Sejak 1983, the International Candlelight Memorial And Mobilization, yang lebih dikenal di Indonesia dengan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) diadakan untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena AIDS serta memberi dukungan bagi mereka dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang telah membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya HIV dan AIDS dan telah menggugah berbagai komunitas untuk terlibat dalam upaya pencegahan HIV dan AIDS.
Di Sumatera Barat, MRAN telah dilaksanakan oleh PKBI Sumatera Barat melalui program remajanya CEMARA – Ceria Masa Remaja – sejak tahun 1996. Di tahun ini, PKBI Sumbar menginisiasi peringatan MRAN 2008 dengan membentuk kepanitiaan bersama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa AIESEC Unand, CIMSA – SCORA Fakultas Kedokteran Unand, Lantera MinangKabau dan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Sumatera Barat yang dilaksanakan di Lapangan Parkir Taman Budaya Sumbar – Pantai Padang. Acara ini juga didukung oleh Padang TV, Radio Sushi FM, RRI, Café Damar Shaker, BKKBN Sumbar, KPAK Padang, dan Dinkes Sumbar.
Acara peringatan MRAN 2008 diisi dengan penyebaran leaflet yang berisikan informasi HIV dan AIDS kepada pengunjung Pantai Padang, demo graffiti oleh komunitas Graffiti kota Padang, Musikalisasi Puisi oleh gerakan remaja peduli NAPZA dan HIV-AIDS Cemara PKBI. Selain itu MRAN juga diisi dengan Dialog Interaktif yang menghadirkan nara sumber dari berbagai instansi, yaitu Bapak Magzaiben dan dr. Irene dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, dr. Winarti Saibi selaku sekretaris KPAP Sumbar, Ir. Firdaus Jamal - Dirpelda PKBI Sumbar, dr. Afrida Aziz dari Komisi Penanggulangan AIDS Kota Padang yang juga merupakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, serta T. Surya Mihari dari Lantera MinangKabu.
Dari tahun ke tahun situasi kasus HIV dan AIDS di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan situasi kasus HIV di Sumatera Barat. Dari data Departemen Kesehatan RI, hingga Maret 2008, Sumbar berada di urutan 10 (sepuluh) jumlah kasus tertinggi di seluruh provinsi di Indonesia.
Hingga Maret 2008, data kasus HIV Sumbar sejak 1992 yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, adalah 364 kasus HIV dan 198 diantaranya adalah kasus AIDS. Kota Padang merupakan kota dengan kasus HIV tertinggi dan diikuti setelahnya adalah Kota Bukittinggi. Penggunaan NAPZA jarum suntik dan hubungan seks yang tidak aman menjadi faktor resiko tertinggi dalam penularan HIV.
Terus semakin tinggi dan besarnya gunung es HIV dan AIDS yang tampak dipermungkaan, menunjukkan bahwa upaya berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan status HIV nya ke klinik dan layanan HIV dan AIDS mulai menunjukkan hasil. Saat ini sudah terdapat 2 (dua) buah rumah sakit rujukan HIV di Sumbar, yaitu RS. Dr. M. Djamil Padang dan RS. Ahmad Mochtar Bukittinggi. Selain itu masyarakat juga dapat melakukan pra konseling tes HIV sukarela ke PKBI Sumbar dan Lantera MinangKabau.
Upaya pencegahan penuluran HIV sebenarnya dapat dilakukan dengan cara, tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah atau hanya memiliki satu pasangan seks saja. Jika sudah terlanjur memiliki pasangan seks lebih dari satu orang, maka gunakanlah kondom. Kemudian jangan pernah menggunakan NAPZA terutama NAPZA jarum suntik serta Ibu yang positif HIV tidak memberikan ASI kepada bayinya.
Dengan dilaksanakannya MRAN tahun ini, mengingatkan kepada kita semua bahwa siapa saja bisa terinfkesi HIV dan mengingatkan kepada kita semua untuk tetap selalu menjaga orang-orang disekitar kita, orang-orang yang kita cintai untuk tetap tidak menularkan dan tidak tertular oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia – HIV.
Arfen Drinata
Koordinator Cemara PKBI dan Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPAP) Provinsi Sumatera Barat
Dilaporkan oleh: Arfen Drinata, arfendrinata@gmail.com