut. Namun, yang lebih menyakitkan adalah justru respons sosial, berupa pemarginalan, deskriminasi, dan bentuk-bentuk pengucilan lainnya terhadap para ODHA.
Hal demikian yang ingin dilukiskan dalam buku fiksi bertajuk Bulan di Langit Athena yang ditulis oleh Zhaenal Fanani ini. Para ODHA seharusnya mendapatkan ‘cinta’ dan persahbatan seperti yang lainnya. Bukan berarti dengan menjadi ODHA mereka kehilangan segalanya, termasuk cinta dan persabatan.
Begitu juga dengan nasib yang dialami oleh Amiq Queen Shobo. Perempuan berparas cantik sekaligus seorang siswi teladan yang selalu meraih prestasi. Dia terlahir sebagai anak hasil pernikahan lintas etnis, budaya, dan lintas Negara. Ibunya merupakan perempuan kelahiran salah satu desa di Malang yang bernama Sumberdadi. Adapun ayahnya Harubi Shobo merupakan sosok laki-laki percampuran darah Prancis dan Jepang.
Adat masyarakat Sumberdadi menunjukkan tidak terbiasa anak-anak perempuan setempat diperistri oleh orang asing. Apalagi laki-laki itu tidak terlahir dengan paras eropa. Penduduk Sumberdadi digambarkan sebagai penduduk yang tidak pernah tergoda untuk melakukan tindakan yang merusak ekosistem lingkungan. (halaman 78).
Walaupun kedua insan ini menganggap perbedaan tidak dianggap sebagai suatu hal yang menghalangi. Justru perbedaan harus itu harus disikapi sebagai kelaziman dan bukan sesuatu yang istimewa. Namun, adat yang dipegang oleh nenek atau keluarga Ken Pratiwi, ibunda Queen, berkata lain. Kedua orang tua Pratiwi tidak menyetujui hubungan mereka.
Kekuatan cinta yang sudah mengikat dua insan yang memiliki karakter berbeda ini mengalahkan ikatan adat yang berwacana di Sumberdadi. Pratiwi pun meninggalkan kedua orang tuanya, yang telah membesarkannya. Dia juga harus meninggalkan rumah dan kampung halaman yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Queen terlahir dari pernikahan dua insan yang berbeda bapaknya yang memiliki sifat atau pernah merasakan kehidupan glamour, sedangkan ibunya merupakan sosok perempuan kampung yang lugu. Sejak kecil, Queen telah memperlihatkan bakat-bakat mengagumkan. Sebelum genap berusia dua belas tahun. Ia telah menguasai beberapa tarian daerah. Di akhir pendidikan Sekolah Lanjut Tingkat Pertamanya, Queen telah menguasai sejarah bangsa-bangsa dahulu. (halaman 148).
Queen pun tumbuh menjadi sosok perempuan yang berprestasi di kelasnya. Memiliki paras menawan membuat banyak teman-teman laki-lakinya terpesona melihatnya. Tapi tak seorang pun yang dapat meluluhkan hatinya.
Saat duduk di kelas XII, dia mengikuti kegiatan donor darah. Untuk pertama kalinya Queen berpartisipasi aktif dalam kegiatan donor darah. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, dari sekian banyak siswa yang melakukan donor darah ternyata dokter Harini menemukan terdapat satu sampel darah yang terinfeksi HIV/AIDS.
Namun, yang membuat Sorya Atmaja heran adalah siswanya yang selalu mendulang prestasi di kelas, Queen, ternyata positif terinfeksi. Queen yang selama ini dikenal oleh dirinya sebagai kepala sekolah tidak mungkin melakukan hal-hal yang tercela. Akhirnya, dr. Harini dan kepala sekolah pun bersepakat untuk merahasiakan hal itu kepada Queen dan teman-temannya untuk sementara waktu. Mengingat, sebentar lagi para murid akan melangsungkan Ujian Nasional (UNAS), agar para murid, terutama Queen, dapat ujian dengan fokus.
Haripun terus berganti, UNAS sudah di depan mata. Queen terbaring sakit, sudah beberapa hari terakhir. Pratiwi sangat mengkhawatirkan putri satu-satunya itu. Dengan kekuatan cinta yang diberikan sang ibunda dan kepedulian sang ayah yang mulai tumbuh kembali, Queen pun sehat dan dapat mengikuti UNAS.
Namun, pasca UNAS rampung, Queen pun harus dilarikan ke rumah sakit. Queen ingin mencoba mengakhiri hidupnya, setelah mendengar obrolan dokter dengan ayahnya, bahwa dia terinfeksi HIV/AIDS, Queen melarikan diri dari rumah sakit. Kemudiaan Queen mencoba untuk bunuh diri akibat tekanan batin yang dirasakannya.
Beruntung usaha itu digagalkan oleh sosok pria yang tiba-tiba muncul dan menasehati Queen. Akhirnya, Queen luluh dan mengurungkan untuk mengakhiri hidupnya. Queen tanpa pikir panjang ikut dengan pria yang memperkenalkan diri sebaga Barain. Tanpa menanyakan lebih lanjut Queen langsung dihadapi kepada komunitas ‘positif’ (ODHA) yang diberi nama Bumi Cinta. Di sana Queen menemukan kehidupan baru. Kehidupan yang membuatnya merasa terlahir kembali.
Kliping: Ratusan Suami Di NTT Tularkan HIV Ke Istri
Topik: HIV/AIDS
INILAH.COM, 04 Mei 2013
Kupang - Sampai dengan Desember 2012, kasus HIV dan AIDS di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 1.918 kasus. Dari data tersebut, 200 lebih ibu rumah tangga menjadi kelompok dengan penyebaran HIV dan AIDS paling besar jika ditilik dari jenis pekerjaan.
Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Provinsi NTT dr. Husein Pancratius mengatakan, meski belum dilakukan study yang mendalam tentang faktor penyebab ibu-ibu rumah tangga di NTT menempati urutan teratas terinveksi HIV berdasarkan jenis pekerjaan. Namun, dipastikan bahwa 200 lebih ibu rumah tangga di NTT yang terinveksi HIV dan Aids karena ditularkan oleh para suami.
Untuk meningkatkan sosialisasi pencegahan virus tersebut kapada masyarakat, Pemerintah Provinsi NTT telah mengalokasikan dana sebesar Rp 700 juta pada tahun 2012 dan Rp 1, 250 miliar pada tahun 2013.
“Pemerintah Kabupaten dan Kota belum memberi perhatian kepada persoalan tersebut," kata Husein di Kupang, pekan lalu.
Ia menjelaskan, perlu ada regulasi di tingkat desa dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS sehingga gemanya bisa terdengar sampai ke tingkat akar rumput. Diharapkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengadaan Obat Anti Retriviral (ARV) di daerah, sehingga stok obat tersebut tidak putus seperti yang pernah dialami ODHA di Pulau Flores beberapa waktu lalu.
“Alokasi DAK tersebut selain untuk pengadaan obat ARV juga bisa dimanfaatkan untuk Pemberdayaan para Ibu Korban HIV dan AIDS yang hidupnya melarat,” katanya.
Husein mengatakan, untuk melakukan deteksi dini terhadap HIV dan AIDS, KPAD Provinsi NTT mulai tahun 2013 ini, mendorong ibu hamil untuk melakukan Voluntary Counseling and Testing (VCT). Tujuannya untuk mengetahui apakah ibu dan janin itu mengidap HIV atau tidak.
Upaya ini harus dilakukan karena NTT telah menjadi daerah dengan penyebaran HIV dan AIDS yang cukup mencemaskan. Sangat disayangkan dengan kondisi NTT terkait penyebaran HIV dan AIDS dan diibaratkan sebagai gunung es yang sesekali meluap dan membahayakan.
JAMBI – Ikatan Perempua Positif Indonesia (IPPI) menyebut di Indonesia pada umumnya yang menularkan penyakit HIV adalah kaum laki-laki.
Hal ini disampaikan oleh Ketua IPPI Baby Rivona Nasution saat berdiskusi dengan kru redaksi Jambi Ekspres di Graha Pena Jambi Ekspres. Menurutnya, latar belakang kebanyakan kaum perempuan yang terkena HIV AIDS karena terjangkit dari suaminya.
‘’Sedangkan kalau di Jambi yang banyak terjakit HIV juga oleh laki-laki (suami, red) itu berarti laki-laki yang banyak terkena penyakit HIV,” ujarnya.
Selain itu, katanya, kebanyakan perempuan Indonesia pada umumnya yang terkena penyakit HIV adalah akibat dari pemerkosaan yang dilakukan oleh laki-laki.
“Kebanyakan korban para perempuan dikarenakan kasus pemerkosaan,” tambahnya.
Ditanyakan tentang jumlah anggota IPPI saat ini, sebut Baby, untuk jumlah anggota IPPI yang ada 22 propinsi pada saat ini berjumlah kurang lebih 8000 Perempuan dan kesemuanya adalah penderita HIV.
”Namun untuk Jumlah semua anggota di indonesia yang telah terdata sebanyak 550 orang, ini belum terdata semua dikarnakan wilayah indonesia sangat besar,” sebut Baby Rivona Nasution
Untuk mengetahui penderita HIV di Jambi dan membantu memberikan pemahaman kepada perempuan tentang permasalahan yang ditimbulkan, Baby mengatakan telah membentuk anggota IPPI, dan hingga saat ini sudah mencapai 23 orang.
“Sementara itu untuk perempuan yang positif terjakit HIV Aids yang sudah terdata dan telah menjadi anggota IPPI Jambi yang sudah 23 orang,” ungkapnya.
“Dari IPPI juga sudah bermitra dengan berbagai kelompok dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk bekerjasama,” jelasnya lagi.
Lalu apa tujuan dari IPPI? Dikatakan Baby, tujuan didirikannya IPPI adalah sebagai wadah pelatihan dan konsultasi terkait permasalahan kesehatan seksual dan reproduksi dengan kasus-kasus HIV.
“Tujuan kita memberikan pemahaman kepada perempuan dalam ruang lingkup kesehatan reproduksi serta permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi dengan kasus-kasus HIV. Selain itu kita juga memberikan pemahaman dan dampak dari ketidak adilan gender dan krentanan perempuan dalam HIV,” sambungnya lagi.
Kliping: Mahasiwa STAI Aziziyah Samalanga Ikuti Kuliah Umum HIV
Topik: HIV/AIDS
The Globe Journal, 02 Mei 2013
Bireuen - Sebanyak 54 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Aziziyah Samalanga, Bireuen, Rabu (5/5/2013) mengikuti kuliah tentang HIV AIDS dari sudut pandang medis. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus setempat dengan Yayasan Permata Atjeh Peduli (YPAP).
Kepada mahasiswa sekolah tinggi itu, Oki Staria dari YPAP menyampaikan berbagai hal terkait dengan masalah bahanya HIV AIDS dari sisi medis. Respon peserta untuk materi yang disampaikan cukup luar biasa. Sehingga hanya satu pemateri yang sempat menjelaskan isi ceramahnya. Hal ini diakibatkan oleh banykanya pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh pemateri.
Kliping: 33 WNA di Bali Positif HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Liputan6.com, 02 Mei 2013
Denpasar: Sebanyak 33 orang asing yang pernah mengunjungi atau tinggal Bali, positif menderita HIV / AIDS.
Hal ini disampaikan Komisi AIDS Daerah (KPA),Dr Mangku Karmaya seperti dikutip Antara di Jakarta, Kamis (2/5/2013).
Menurut Mangku, dari data yang dikumpulkan sejak tahun 1987-2013, hasilnya 16 dari 33 penderita HIV / AIDS tidak diketahui. 17 diantaranya berasal dari Timor Leste dan Amerika Serikat (masing-masing empat orang), Perancis (dua), Australia, Belanda, Kanada, Eropa, Irlandia, Italia dan Swiss.
"Warga asing pertama yang meninggal karena AIDS di Bali berasal dari Belanda pada tahun 1987. Dalam 27 tahun terakhir, hingga saat ini terdapat 7.291 kasus HIV/AIDS. Dengan total pembawa virus HIV/AIDS 3.459 dengan 3.832 kasus penderita," jelasnya.
Mangku mengatakan bahwa jumlah penderita HIV / AIDS di Bali saat ini telah menyebar ke daerah pedesaan, sehingga jumlah kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun.
"75 persen penyakit ini disebabkan hubungan heteroseksual, dan 11,08 persen dari penggunaan obat, 4,16 persen akibat homoseksual dan sisanya akibat penyebab lain," ungkap Mangku.
Dalam penjelasannya, Mangku menjelaskan kalau sebagian besar korban diketahui berada di kelompok usia produktif, atau sekitar 40,19 persen atau 2.930 kasus pada kelompok usia 20-29 tahun dan 36.33 persen atau 2.649 kasus pada kelompok usia 30-39 tahun.
Kliping: Optik DVD Player jadi Alat Deteksi HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Fajar Online, 02 Mei 2013
PARA peneliti telah berhasil mengembangkan teknik deteksi HIV terbaru yang cukup murah dengan menggunakan pemindai (scanner) yang ada di DVD player. Peneliti di School of Biotechnology di KTH Royal Institute of Technology di Stockholm, memanfaatkan optik yang ada di DVD player untuk memindai HIV/AIDS.
Penemuan itu diyakini dapat mengurangi biaya tes HIV/AIDS maupun analisis lainnya yang selama ini cukup mahal. "Tim riset kami mengkonversi DVD drive komersial menjadi pemindai mikroskop laser yang dapat menganalisis darah, dan melakukan pencitraan seluler dengan resolusi satu mikrometer," kata Aman Russom, dosen senior di perguruan tinggi milik Kerajaan Belgia itu seperti dilansir laman The Indian Express, Selasa ( 30/4).
Terobosan tes HIV yang murah dan sederhana ini bisa bermanfaat untuk perawatan kesehatan pasien HIV/AIDS di negara berkembang. Dengan teknologi sederhana ini, hanya butuh waktu beberapa menit untuk memastikan seseorang terjangkiti HIV/AIDS.
"Dengan DVD player biasa, kami telah membuat alat analisis murah untuk DNA, RNA, protein dan bahkan seluruh sel. Kami menyebut penemuan ini sebagai LAB ON DVD, suatu teknologi yang memungkinkan penyelesaian tes HIV hanya dalam beberapa menit" beber Russom.
Kliping: 33 WNA di Bali Terdeteksi Positif HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
KOMPAS.com, 01 Mei 2013
DENPASAR - Sebanyak 33 warga negara asing (WNA) yang berkunjung dan menetap di Bali terdeteksi positif HIV/AIDS selama periode 1987-2013.
"Dari jumlah penderita tersebut, 16 orang di antaranya tidak diketahui secara pasti kewarganegarannya," kata Koordinator Kelompok Kerja Pencegahan Promosi dan Hubungan Masyarakat Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Bali Prof Dr dr Mangku Karmaya di Denpasar, Rabu (1/5/2013).
Dari jumlah itu, hanya 17 orang yang diketahui kewarganegaraannya. Timor Leste dan Amerika Serikat penyumbang terbanyak, masing-masing empat orang. Disusul Prancis dua orang, sedangkan Australia, Belanda, Kanada, Irlandia, Italia, dan Swiss, masing-masing satu orang.
Mangku Karmaya menambahkan bahwa WNA pertama yang meninggal di Bali akibat menderita AIDS berasal dari Belanda pada 1987.
Sejak saat itu Bali lebih meningkatkan kewaspadaan dan penanganan terhadap pemderita HIV/AIDS, termasuk warga negara Indonesia dan masyarakat lokal yang menderita hilangnya kekebalan daya tubuh.
Dengan demikian penderita HIV/AIDS di Bali dalam kurun waktu 27 tahun terakhir mencapai 7.291 orang, terdiri atas penderita AIDS 3.459 orang dan HIV 3.832 orang.