A better strategic information for effecctive HIV - AIDS response in Indonesia   

Pilih Bahasa
(Select Interface Language)

English Indonesian
Google
 
Untuk Akses, Mohon Registrasi

Daftar Member Baru - Login Member
    HIV-tuberculosis co-infection is a global problem: resources need to be expanded and funding must be sustainable and predictable        PB IDI menyatakan bahwa kondom adalah alat kesehatan yang mampu mencegah penularan infeksi menular seksual (termasuk HIV) bila digunakan pada setiap kegiatan seks berisiko.        By enabling and empowering women to protect themselves and their partners with female condoms, we can begin saving lives and curbing the spread of HIV today.         Women need prevention now. They need access to the female condom and education on its use.        Indonesian AIDS Community (AIDS-INA) will use internet technologies for facilitating the dissemination and exchange of knowledge and experience in HIV/AIDS programme among all community members        Do you know that DFID provide £25 million in support of a large HIV and AIDS Programme in Indonesia started in 2005? Do you know where the fund have been allocated?        Apakah Menko KesRa atau Presiden SBY masih peduli terhadap penanggulangan penyakit menular, termasuk HIV-AIDS, TB, Malaria - di Indonesia? Indonesia sedang dalam kondisi sungguh sulit dengan dampak penularan yang terus meluas pada masyarakat yang miskin        Bila Konsep Akselerasi Upaya Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia tidak difahami dengan BENAR dan Berbasis evidence, maka TIDAK AKAN berhasil menahan laju epidemi HIV di Indonesia. Itu yang terjadi sekarang!        Further evidence to support a recommendation for exclusive breastfeeding by HIV-positive mothers in resource-limited settings        Deliver TB and HIV services in the context of fully functioning primary health care systems to ensure cases are detected, prevention is available and treatment accessible and sustained        Reach the most vulnerable populations with TB and HIV services Now!        The HIV service providers need to do : screening for TB and starting isoniazid preventive therapy if there is no sign of active TB.        To fight AIDS we must do more to fight TB (Nelson Mandella, 2004)        Violence makes women more susceptible to HIV infection and the fear of violent male reactions, physical and psychological, prevents many women from trying to find out more about it, discourages them from getting tested and stops them from getting treatmen        People at high risk of HIV exposure should be tested every three to six months in identifying recently infected people then we have to be able to counsel them to modify high-risk sexual behavior and desist from transmitting the virus        About half of new HIV cases occur when the person transmitting the virus is in the early stages of infection and unlikely to know if he or she is HIV-positive        HIV/AIDS Epidemic in Indonesia: not one ( single) epidemic but many (multiple) (riono, pandu)        Combating HIV-AIDS requires more than prevention and treatment. It requires improving the conditions under which people are free to choose safer life strategies and conditions.        Para pecandu yang butuh alat suntik (insul) steril, hubungi LSM setempat - Lihat pada Jejaring Layanan        Kurangi Dampak Akibat Bencana Napza dengan Upaya Pemulihan Pecandu yang komprehensif (metadon, Jarums steril, tes HIV dan Hep C, Pengobatan dan Dukungan)        Treatment without prevention is simply unsustainable! Pengobatan saja tanpa upaya pencegahan yang serius dan sistematik sama saja BOHONG!        1 Desember: keprihatinan global atas kegagalan kita!        Gunakan alat suntik steril untuk hindari penularan HIV dan Hepatitis        Pakai kondom pada setiap kegiatan seks berisiko, dapat mencegah penularan HIV        HIV tidak mudah menular dari satu orang ke orang lain        Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) adalah institusi koordinasi BUKAN Pelaksana program atau Implementor!!        Profesi Kesehatan perlu terlibat dan dilibatkan secara aktif dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS        Perluasan Masalah HIV-AIDS di Indonesia TIDAK mungkin dibatasi oleh wilayah administratif tertentu saja        Hindari diskriminasi dan stigmatisasi pada orang rawan dan orang yang telah terkena HIV        AIDS adalah kenyataan, lakukan tes HIV bila ingin tahu status anda        AIDS-INA - Sarana komunitas AIDS Indonesia untuk menyampaikan gagasan serta tukar informasi    

Menu

Referensi
 Kliping
 Estimasi
 Data Kasus
 Artikel
 Publikasi
 Perpustakaan
 Daftar Istilah

Jejaring
 KPAP/KPAK
 LSM-Institusi
 Individu
 Layanan AIDS
 Website
 Laporan Keg.

Agenda
 Internasional
 Nasional

Informasi Dasar
  Adiksi
  Harm Reduction
  HIV-AIDS
  IMS/RTI
  Tes HIV

Translate with
Google Translate

Lilin Kenangan

Lilin Kenangan
Lilin Kenangan dipersembahkan untuk:
"Diriku sendiri dan saudara2 yang sama2 berjuang.... fojus untuk sehat dan berbahagia beruntung kita diberikan cara penebusan dosa di dunia yang belum tentu kita akan sanggup menebusnya kalau di akhirat nanti. Untuk Mama ku dan saudara2 ku tercinta.... besar harapan mu untuk aku bahagia doa kalian yang menambah kekuatan.. mama aku tau mama ingin cucu dariku... aku tau mama selalu bertanya kapan krn ingin aku bahagia... aku tau mama selalu bertanya karena ketidak tauan mama tentang kondisiku... aku sedang berjuang Ma... aku berjanji tdk akan memberikan kesedihan saat papa tiada... makanya aku berjuang sendiri dan aku yakin... cucu yg kau dambakan bukan hal yg mustahil... kesehatan ku semakin membaik aku sudah bangkit dari keterpurukan mental krn bisikan syetan, Mama jangan km yang sehat ya. Tunggu aku dan menantu beserta cucu2 mu bersimpuh dalam pelukanmu... aku janji aku akan terus berjuang!!!"
oleh:
Danny
Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Nyalakan Lilin Anda

Partisipasi Anda

 Umpan Balik
 Kirim Kegiatan
 Kirim berita
 Join Mailist aids-ina

Pencarian


Google

Yang sedang online

Saat ini ada
130 tamu, 1 anggota
dan
Hari ini dikunjungi oleh 933 tamu/anggota

Pengunjung

Site ini telah dikunjungi
26426361 kali
sejak August 2006

Donation & Report

AIDsina Production: for Healthly Community
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!
Bangun Informasi AIDS untuk Semua Bersama Kami!

Dukungan

Republik Indonesia

Departemen Kesehatan RI

AIDS Data Hub

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

Ikatan Dokter Indonesia

Power by
PHP Nuke

Pernas HIV-AIDS ke-3

Cari pada Topik Ini:   
[ Kembali ke Halaman Depan | Pilih Topik Baru ]
Pernas HIV-AIDS ke-3: Pemberdayaan Ekonomi Menjadi Bagian Dari Penanganan HIV/AIDS
Topik: HIV/AIDS
Harian Berita Sore, 31 Juli 2009

Cikeas, Bogor ( Berita ) : Pemberdayaan ekonomi bagi orang yang terpapar HIV/AIDS dan keluarganya akan menjadi bagian dari program penanganan HIV/AIDS secara nasional sehingga penanganan masalah itu dapat berjalan secara simultan.

Sekretaris Komisi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS Nafsiah Mboi, usai bertemu dengan Ibu Negara Ani Yudhoyono di kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Puri Cikeas, Jumat [31/07] mengatakan, upaya itu akan didorong sehingga baik pengidap HIV/AIDS maupun keluarganya dapat keluar dari masalah ekonomi keluarga.

Dikirim oleh administrator pada (802 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 5)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Sudah 478 Pengidap HIV/AIDS di Provinsi Kepri
Topik: HIV/AIDS
Kompas Online, 30 Januari 2009
KARIMUN, KAMIS - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Pulau Karimun Besar, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri, sejak 2006 hingga 2008, tercatat 478 orang.  "Sejak 2006 hingga 2008 jumlah pengidap HIV/AIDS tercatat sebanyak 478 orang. Mereka terdiri atas 293 pengidap HIV dan 185 penderita AIDS. Bahkan, 42 dari 185 pengidap AIDS itu sudah meninggal dunia," kata Program Manejer Yayasan Sri Mersing, Rustam Effendi, dalam acara Menahan Epidemi IMS-HIV dan AIDS di Kabupaten Karimun, di Tanjung Balai Karimun (TBK), Kamis (29/1).

Dikirim oleh Djumiran pada (1077 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Penderita HIV AIDS di Kalsel Capai 106 Kasus
Topik: HIV/AIDS
Republika, 12 Juni 2008
Banjarmasin-RoL-- Korban penyakit mematikan Aids (acquired immune deficiency syndrome) yang disebabkan HIV (human immunodeficiency virus) di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus bertambah.

Dikirim oleh gambit pada (1104 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Strategi Nasional Penanggulangan AIDS 2007 – 2010 Diluncurkan
Topik: Narkoba
Dinamika epidemi AIDS di Indonesia yang menunjukkan kecenderungan yang meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir membutuhkan paradigma baru untuk menanggulanginya. Karena itu, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional meluncurkan Strategi Penanggulangan HIV dan AIDS Nasional tahun 2007 – 2010 menggantikan strategi nasional tahun 2003-2007.

Surabaya, 5 februari 2007. Jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia yang mengalami peningkatan pesat dalam 10 tahun terakhir dan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan jika upaya penanggulangan tidak dipercepat dan di perluas. Diperkirakan akan ada 1 (satu) juta infeksi HIV baru termasuk 350 ribu orang meninggal karena AIDS dalam 10 tahun kedepan jika upaya penanggulangan masih tetap menggunakan paradigma lama. Kenyataan diatas menjadi dasar diluncurkannya Strategi Nasional Penanggulangan AIDS 2007 – 2010 oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, disela-sela Pertemuan Nasional HIV/AIDS ke – 3 di Hotel Shangri La Surabaya hari ini.

Sekretaris KPA Nasional Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH mengatakan bahwa Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007 – 2010 ini menjabarkan paradigma baru dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia dari upaya yang terfragmentasi menjadi upaya yang komprehensif dan terintegrasi oleh semua pemangku kepentingan. "Strategi ini diharakan menjadi pedoman bagi semua pelaku upaya penanggulangan di semua sektor dan tingkatan, agar gerak langkah penanggulangan menjadi lebih serempak," Jelas Dr. Nafsiah.

Lebih lanjut Dr. Nafsiah Mboi menjelaskan bahwa Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007 – 2010 juga merupakan kelanjutan dari amanat yang tertuang dalam Peraturan Presiden No.75 tahun 2006 yang mengharuskan adanya peningkatan penanggulangan di seluruh Indonesia termasuk mewajibkan daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk mendorong adanya kebijakan penanggulangan dan pengalokasian dana penanggulangan melalui APBD.

Tujuan umum penanggulangan HIV dan AIDS dalam Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007 – 2010 adalah mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat, yang diarahkan pada 7 (tujuh) area prioritas, yaitu: (1) Pencegahan Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS; (2) Perawatan, pengobatan dan dukungan kepada ODHA; (3) Surveilans HIV dan AIDS serta Infeksi Menular Seksual; (4) Penelitian dan riset operasional; (5) Lingkungan Kondusif; (6) Koordinasi dan harmonisasi multipihak; dan (7) Kesinambungan Penanggulangan.

Strategi Nasional yang baru ini menjelaskan bahwa upaya penanggulangan diarahkan kepada kelompok orang dengan HIV dan AIDS (Infected People), kelompok yang beresiko tertular (High-Risk People), kelompok yang rentan penularan (Vulnerable People) dan masyarakat umum (general population).

Untuk mencapai tujuan pencegahan, Strategi Nasional yang baru mengarahkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokkan dalam program-program: (1) Program peningkatan pelayanan konseling dan testing sukarela; (2) Program peningkatan penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko, yang juga mencakup program Behaviour Change Intervetion (BCI); (3) Program penguranngan dampak butuk penyalahgunaan NAPZA suntik atau Harm Reduction; (4) Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak; (5) Program penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS); (6) Program penyediaa darah dan produk darah yang aman; (7) Program peningkatan kewaspadaan universal; (8) Program komunikasi publik; (9) Program pendidikan ketrampilan hidup; dan (10) Program perlindungan, perawatan dan dukungan pada anak.

***
Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Ruddy Gobel, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS, Gedung Surya
Lt.7, Jl. M.H Thamrin Kav. 9, Jakarta 10350, Telp.+62(21) 3901758,
Fax.+62(21)3902665, email: Email: ruddy.gobel@ aidsindonesia. or.id,
mobile: +62(816)1152460.

Clarissa Idarto, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS, Gedung Surya
Lt.7, Jl. M.H Thamrin Kav. 9, Jakarta 10350, Telp.+62(21) 3901758,
Fax.+62(21)3902665, email: Email: clarissa@aidsindone sia.or.id,
mobile: +62(818)06424342.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional adalah lembaga yang bertugas merumuskan kebijakan dan melakukan koordinasi dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. KPA bertanggungjawab dan melapor kepada Presiden. KPA berdiri sejak tahun 1994 dan dasar hukum KPA Nasional saat ini adalah Peraturan Presiden No.75 Tahun 2006.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
HIV & AIDS adalah penyakit menular yang bisa di cegah. HIV hanya MENULAR melalui hubungan seks tanpa kondom, penggunaan jarum/alat suntik yang tercemar virus HIV, dan dari ibu ke anak. HIV/AIDS TIDAK MENULAR melalui jabat tangan, berciuman, menggunakan peralatan makan/kerja bersama, berbagi ruangan, dan kontak sosial biasa.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Dikirim oleh administrator pada (2891 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Kondom Perempuan Diluncurkan
Topik: Narkoba
Untuk mendukung kebijakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dalam mendorong penggunaan kondom yang lebih luas dalam hubungan seks berisiko, metode pencegahan yang di kontrol oleh perempuan (Female Control Method) melalui Kondom Perempuan hari ini diluncurkan dan akan tersedia di pasar dalam waktu satu bulan kedepan. Peluncuran kondom perempuan ini didasarkan atas kenyataan bahwa angka penggunaan kondom yang masih relatif rendah dalam hubungan seks yang berisiko adanya fakta bahwa banyak pria yang sering melakukan hubungan seks berganti pasangan enggan untuk menggunakan kondom sehingga meningkatkan risiko pasangannya tertular HIV.

Surabaya, 5 februari 2007. Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Nasional H. Aburizal Bakrie meluncurkan kondom perempuan (Female Condom) sebagai bagian dari strategi penanggulangan HIV/AIDS dan mendorong penggunaan kondom yang lebih luas di setiap hubungan seks yang berisiko, pada hari ini bersamaan dengan pembukaan Pertemuan Nasional HIV dan AIDS ke-3 di Hotel Shangri La, Surabaya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH menjelaskan bahwa peluncuran kondom perempuan ini didasarkan atas kenyataan bahwa angka penggunaan kondom yang masih relatif rendah dalam hubungan seks yang berisiko dan diperburuk dengan fakta bahwa banyak pria yang sering melakukan hubungan seks berganti pasangan enggan untuk menggunakan kondom sehingga meningkatkan risiko pasangannya tertular HIV.

"Dengan metode pencegahan yang bisa di kontrol oleh perempuan (female control method) ini, kita bisa mencegah lebih banyak lagi kasus HIV baru yang disebabkan oleh hubungan seks yang tidak aman," Jelas Dr. Nafsiah. Dengan metode ini, perempuan bisa mengambil alih kontrol dan memastikan hubungan seks berlangsung lebih aman, karena dalam penggunaan kondom pria, laki-laki yang biasanya menjadi penentu apakah hubungan seks ini bisa berlangsung aman atau tidak.

Menurut konsultan kondom perempuan Caroline Maposhere dari Zimbabwe, selain efektif mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS). "Selain itu, kondom perempuan ini bisa digunakan beberapa jam sebelum berhubungan seks, dan tidak seperti kondom pria yang hanya bisa digunakan sekali, kondom perempuan bisa digunakan beberapa kali," Jelas Caroline.

Produk Kondom Perempuan yang diluncurkan adalah produk yang dipasarkan oleh DKT Indonesia dan akan segera beredar dalam waktu 1 bulan di berbagai apotik-apotik terdekat. Kondom tersebut berbahan dasar Latex ini diimpor langsung dari India dan mempunyai busa/spons yang tertutup untuk menyerap sperma. Panjang Kondom ini 17cm dengan diameter 6,6 – 7cm dan untuk mencegah bersarangnya penyakit, kondom ini juga mempunyai daerah segitiga yang elastis dan fleksibel.

Sebelumnya kondom perempuan ini telah di uji coba di Papua dan Jakarta dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Jakarta uji coba dilakukan terhadap Pekerja Seks Komersil di kawasan Rawa Bebek dan Ibu Rumah Tangga.

***
Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Ruddy Gobel, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS, Gedung Surya
Lt.7, Jl. M.H Thamrin Kav. 9, Jakarta 10350, Telp.+62(21) 3901758,
Fax.+62(21)3902665, email: Email: ruddy.gobel@ aidsindonesia. or.id,
mobile: +62(816)1152460.

Clarissa Idarto, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS, Gedung Surya
Lt.7, Jl. M.H Thamrin Kav. 9, Jakarta 10350, Telp.+62(21) 3901758,
Fax.+62(21)3902665, email: Email: clarissa@aidsindone sia.or.id,
mobile: +62(818)06424342.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional adalah lembaga yang bertugas merumuskan kebijakan dan melakukan koordinasi dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. KPA bertanggungjawab dan melapor kepada Presiden. KPA berdiri sejak tahun 1994 dan dasar hukum KPA Nasional saat ini adalah Peraturan Presiden No.75 Tahun 2006.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
HIV & AIDS adalah penyakit menular yang bisa di cegah. HIV hanya MENULAR melalui hubungan seks tanpa kondom, penggunaan jarum/alat suntik yang tercemar virus HIV, dan dari ibu ke anak. HIV/AIDS TIDAK MENULAR melalui jabat tangan, berciuman, menggunakan peralatan makan/kerja bersama, berbagi ruangan, dan kontak sosial biasa.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Dikirim oleh administrator pada (1070 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 1)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Kongres I Ikatan Perempuan Positif Indonesia diselenggarakan di Surabaya, 31 Jan
Topik: Narkoba
Jakarta, 20 Januari 2007 – Untuk pertama kali sejak didirikan pada 17 Juni 2006, Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) akan melangsungkan Kongres I IPPI pada 31 Januari 2007 hingga 4 Februari 2007 di Surabaya, Jawa Timur.

Sebanyak 70 orang perempuan yang hidup dengan HIV dan yang terdampak oleh AIDS dari seluruh Indonesia akan hadir dalam Kongres I IPPI tersebut.

Kongres I IPPI merupakan agenda tindak lanjut dalam upaya untuk mendirikan jaringan nasional perempuan yang hidup dengan HIV dan yang terdampak oleh AIDS, yang pertama kali dicetuskan dalam lokakarya khusus perempuan di Hotel Raddin, Ancol, Jakarta , pada bulan Juli 2005.

Sebagai bagian dari rangkaian acara Pertemuan Nasional HIV dan AIDS ke-3 yang diadakan pada 4 – 8 Februari 2007 di Surabaya, diharapkan IPPI dapat disosialisasikan sebagai jaringan nasional pertama bagi perempuan yang hidup dengan HIV dan terdampak oleh AIDS di Indonesia.

Tujuan dari dibentuknya jaringan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dengan HIV dan yang terdampak oleh AIDS melalui pemberdayaan dan kesetaraan dalam semua aspek kehidupan. Upaya-upaya tersebut akan diimplementasikan dalam rencana kerja IPPI di masa mendatang.

“Setelah mengetahui diri kami HIV-positif, bukan berarti kami tidak bisa apa-apa, kami bersatu untuk memberdayakan diri dan menyebarkan pesan kepada perempuan-perempuan Indonesia lainnya,” Frika Chia dari Yayasan PITA, yang juga anggota tim penasehat IPPI, mengatakan.

Sementara itu, anggota tim penasehat IPPI lainnya, Baby Rivona Nasution, mengatakan bahwa berdirinya IPPI akan sangat membantu perempuan yang hidup dengan HIV dan terdampak oleh AIDS.

“Karena kita sadari kesetaraan jender di Indonesia belum terjadi,” kata Baby, yang juga bekerja di LSM Medan Aceh Partnership.

Ia mengatakan bahwa IPPI diharapkan dapat menjadi wadah bagi perempuan – baik mereka yang hidup dengan HIV (ODHA), terdampak oleh AIDS (OHIDHA), maupun yang berisiko – untuk mendapatkan informasi lengkap dan tepat mengenai HIV dan AIDS, dan menjadi wadah bagi pengembangan diri untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Mudah-mudahan dengan IPPI, perempuan Indonesia lebih berinisiatif untuk mengakses layanan informasi yang tersedia, khususnya mengenai kesehatan seksual dan reproduksi, tanpa harus menunggu,” kata Baby.

Dalam Kongres I IPPI akan dibahas dan disahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, program kerja IPPI, diadakan pemilihan anggota dewan serta koordinator nasional, dan penetapan wilayah kerja IPPI.

Kongres I IPPI difasilitasi oleh Yayasan Spiritia dengan Kelompok Dukungan Perempuan Independen Jakarta sebagai tim pelaksana, serta didukung penuh oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS (UNAIDS).

Kongres selama tiga hari ini akan menghadirkan Emmy Lucy Smith dari Indonesia Against Child Trafficking (ACT) dan Nining Mukatamar dari Yayasan Kakak Solo sebagai fasilitator, serta Direktur Surabaya Children Crisis Center (SCCC) Suryono sebagai pembicara.

Kongres diharapkan akan ditutup oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dr. Meutia Hatta serta Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Dr. Nafsiah Mboi, MPH.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Puji Astuti Hoesin (Tary) | Panitia pelaksana Kongres I IPPI | +62 813 155 502 08 | tary_angga@yahoo. com

Dikirim oleh administrator pada (1558 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Ketidaktahuan Penyedia Layanan Kesehatan Menjadi Hambatan Utama dalam Akses Pela
Topik: Narkoba
Surabaya, 7 Pebruari 2007 – Sebuah laporan hasil penelitian partisipatif menyebutkan bahwa salah satu hambatan utama dari akses terhadap pelayanan kesehatan bagi orang yang hidup dengan HIV (ODHA) adalah kurangnya pengetahuan penyedia layanan kesehatan terhadap HIV dan AIDS, serta pengertian dan etika mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan epidemi ini di Indonesia.

"Pelayanan kesehatan di Indonesia secara umum memang buruk, ditambah lagi dengan masalah stigma dan diskriminasi yang dihadapi oleh orang yang hidup dengan HIV, kondisi ini menjadi tidak dapat diterima," Asisten Hubungan Masyarakat Sipil UNAIDS Indonesia, Rico Gustav, mengatakan.

Sebuah focus group discussion yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, misalnya, menguak adanya seorang pasien yang ingin berobat untuk tuberkulosa ke sebuah klinik, tidak dihiraukan oleh penyedia layanan kesehatan karena status HIV-nya.

"Ketika dia tahu saya dari suatu lembaga, dia nanyain status, terus terutama (tentang) ODHA itu sendiri, langsung menanganinya tuh seolah-olah dioper-oper sampai ketika perawat yang terakhir datang dia bilang eh mas dah mau tutup".

Namun Rico mengungkapkan bahwa kondisi seperti ini adalah akibat dari ketidaktahuan penyedia layanan kesehatan terhadap masalah HIV dan AIDS.

"Kebanyakan karena mereka tidak mengerti, mereka tidak tahu, dan tidak ada insentif yang mendorong mereka untuk mencari tahu lebih banyak," katanya. Kurangnya insentif ini misalnya diakibatkan oleh proses pembukuan pengobatan HIV yang masih di luar dari mekanisme pelaporan medis yang biasanya, sehingga menambah pekerjaan, kata Rico.

Laporan yang berjudul "ODHA dan Akses Pelayanan Kesehatan" ini juga menguak pentingnya akses terhadap pelayanan pengobatan, perawatan, dan dukungan untuk HIV/AIDS.

"Di sini Akses Universal lebih banyak diartikan sebagai penyediaan obat-obatan ARV saja. Tersedianya obat tentunya sangat baik, namun bagi kebanyakan orang masalah utama dari akses terletak dari sulitnya transportasi dan biaya," kata Asisten Kemitraan dan Jejaring UNAIDS Indonesia, Samuel Nugraha.

Pernyataan ini terungkap saat diselenggarakannya focus group discussion di kelompok dukungan sebaya Tasik+:
"Pengambilan obat yang musti bolak-balik Bandung, bolak-balik Jakarta, kan makan waktu makan biaya, kalau bisa sih kepengennya ada di Tasik".

Lalu dari kelompok dukungan sebaya Sukabumi Positif Community:
"Dari pengalaman saya waktu tes HIV di Sukabumi dirujuk ke Bandung, tapi setelah menerima hasilnya, di Sukabumi ini tidak bisa memvonis negatif atau positif, akhirnya pergi ke Jakarta untuk tes lagi dan dokter belum yakin sama hasilnya".

Sebanyak 12 orang yang hidup dengan HIV (ODHA) bersama 11 peneliti LSM telah direkrut untuk penelitian ini sebagai salah satu proses pembelajaran peran serta ODHA dalam respon nasional (GIPA), sementara peneliti-peneliti Irwanto, PhD. serta Laurike Moeliono, MA. memberikan konsultasi dan melakukan penulisan akhir.

Penelitian difasilitasi oleh Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNAIDS), dan mendapat dukungan penuh dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Proses penelitian termasuk wawancara dengan ODHA lain mengenai bagaimana cara mereka mengakses pelayanan kesehatan, wawancara dengan penyedia layanan kesehatan, melakukan survei atas fasilitas kesehatan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, serta penyelenggaraan focus group discussion.

Berlangsung dari Desember 2005 hingga Juli 2006, penelitian ini telah menghimpun 270 responden dari lima propinsi -- Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur – dengan komposisi 64% koresponden laki-laki (172 orang), 29% perempuan (77 orang), dan 8% waria (21 orang). Umur rata-rata responden laki-laki adalah 28 tahun, perempuan 31 tahun, dan waria 25 tahun.

"Keberhasilan penelitian ini sebagian besar adalah atas keterlibatan langsung dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA) sendiri," perwakilan UNAIDS untuk Indonesia Jane Wilson, Ph.D. mengatahan pada peluncuran laporan penelitian di Hotel Sari Pan Pacific hari Kamis.

"Keterlibatan mereka sangat penting bagi upaya penanggulangan AIDS yang etis dan efektif," katanya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS, Dr. Nafsiah Mboi, SpA., MPH., mengatakan bahwa laporan ini merupakan sumbangsih yang besar bagi upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi orang dengan HIV.

"Penelitian partisipatif ini bisa menjadi pengalaman yang berharga tentang bagaimana mendorong keterlibatan ODHA," katanya.

Laporan penelitian partisipatif "ODHA dan Akses Pelayanan Kesehatan" pertama kali diluncurkan pada hari Kamis, 12 Oktober 2006 di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Laporan tersebut digunakan dalam workshop yang dilaksanakan sebagai bagian dari Pertemuan Nasional HIV & AIDS ke-3 di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 7 Pebruari 2007.

Informasi lebih lanjut:
Samuel Nugraha | Partnership & Network Assistant, UNAIDS Jakarta | tel. +62 21 314 1885 | snugraha.unaids@ un.or.id
Rico Gustav | Civil Society Liaison Assistant, UNAIDS Jakarta | tel. +62 21 314 1885 | rgustav.unaids@ un.or.id
Elis Widen | Senior Leadership Advocacy & Communications, UNAIDS Jakarta | tel. +62 21 314 1885 | +62 812 1970 449 | elis.unaids@ undp.org

Tantri Yuliandini | Communications Associate, UNAIDS Jakarta | tel. +62 21 314 1885 | +62 818 826 874 | yuliandiniT@ unaids.org

UNAIDS , Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS mempersatukan upaya dan sumberdaya 10 lembaga PBB bagi upaya penanggulangan AIDS global. Para kosponsor termasuk UNHCR, UNICEF, WFP, UNDP, UNFPA, UNODC, ILO, UNESCO, WHO dan World Bank. Berkantor pusat di Genewa, sekretariat UNAIDS juga bekerja di lebih dari 75 negara di seluruh dunia.

Dikirim oleh administrator pada (2040 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 5)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Launching www.harmreduction-indonesia. org
Topik: Narkoba
Di akhir 1990an, data surveilansi yang diambil dari para pemakain narkoba di pusat rehabilitasi di Jakarta mengindikasikan adanya lonjakan infeksi HIV di antara pemakai jarum suntik, dimana tingkat prevalensinya naik secara drastis dari nol ke 47% hanya dalam empat tahun. Model epidemiologis terbaru menunjukkan bahwa penguna jarum suntii terbukti merupakan katalis untuk epidemi seksual yang lebih luas lahi di negara ini. Naun sampai tahun 2002, hampir tidak ada layanan HIV yang tersedia bagi pemakai narkoba jarum suntik.

Indonesia menghadapi epidemi ganda: HIV/AIDS dan napza sejak akhir tahun 1990an dengan booming napza di masyarakat. Data surveilans HIV?AIDS 1997-2001 mencatat peningkatan 48% dinatara residensnya. Depkes mencatat 219.139 penasun (pengguna napza suntik); prervalensi HIV 42,5% (depkes 2006).

Pengalaman internasional penangulangan HIV/AIDS yang efektif bagi penasun adalah PJSS (pemakaian jarum suntik steril). Program PJSS pertama dilakukan Yayasan Hatihati di Bali (2001), IHPCP (Indonesia HIV/AIDS Prevention and care Project-AusAID) memperluas cakupan layanan melalui 12 LSM sejak 2003 di 5 propinsi ( jakarta, jabar, sulsel, bali, NTT). Tahun 2004, layanan Harm reduction (pengurangan dampak buruk) di puskesmas dimulai di puskesmas kecamatan jatinegara (jakarta). Namun cakupan layanan nasioanl HIV/AIDS bagi penasun hanyalah 10%. Mengingat epidemi hanya dapat dialihkan bila cakupan mencapai 75% maka IHPCP melibatkan sistem kesehatan nasioanl dalam penanggulangan HIV/AIDS berdasarkan pelajaran dari penalaman puskesmas jatinegara.

Dalam melaksanakna program PJSS, IHPCP bekerjasama dengan BPS (Badan Pusta Statistik) membuat suatu sistem database yang terpadu untuk pendataan dan monitoring program pertukaran jarum suntik di lima propinsidi Indonesia dan dipublikasikan dalam website dengan alamat : www.harmreduction- indonesia. org.

Fitur web site

Website www.harmreduction- indonesia. org dikelola oleh IHPCP bekerjasama dengan BPS dengan tujuan mempublikasikan data-data hasil pendataan dan monitoring yang dikumpulkan dari sistem database mitra-mitra IHPCP, baik LSM maupun puskesmas, yang menjalankan program perjasun (pertukaran jarum suntik) yang tetsebar di lima propinsi (DKI jakarta, jabar, bali, sulsel, NTT) yang keseluruhannya terdiri dari 76 mitra.

Database akan terupdate secara otomatis, setiap kali mitra mengupload data yang telah diinput secara lokal. Dengan demikian diharapkan situs ini dapat memberikan informasi yang up to date.

Dalam website tersebut terdapat lima menu utama, yaitu berita, forum, tabel-tabel, estimasi dan mitra IHPCP.

BERITA, digunakan untuk menyampaikan hal-hla yang harus diketahui oleh mitar atau masyarakat seperti progam, kebijakan, artikel baik yang dibuat oleh IHPCP, pemerintah atau pihak lain yang berkaitan dengan program penanggulangan HIV/AIDS.

FORUM, dapat digunakna oleh siapa saja yang ingin memberikan komentar atau mengetahui lebih jauh tentang program pertukaran jarum suntik atau masalah lain yang terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS.

TABEL, dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu rekap pengguna jarum suntik, rekap harian, dan rekap perilaku setelah mengikuti program pertukaran jarum suntik.

ESTIMASI, memuat tabel dan estimasi populasi, prevalensi dan jumlah ODHA dari penasun dan pasangan penasun yang bukan pemakai, seluruh indonesia sampai tingkat kabupaten / kota.
MITRA IHPCP, menampilkan profil seluruh mitra yang ikut dalam program pertukaran jarum suntik yang tertdiri dari 65 puskesmas dan 11 LSM, statistik ringkas mitra dan galeri yang menapilkan kegiatan mitra.

Untuk mengetahui lebih lanjut, kunjungi website : www.harmreduction-indonesia.org

Dikirim oleh administrator pada (1445 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 5)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Pernas ke-3, Kesempatan Baik Untuk Menyelaraskan Upaya Bagi Peningkatan Penanggu
Topik: Narkoba
Jakarta, 4 Februari 2007 – Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS (UNAIDS) sepenuhnya mendukung Pertemuan Nasional (Pernas) HIV & AIDS ke-3 di Surabaya, Jawa Timur, sebagai salah satu acara penting dalam agenda nasional tahun ini.

"UNAIDS berharap besar bahwa Pertemuan Nasional ke-3 ini dapat menjadi kesempatan strategis bagi semua untuk duduk bersama-sama dan menyelaraskan segala upaya menuju peningkatan upaya penanggulangan AIDS di Indonesia," Direktur Regional Support Team in Asia and Pacific UNAIDS, Prasada Rao, mengatakan.

Menurut Prasada bahkan dengan tingkat epidemi yang sedemikian terkonsentrasi, Indonesia tetap memiliki kesempatan untuk mengendalikan epidemi AIDS ini selama semua pemangku kepentingan bersedia menyelaraskan program-program mereka terhadap prioritas kepentingan negara.

"Kita tahu bahwa sumber dayanya tersedia, tapi kita harus mencari cara untuk menghindari duplikasi dan pengulangan program yang tidak perlu, serta mencoba untuk berfokus pada intervensi-interven si prioritas yang menghasilkan dampak," kata Prasada.

Pernas yang bertempat di Hotel Shangri-La pada tanggal 4 – 8 Pebruari 2007 akan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan yang bergerak di bidang HIV/AIDS, seperti pemerintah, DPR, praktisi kedokteran, komisi AIDS nasional dan lokal, serta masyarakat sipil, orang yang hidup dengan HIV, perempuan, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, serta waria.

"Ini merupakan kesempatan yang luar biasa bagi berbagai kelompok untuk bersama-sama meninjau ulang upaya penanggulangan AIDS di Indonesia, sehingga tema 'menyatukan langkah untuk memperluas respons' dapat tercapai," Perwakilan UNAIDS di Indonesia, Dr. Jane Wilson, mengatakan.

Ke 10 Ko-sponsor UNAIDS akan juga mendukung beberapa kegiatan tematik dalam Pernas, termasuk mensponsori ikut sertanya para aktivis AIDS, kelompok perempuan, remaja, serta orang yang hidup dengan HIV.

Mereka juga ikut serta membuka stan gabungan dalam pameran, dimana berbagai publikasi terbaru dari lembaga-lembaga PBB sesuai dengan mandatnya masing-masing.

Secara khusus, UNAIDS mendukung diluncurkannya buku "Suzana Murni: Lilin Membakar Dirinya " oleh Yayasan Spiritia. Buku tersebut merupakan biografi Suzana Murni, seorang aktivis perempuan positif dan pendiri Yayasan Spiritia, ditulis oleh pengarang terkenal Putu Oka Sukanta, dengan dana hibah dari Asia Pacific Leadership Forum (APLF).

UNAIDS juga mendukung diselenggarakannya sebuah focus group discussion mengenai generasi pertama upaya penanggulangan AIDS di Indonesia, dengan tujuan untuk memberi wadah bagi masyarakat sipil yang bekerja untuk HIV dan AIDS untuk mengulas perkembangan upaya penanggulangan AIDS di Indonesia selama 20 tahun terakhir.

Selama Pernas, UNAIDS akan juga mendukung sebuah workshop untuk membahas hasil penelitian partisipatif "ODHA dan Akses Pelayanan Kesehatan", serta pengalaman-pengalam an yang diperoleh menuju keterlibatan lebih luas orang yang hidup dengan AIDS (GIPA).

Workshop tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 7 Februari, menghadirkan Rico Gustav, Asisten Hubungan Masyarakat Sipil UNAIDS Indonesia, dan Ardhany Soeryadarma dari masyarakat sipil sebagai pembicara, serta Samuel Nugraha, UNAIDS Indonesia Asisten Kemitraan dan Jejaring, sebagai moderator.

UNAIDS juga mendukung pelaksanaan Kongres Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) ke- 1 pada 31 Januari – 4 Februari, sebagai bagian dari Pernas, dan mengakui peranannya sebagai jejaring pertama bagi perempuan yang hidup dengan HIV dan terdampak oleh AIDS di Indonesia.

Pertemuan Nasional HIV & AIDS ke-3 akan dibuka pada 5 Februari oleh Ibu Negara Kristiani Herawati Yudhoyono dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat serta Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Aburizal Bakrie. Penutupan akan dilaksanakan oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Informasi lebih lanjut:
Elis Widen | UNAIDS Jakarta | tel. +62 21 314 1885 | +62 812 1970 449 | elis.unaids@ undp.org

Tantri Yuliandini | UNAIDS Jakarta | tel. +62 21 314 1885 | +62 818 826 874 | yuliandiniT@ unaids.org

UNAIDS , Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS mempersatukan upaya dan sumberdaya 10 lembaga PBB bagi upaya penanggulangan AIDS global. Para kosponsor termasuk UNHCR, UNICEF, WFP, UNDP, UNFPA, UNODC, ILO, UNESCO, WHO dan World Bank. Berkantor pusat di Genewa, sekretariat UNAIDS juga bekerja di lebih dari 75 negara di seluruh dunia.

Dikirim oleh administrator pada (1160 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 0)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: Biografi Suzanna Murni Diluncurkan pada Pertemuan Nasional HIV & AIDS ke-3
Topik: HIV/AIDS
Surabaya , 5 Pebruari 2007 – Kami adalah bagian dari penyelesaian. Kalimat ini bertalu-talu seperti mantra yang membuat orang-orang seperti tersadar dari mimpi. Mantra itu seperti menggiring saya untuk maju juga, untuk buka mulut, untuk pertama kalinya melakukan apa yang menjadi peran saya dalam penanggulangan AIDS – Suzanna Murni, diambil dari buku " Dua Sisi dari Satu Sosok".

Ia didengung-dengungka n sebagai aktivis AIDS perempuan positif pertama dari Indonesia. Yayasan Spiritia yang didirikannya dipuji sebagai organisasi yang secara konsisten berupaya memberdaya orang yang hidup dengan HIV melalui penguatan jaringan kelompok dukungan sebaya serta pengembangan kapasitas.

Namun sebagian besar aktivis AIDS generasi masa kini mengenal Suzanna Murni dari nama dan reputasinya saja, hanya sebagian kecil saja yang pernah bertemu langsung, ataupun mengenalnya dari dekat. Banyak yang bertanya-tanya siapakah sebenarnya Suzanna Murni, dan apa yang membuatnya begitu istimewa?

Pengarang terkenal dan aktivis AIDS Putu Oka Sukanta mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanya an ini melalui bukunya " Suzanna Murni: Lilin Membakar Dirinya", sebuah kumpulan kesan-kesan dari orang-orang yang mengenal Suzanna dan memahami karyanya baik dari Indonesia maupun dari negara-negara lain.

Sejak tahun 1995 – tahun Suzanna didiagnosa HIV – banyak orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di Indonesia yang muncul bergabung dalam aktivisme HIV melawan stigma dan diskriminasi. Namun, menurut buku Lilin, belum ada satu pun yang dapat menggantikan Suzanna di dalamnya.

"Kita ketemu figure yang tepat untuk menjadi konselor, negosiator dengan orang atau pihak yang berseberangan … Ia bisa menjembatani mereka. Ia bisa bekerja di kalangan elit dan juga di kalangan ODHA," dr. Tuti Parwati, seorang aktivis AIDS yang pada tahun 1995 pernah membawa Suzanna ke Kongres Internasional AIDS di Asia Pasifik (ICAAP) di Chiang Mai, Thailand, mewakili ODHA Indonesia, mengatakan dalam buku tersebut.

Kesan-kesan seperti inilah yang menjadi bagian utama dari buku Lilin. "Sosok Suzanna Murni dibangun dan dihidupkan terus oleh persepsi, pengertian, kesan-celetuk, dugaan, kekaguman, rasa kehilangan dari orang-orang yang pernah mengenalnya, " Putu Oka mengatakan dalam kata pengantar.

"Buku ini menunjukkan bahwa keterlibatan orang yang terinfeksi HIV memiliki dampak yang besar dalam penanggulangan AIDS, apapun bentuk keterlibatannya, baik sebagai pembicara dalam kesempatan advokasi, sebagai pasien yang berdaya, atau sebagai pribadi yang memiliki pengetahuan bagi dirinya sendiri," Siradj Okta dari Yayasan Spiritia mengatakan.

"Harapan kami, buku ini dapat merangsang aktivisme yang semakin kuat oleh berbagai pihak untuk menaruh perhatian terhadap permasalahan HIV/AIDS."

Suzanna Murni: Lilin Membakar Dirinya dibuat dengan dana hibah dari Asia Pacific Leadership Forum (APLF) dengan dukungan dari Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS (UNAIDS).

"Kami merasa sangat bangga telah dilibatkan dalam publikasi buku ini, mengenai seseorang yang sangat luar biasa yang selalu berfokus pada kepentingan orang-orang yang hidup dengan HIV di Indonesia," perwakilan UNAIDS di Indonesia, Dr. Jane Wilson, mengatakan.

APLF ada untuk mempromosikan kepemimpinan di wilayah Asia Pasifik, dan buku Lilin merupakan salah satu proyek luar biasa yang pernah didanai olehnya.

"Buku ini bercerita mengenai orang biasa yang melakukan hal luar biasa. Caranya menjalani hidup mendorong kita untuk berbuat lebih baik," kata Jane.

Suzanna Murni: Lilin Membakar Dirinya akan diluncurkan secara resmi dalam pembukaan Pertemuan Nasional HIV & AIDS ke-3 di Surabaya, Jawa Timur, dan dibagikan secara gratis melalui stan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada pameran di pertemuan tersebut.

Siradj Okta | Yayasan Spiritia | tel. +62 (21) 4225168 | +62 817 818 107 | siradj@spiritia. or.id

UNAIDS , Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS mempersatukan upaya dan sumberdaya 10 lembaga PBB bagi upaya penanggulangan AIDS global. Para kosponsor termasuk UNHCR, UNICEF, WFP, UNDP, UNFPA, UNODC, ILO, UNESCO, WHO dan World Bank. Berkantor pusat di Genewa, sekretariat UNAIDS juga bekerja di lebih dari 75 negara di seluruh dunia.

Dikirim oleh administrator pada (2326 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 1)

    
Pernas HIV-AIDS ke-3: AIDS Epidemic Update, Desember 2006
Topik: Narkoba
Sumber: AIDS epidemic update, Desember 2006

ASIA

Gambaran umum

§ Diperkirakan sekitar 8.6 juta orang hidup dengan HIV di Asia pada tahun 2006 dan sekitar 960,000 orang baru terinfeksi virus tersebut. Sekitar 630,000 orang telah meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan AIDS pada tahun 2006.

§ Jumlah orang yang menerima terapi antiretroviral telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2003, dan mencapai sekitar 235,000 orang pada Juni 2006. Hal ini merupakan sekitar 16% dari jumlah keseluruhan orang yang membutuhkan pengobatan antiretroviral di Asia.

§ Hanya Thailand yang telah berhasil menyediakan pengobatan kepada sedikitnya 50% dari mereka yang membutuhkan.


Perkembangan di negara-negara

§ Di Cina sekitar 650,000 orang hidup dengan HIV pada akhir tahun 2005. Hampir reparoh (44%) dari orang yang hidup dengan HIV di Cina diperkirakan terinfeksi selagi menggunakan napza suntik. Kegiatan seksual berisiko antara orang yang menyuntikkan napza merupakan hal utama yang menyebabkan kemungkinan HIV menyebar di antara dan ke luar kalangan mereka yang menyuntikkan napza.

§ Secara keseluruhan, diperkirakan bahwa separoh dari jumlah keseluruhan infeksi HIV baru di Cina pada tahun 2005 terjadi akibat hubungan seks tanpa perlindungan. Hal ini mengindikasi bahwa HIV telah mulai menyebar dari orang yang berisiko tinggi kepada masyarakat umum, dan akibatnya jumlah perempuan yang terinfeksi HIV juga semakin meningkat.

§ Epidemi HIV di India tampaknya stabil atau semakin berkurang di beberapa tempat, dan pelan-pelan meningkat di tempat lain. Sekitar 5.7 juta orang telah hidup dengan HIV pada tahun 2005. Mayoritas infeksi HIV di India terjadi akibat hubungan seks tanpa perlindungan antara pasangan heteroseksual. Sebagai akibatnya, jumlah perempuan yang hidup dengan HIV pun semakin bertambah (sekitar 38% pada 2005), terutama di daerah pedesaan.

§ Epidemi di Viet Nam terus meningkat, dengan dideteksinya HIV di seluruh 64 propinsi dan seluruh kota. Jumlah orang yang hidup dengan HIV telah meningkat dua kali lipat sejak 2000, dan mencapai sekitar 260,000 pada 2005. Sekitar 40,000 orang terinfeksi HIV tiap tahunnya, kebanyakan akibat penggunaan napza suntik atau di kalangan mereka yang membeli atau menjual seks.

§ Epidemi di Kamboja sepertinya makin stabil, setelah mengalami penurunan secara bertahap sejak akhir tahun 1990-an. Ada indikasi kuat bahwa upaya perubahan perilaku yang dilakukan oleh negara dan lembaga non-pemerintah telah berhasil, khususnya di kalangan industri seks.

§ Di Thailand, sekitar 580,000 orang dewasa dan anak-anak hidup dengan HIV pada akhir tahun 2005. Jumlah infeksi HIV baru tiap tahunnya terus berkurang – sekitar 18,000 infeksi baru terjadi pada 2005, merupakan penurunan 10% dari tahun 2004. Namun, sebagian besar dari mereka yang baru terinfeksi terjadi pada orang-orang yang dianggap berisiko rendah. Sekitar sepertiga dari keseluruhan infeksi baru tahun 2005 terjadi di antara perempuan yang telah menikah, yang kemungkinan besar terinfeksi dari suami mereka.

§ Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki di Thailand tetap dianggap berisiko tinggi terhadap infeksi HIV. Di Bangkok, terdapat prevalensi tinggi di kalangan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki – dari 17% pada 2003 menjadi 28% di 2006. Antara orang yang berusia 22 tahun atau lebih muda, prevalensinya meningkat dari 13% menjadi 22% dalam periode yang sama.

§ Penggunaan napza suntik juga terus menjadi factor risiko infeksi di Thailand. Diperkirakan sekitar 45% dari mereka yang menyuntikkan napza yang mendapatkan perawatan di klinik adalah HIV-positif, dan diperkirakan terjadi infeksi baru sebesar antara 3% - 10% dari mereka yang menyuntikkan napza di Thailand tiap tahunnya. Hal ini sebagian besar diakibatkan karena banyaknya orang yang menyuntikkan napza dengan menggunakan peralatan suntik yang tidak steril (sekitar 35% menurut sebuah penelitian).

§ Di Myanmar terdapat indikasi awal bahwa epidemi ini mungkin mulai berkurang. Tingkat infeksi HIV telah menurun di antara perempuan hamil (1.3% pada 2005, berkurang dari 2.2% pada 2000) dan antara laki-laki yang mencari pengobatan untuk infeksi menular seksual lain (dari 8% pada 2001 menjadi 4% pada 2005). Namun demikian, negara tersebut sedang mengalami epidemi yang serius, dengan perkiraan 360,000 orang yang hidup dengan HIV pada akhir tahun 2005 dan prevalensi HIV orang dewasa sekitar 1.3%. Prevalensi HIV 2.2% di kalangan remaja (15-24 tahun) pada 2005 adalah kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Juga, sekitar 43% pengguna napza suntik dan hampir satu dari tiga (32%) pekerja seks di seluruh negara telah hidup dengan HIV pada 2005.

§ Di Pakistan, tingkat infeksi HIV di kalangan pengguna napza suntik kemungkinan akan menyebabkan penyebaran infeksi ke populasi lain, termasuk ke pekerja seks laki-laki dan perempuan.

§ Terdapat bukti bahwa HIV juga terjadi di Afghanistan, dimana keadaan setempat sangat memungkinkan penyebaran cepat HIV. Epidemi yang mulai muncul di Afghanistan kemungkinan terjadi akibat kombinasi dari penggunaan napza suntik dan seks bayar yang tidak aman.

§ Tingkat infeksi tinggi yang ditemukan di sekitar 140,000-170, 000 pengguna napza suntik di Indonesia mengindikasikan kemungkinan penyebaran HIV yang lebih luas di negara itu. Sekitar 170,000 orang dewasa telah hidup dengan HIV pada 2005.

§ Di Papua, HIV telah menyebar ke populasi umum. Hampir 1% orang dewasa di beberapa desa ditemukan hidup dengan HIV. Faktor utama dalam epidemi lokal ini tampaknya adalah seks komersil tidak aman dalam suatu budaya dimana sebanyak 10%-15% dari laki-laki muda (15-24 tahun) membeli seks.

§ Diperkirakan terdapat 69,000 orang hidup dengan HIV di Malaysia, di mana faktor risiko utama adalah peralatan suntik napza yang terkontaminasi (yang mengakibatkan tiga dari empat infeksi HIV di 2002, kebanyakan di kalangan laki-laki berusia 20-40 tahun).

§ Di Filipina, di mana HIV ditularkan khususnya lewat seks tanpa perlindungan, prevalensi HIV orang dewasa tetap di bawah 0.1%. Sekitar sepertiga infeksi HIV yang didiagnosa sejak 1984 terjadi di kalangan pekerja luar negeri (kebanyakan dari kalangan pelaut dan pembantu rumah tangga). Upaya untuk men-skrining dan mengobati pekerja seks terhadap infeksi menular seksual, disamping upaya pencegahan lain yang dilakukan sejak awal tahun 1990-an kemungkinan telah membantu membatasi penularan virus lewat seks komersil. Kurang dari 1% pekerja seks terinfeksi HIV.

§ Sekitar 17,000 orang dewasa dan anak-anak telah hidup dengan HIV di Jepang pada 2005. Jumlah infeksi HIV yang semakin meningkat ditemukan di kalangan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, atau sekitar 60% dari kasus HIV yang dilaporkan tiap tahunnya.



UNAIDS , Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS mempersatukan upaya dan sumberdaya 10 lembaga PBB bagi upaya penanggulangan AIDS global. Para kosponsor termasuk UNHCR, UNICEF, WFP, UNDP, UNFPA, UNODC, ILO, UNESCO, WHO dan World Bank. Berkantor pusat di Genewa, sekretariat UNAIDS juga bekerja di lebih dari 75 negara di seluruh dunia.

Dikirim oleh administrator pada (949 kali dibaca), (selengkapnya... | Nilai: 1)

    
    ilahi Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
To Facilitate a Network for HIV-AIDS Worker in Indonesia